Epochtimes.id- Suhu panas dan kekurangan air menimbulkan kekhawatiran terjadinya wabah penyakit pasca Jepang barat dilanda banjir. Korban tewas dari bencana cuaca terburuk selama 36 tahun terakhir mendekati 200 jiwa.
Lebih dari 200.000 rumah tangga tidak memiliki pasokan air selama seminggu setelah hujan lebat menyebabkan banjir dan membuat tanah longsor di Jepang barat. Banjir menyebabkan korban jiwa dan kehancuran rumah-rumah yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Jumlah korban tewas meningkat menjadi 195, dengan belasan orang lainnya masih hilang seperti dilaporkan otoritas Jepang pada Kamis (12/07/2018).
Tayangan televisi menunjukkan seorang wanita tua mencoba tidur berlutut dengan tubuh bagian atasnya di kursi kursi lipat, lengan diletakkan atas matanya untuk menghindari cahaya.
Sejumlah warga di pusat-pusat evakuasi, banyak yang selamat mencoba mendinginkan diri mereka sendiri dengan kipas kertas.
Pasokan air yang terbatas berarti menunjukkan banyak orang-orang tidak mendapatkan cukup cairan dan terancam bahaya menderita heatstroke. Orang-orang juga enggan menggunakan air yang mereka miliki untuk mencuci tangan mereka, menimbulkan kekhawatiran epidemi.
“Tanpa air, kita tidak bisa benar-benar membersihkan apa pun. Kami tidak bisa mencuci apa pun, ”kata seorang pria kepada televisi NHK.
Pemerintah telah mengirim truk air ke daerah bencana, tetapi persediaan masih terbatas.
Lebih dari 70.000 aparat militer, polisi, dan petugas pemadam kebakaran bekerja keras melalui puing-puing dalam pencarian bagi warga yang hilang.
Beberapa tim menyekop lumpur ke dalam karung dan menumpuk karung-karung ke dalam truk. Lainnya menggunakan penggali dan gergaji melalui tanah longsor dan bangunan yang rusak.
Banyak wilayah yang terkubur dalam lumpur berbau seperti limbah dan mulai mengeras, membuat pencarian menjadi lebih sulit.
Bencana yang disebabkan oleh hujan lebat telah menjadi lebih sering di Jepang, mungkin dikarenakan pemanasan global. Puluhan orang tewas setelah hujan yang sama menyebabkan banjir yang sama tahun lalu.
“Ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal bahwa bencana semacam ini karena hujan deras, belum pernah terjadi sebelumnya menjadi lebih sering dalam beberapa tahun terakhir,” kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga pada konferensi pers di Tokyo.
“Melestarikan kehidupan dan eksistensi ketentraman warga negara kami adalah tugas terbesar pemerintah. Kami menyadari bahwa ada kebutuhan untuk melihat langkah-langkah yang dapat kami ambil untuk mengurangi kerusakan dari bencana seperti ini bahkan sedikit,” tambahnya. (asr)
Oleh Kiyoshi Takenaka dan Issei Kato-Reuters via The Epochtimes