Epochtimes.id- Tim penyelamat di Jepang barat melakukan evakuasi korban di balik lumpur dan puing-puing Senin, (9/07/2018). Tim penyelamat berjibaku mencari korban setelah hujan lebat menyebabkan banjir dan tanah longsor yang menewaskan lebih dari 100 orang dan belasan hilang.
Perdana Menteri Shinzo Abe membatalkan kunjungan ke luar negeri karena bencana yang melanda negara itu. Kunjungan ini sebelumnya direncanakan melawat Belgia, Prancis, Arab Saudi, dan Mesir pada Rabu (11/07/2018).
Hujan mengganas di seluruh wilayah yang diguyur oleh hujan. Akibatnya memicu terjadi di sejumlah daerah terputus dari listrik atau air.
“Kami tidak bisa mandi, toilet tidak berfungsi dan persediaan makanan kami mulai menipis,” kata Yumeko Matsui, yang rumahnya di kota Mihara telah kehabisan air sejak Sabtu lalu.
“Air kemasan dan teh botol semuanya hilang dari toko-toko dan toko-toko lainnya,” kata pekerja sekolah perawat berusia 23 tahun itu di sebuah stasiun penyediaan air darurat.
Hampir 13.000 pelanggan tidak memiliki listrik seperti dikatakan perusahaan listrik setempat.
Siaran TV NHK menyebutkan, jumlah korban tewas mencapai setidaknya 110 orang. Banjir ini memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.
Bencana banjir terburuk pada 1983 silam sekitar 117 orang tewas. Seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun termasuk di antara yang tewas.
“Dia selalu datang ke rumah kami untuk bermain game dan hal-hal lain,” kata seorang tetangga remaja kepada NHK. “Sangat menyedihkan.”
Meskipun hujan terus menerus telah berakhir, para pejabat memperingatkan terhadap hujan secara tiba-tiba dan badai petir serta risiko longsor lebih lanjut di lereng gunung curam selama akhir pekan.
Perusahaan industri ikut terkena imbas. Mazda Motor Corp menyatakan terpaksa menutup kantor pusatnya di Hiroshima.
Pembuat mobil, yang menghentikan operasi di beberapa pabrik pekan lalu, mengatakan penghentian akan berlanjut di dua pabrik hingga Selasa ini karena tidak dapat menerima komponen.
Daihatsu turut menghentikan produksi pada Jumat di hingga empat pabrik mereka.
Sedangkan Panasonic mengatakan operasional di satu pabrik tetap tertunda setelah lantai pertama pabrik itu dilanda banjir.
Saham di beberapa perusahaan turun tetapi kerugiannya tidak menurun secara drastis.
“Jika curah hujan mempengaruhi rantai pasokan, akan ada penjualan saham yang terpengaruh,” kata Norihiro Fujito, kepala strategi investasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities. “Kalau tidak, dampaknya akan terbatas,” imbuhnya.
Meskipun perintah evakuasi dikurangi, hampir 2 juta orang diinstruksikan untuk menjauhkan diri dari rumah.
Para ekonom mengatakan terlalu dini untuk menilai dampak keseluruhan tetapi kemungkinan akan terbatas.
“Pola cuaca yang tidak biasa adalah faktor yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan ketika membuat proyeksi ekonomi, tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan,” kata Koya Miyamae, seorang ekonom senior di SMBC Nikko Securities. (asr)
Oleh Kiyoshi Takenaka dan Issei Kato/Reuters via The Epochtimes