Cai Daya
Meneliti peradaban manusia kali ini, mungkin tidak ada satu kota pun yang bisa disamakan dengan Yerusalem, sepanjang tiga ribu tahun sejarah pembangunan kota ini, telah berkali-kali dihancurkan dan mengalami perang, namun tetap bisa berdiri lagi di lokasi semula. Yerusalem terletak di perbukitan dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, bersebelahan dengan tiga lembah dan dikitari oleh gunung yang lebih tinggi, menjadikan Yerusalem sebagai lokasi strategis yang mudah dipertahankan namun sulit diserang. Namun bukan karena letak geografisnya yang strategis, melainkan kekuatan spiritual yang membuat kota ini abadi, karena kota ini merupakan kota suci bagi tiga agama besar.
- Yerusalem milik Agama Kristen: Legalisasi agama Kristen (tahun 313 Masehi) ~ Imperium Arab Kuasai Yerusalem (tahun 63 Masehi).
Mengalami Penindasan di Awal Pendirian Agama
Setelah agama Kristen diusir keluar dari kota kelahirannya, penyebaran agama dilakukan sampai ke berbagai provinsi di kekaisaran Romawi, jumlah umat pun perlahan terus bertambah, bahkan di Semenanjung Italia juga muncul banyak umat Kristiani.
Umat Kristen yang berhati baik, damai dan mencintai keadilan kemudian menjadi duri dalam daging bagi Kaisar Romawi dan menjadi sasaran kebencian sebagian masyarakat, karena sejumlah faktor pada permukaan, juga karena alasan yang lebih mendalam.
Orang Romawi mewarisi kebudayaan Yunani yang mempercayai banyak dewa dan memuja banyak dewa Romawi; selain itu seorang Kaisar Romawi setelah wafat, atau terkadang semasa masih hidup akan dinobatkan sebagai dewa dan dipuja serta disembah dengan dupa.
Di saat wilayah kekaisaran Romawi terus meluas, guna memudahkan pemerintahan, Kaisar Romawi mengharuskan semua bangsa di wilayah kekuasaannya untuk menganut agama Romawi, yakni kepercayaan terhadap banyak dewa Romawi yang juga termasuk para kaisar terdahulu Romawi di dalamnya.
Jadi saat kian lama kian banyak orang tidak sudi lagi menyembah dewa Romawi, juga tidak mengakui kaisar Romawi sebagai dewa, para penguasa yang merasa dirinya adalah dewa, entah karena merasa supremasi kekuasaannya ditantang atau karena merasa “keagungan kedewaan”nya telah dilecehkan, mulai menggunakan kekuasaannya untuk memaksa orang-orang ini untuk mengubah keyakinan mereka.
Seiring dengan semakin kuatnya kekaisaran, masyarakat Romawi juga mulai mengalami perkembangan yang terpolarisasi, kaum bangsawan dan kalangan petinggi yang hidup berfoya-foya, dengan rakyat jelata dan warga non-Romawi yang hidupnya miskin lantaran pungutan pajak berat akibat perang berkepanjangan, kesenjangan kaya dan miskin perlahan menjadi faktor penyebab tidak stabilnya masyarakat.
Pemerintah Romawi tidak kuasa menyelesaikan masalah, terpaksa harus mencari berbacai cara untuk mengalihkan perhatian masyarakat, berbagai kegiatan seperti duel gladiator di arena, pertunjukan di amphitheater pun digelar satu persatu untuk dinimkati seluruh warga, sebagai cara untuk meredakan amarah dan kebencian rakyat.
Ketika acara-acara tersebut tak lagi dapat menyenangkan rakyat, pemerintah Romawi harus mencari sasaran lain, sehingga umat Kristen yang dianggap sebagai duri dalam daging itu pun dijadikan kambing hitam.
Di masa awal berdirinya agama Kristen mayoritas penganutnya adalah rakyat dari kalangan jelata, seperti nelayan, tukang kayu dan petani, mereka melewati hari-hari yang sederhana dan tidak neko-neko (lurus), serta hanya mengejar keadilan dan persahabatan.
Mereka tidak berambisi akan hal duniawi, namun aliran yang jernih ini justru telah merefleksikan betapa sesat dan bobroknya kehidupan masyarakat di masa itu. Umat Kristen pada masa 2000 tahun silam itu pun harus mengalami penindasan yang tragis.
- Penindasan Selama 250 Tahun Terhadap Kepercayaan Lurus
Tahun 64 Masehi terjadi kebakaran besar di kota Roma, menurut penuturan, kobaran api membakar selama tiga hari tiga malam, sekitar seperempat wilayah kota dilalap habis si jago merah. Tidak jelas apa yang menyebabkan kebakaran tersebut, ada yang mengatakan kejadian itu didalangi oleh Kaisar Nero (tahun 54~68 Masehi) karena berniat memfitnah umat Kristen dengan menuduh mereka sebagai pelaku pembakaran, agar dapat dijadikan alasan untuk menangkap dan membunuh umat Kristen.
Setelah itu dalam kehidupan selama 250 tahun, agama Kristen berkali-kali ditindas di dalam wilayah kekuasaan kekaisaran Romawi, banyak umat Kristen yang dihukum mati di kayu salib, atau dimasukkan ke arena gladiator untuk dijadikan mangsa bagi binatang buas, dipenggal atau diikat di atas rangka kayu dan dibakar hidup-hidup.
Cara penindasan sangat keji dan penuh pertumpahan darah, namun tidak mampu menakut-nakuti lebih banyak orang untuk menjadi penganut agama Kristen, jumlah umat Kristen pun tersebar di berbagai kalangan, berbagai bidang dan usaha, kekuasaan gereja pun terus menguat.
Penindasan terakhir yang juga berskala terbesar terjadi pada tahun 303~312 Masehi, di masa pemerintahan Kaisar Diocletianus. Pada masa itu hakim boleh menjatuhkan vonis hukuman mati bagi umat Kristen tanpa harus melalui proses peradilan; pemerintah Romawi bahkan untuk kali pertama meloloskan undang-undang penindasan agama Kristen, di antaranya termasuk membakar kitab-kitab agama Kristen, menyita harta benda milik gereja dan umat, para pemuda Kristen dilarang menjadi personil militer dan lain sebagainya.
- Kaisar Umat Kristen Pertama : Kaisar Konstantinus
Ibu dari Kaisar Konstantin yakni Helena (tahun 250~330 Masehi) adalah seorang penganut Kristen yang taat, karena pengaruh sang ibu, juga karena memenangkan perang perebutan tahta dan berkat bantuan Tuhan, menjadikannya sebagai satu-satunya penguasa kekaisaran Romawi. Ia adalah kaisar Romawi pertama yang menganut agama Kristen, dan juga menjadi raja yang mengakhiri penindasan pemerintah terhadap agama Kristen serta menjadikan agama Kristen sebagai agama yang sah secara hukum di Romawi.
Saat menindas agama Kristen, kekaisaran Romawi juga terjerumus dalam perpecahan dan peperangan. Untuk menyelamatkan situasi yang genting itu, Diocletianus menciptakan badan politik yang dijalankan bersama oleh empat rezim, di saat yang sama juga mengangkat empat orang raja untuk mengendalikan kekaisaran yang sangat besar itu, niat awalnya adalah untuk menghindari terjadinya kerusuhan atau perebutan kekuasaan.
Namun di luar prediksi, sebelum Kaisar Diocletianus wafat telah meletus perang saudara, empat raja saling menyerang, namun karena kekuatan mereka hampir seimbang, maka untuk sesaat belum ada pemenangnya.
Menjelang perang penentuan terakhir, kaisar Konstantin melihat munculnya sebuah kobaran api berbentuk salib di langit, di saat yang sama terdengar suara: “Raihlah kemenangan dengan mengandalkanNya”.
Mendapat berkat ini, Konstantin memerintahkan seluruh pasukannya untuk menggambarkan lambang salib ini di perisai mereka. Pasukan yang mendengar adanya mukjizat itu semakin berkobar semangat juangnya dan berhasil memenangkan peperangan itu. Setelah itu Konstantin berhasil mengalahkan tiga raja lainnya satu demi satu dan menjadi penguasa tunggal di kekaisaran Romawi.
Tahun 313 Masehi Konstantinus mengumumkan “Titah Milan”, yang melegalkan agama Kristen dan sebagai agama yang bebas untuk dianut.
- Yerusalem Menjadi Tanah Suci Agama Kristen
Di tahun 326, Helena yang kala itu berusia 76 tahun pergi ke Yerusalem untuk mencari lokasi di mana Yesus dianiaya, serta menapak-tilas segala sesuatu yang terkait dengan Yesus. Hal ini sangat tidak mudah, karena Yerusalem setelah dipugar total di tahun 135 Masehi pada masa kekuasaan kaisar Hadrianus, kondisi di kota telah berubah sepenuhnya. (baca serial ini di bagian IV “Yerusalem kota Yesus”)
Golgota yang dulunya merupakan arena hukuman (Golgota artinya tanah tengkorak), oleh Hadrianus telah diubah menjadi kuil untuk memuja Dewi Venus.
Sejak bangkitnya Yesus hingga 100 tahun kemudian saat Hadrianus berkuasa, tempat ini selalu menjadi tujuan ziarah bagi umat Kristen. Untuk menghalangi arus massa ziarah yang kian hari kian banyak, Hadrianus pun membangun kuil untuk memuja dewi Romawi yang paling dipujanya tepat di atas tempat suci bagi umat Kristen itu.
Berkat bantuan uskup setempat, Helena berhasil menemukan tempat Yesus disalib dan dimakamkan, selain itu secara ajaib juga ditemukan kayu salib dan juga paku yang digunakan untuk menghukum Yesus. Dia pun membagi kayu salib itu menjadi tiga bagian, satu bagian dibawa kembali ke kota Roma (kini terpajang di Basilica St. Peter berdekatan dengan patung St. Helena), bagian kedua diantarkan ke ibukota baru yang dibangun putranya yakni “Roma Baru” (kemudian dinamakan Konstantinopel, yakni ibukota Turki saat ini Istambul) dan bagian ketiga ditinggalkan di Yerusalem).
Untuk menyimpan dan melindungi tempat dan benda-benda yang terkait dengan Yesus, sebuah gereja yang dibangun menghabiskan waktu 10 tahun telah menggantikan Kuil Venus yang sebelumnya didirikan untuk menutupi tempat ini, meliputi lokasi disalibkannya Yesus, dan juga makam Yesus yang berjarak sekitar 40 meter darinya.
Gereja Makam Suci rampung pada tahun 335 Masehi, dan merupakan gereja Kristen pertama hampir menyamai Gereja Natal di Betlehem (rampung pada tahun 333 Masehi), keduanya rampung dibangun pada masa kekuasaan kaisar Konstantin.
Kaisar Konstantin hanya menjadikan agama Kristen menjadi agama yang boleh dianut secara bebas, dan tidak menetapkannya sebagai agama nasional, atau mendorong warganya untuk beralih meyakini Yesus. Walau demikian, efek popularitas ini membuat agama Kristen berkembang pesat hanya dalam beberapa dekade berikutnya, dari sebuah agama yang dianut oleh sedikit orang dan ditindas menjadi sebuah agama arus utama yang memiliki kekuatan kolosal.
Sebagai kota tempat Yesus disalibkan dan tempat Yesus bangkit, terlebih lagi dengan begitu banyak gereja dan bangunan peringatan lainnya, telah menjadikan Yerusalem sebagai kota Kristen.
Tahun 380 Masehi, Kaisar Romawi Theodosius I (tahun 347~395 Masehi) menetapkan agama Kristen sebagai agama nasional. Setelah ia wafat, kekaisaran Romawi terpecah menjadi dua. Kerajaan Romawi Barat runtuh pada tahun 476 Masehi karena diserang oleh suku barbar dari utara, salah satu tempat suci agama Kristen di Roma itu pun mengalami kerusakan parah.
Wilayah Palestina yang merupakan afiliasi dari kekaisaran Romawi Timur (disebut juga Kerajaan Bizantium) berhasil selamat, Yerusalem terus berkembang di tengah perdamaian dan menjadi tempat suci yang terpenting bagi agama Kristen, yang dikunjungi banyak peziarah dari berbagai negara.
Sebagai kota suci bagi agama Kristen, masa kedamaian kota Yerusalem hanya sampai abad ke-6 saja. Pada tahun 614 Masehi, Dinasti Sasania dari Persia berhasil menduduki kota Yerusalem berkat bantuan orang Yahudi dalam pertempuran Bizantium.
Pada tahun 313 Raja Konstantin melegalkan agama Kristen, juga mengijinkan orang Yahudi masuk ke kota Yerusalem pada hari keruntuhan Yerusalem setiap tahunnya, agar bisa berdoa dan meratap di Tembok Barat. Setelah itu Kerajaan Romawi Timur (Bizantium) membuat kebijakan yang lebih longgar, yakni sejak abad ke-5 mengijinkan bangsa Yahudi berdiam di Palestina, dan tidak memaksa bangsa Yahudi mengubah keyakinan mereka.
Namun bangsa Yahudi yang terdesak oleh agama Kristen yang tadinya dikucilkannya yang justru kemudian menjadi agama arus utama di kota agama Yahudi, merasa tidak rela dengan didudukinya kota kelahirannya oleh agama lain, ditambah lagi dengan adanya perasaan baik dan balas budi pada bangsa Persia yang pernah membebaskan tawanan Babilonia, membuat orang Yahudi memilih untuk membantu Persia dalam pertempuran Bizantium, dan berharap dapat terbebas dari kondisi terjajah tersebut dan kembali memperoleh kedaulatan atas Yerusalem.
Setelah Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Persia, banyak umat Kristen yang ditawan dibawa ke negeri Persia, dan kota itu diberikan bagi bangsa Yahudi, pada saat itu terjadilah penghancuran terhadap gereja Kristen dan dibunuhnya para penganut Kristen, diperkirakan sekitar 90.000 orang menjadi korban.
Bangsa Yahudi pun buru-buru ingin cepat membangun kembali kuil suci, bahkan mengembalikan tradisi persembahan kurban Yahudi. Serangkaian aksi radikal dan kerusuhan membuat Persia menurunkan titah pada tahun 617 Masehi, kembali melarang orang Yahudi memasuki kota Yerusalem.
Tahun 629 Kerajaan Bizantium merebut kembali Yerusalem, walaupun sang kaisar berjanji tidak akan membalas dendam, namun tetap saja terjadi aksi balas dendam oleh bangsa Yunani yang membunuh bangsa Yahudi.
Agama Yahudi dan agama Kristen sama-sama memuja Jehovah, namun tidak bisa akur, bahkan bentrok kedua belah pihak baru bisa diredakan setelah umat Muslim menduduki kota Yerusalem. (SUD/WHS/asr)
Bersambung
Penantian Ilahi di Kota Suci — Kisah 4000 Tahun Yerusalem (1)
Penantian Ilahi di Kota Suci — Kisah 4000 Tahun Yerusalem (2)
Penantian Ilahi di Kota Suci – Kisah 4000 Tahun Yerusalem (3)
Penantian Ilahi di Kota Suci- Kisah 4.000 Tahun Yerussalem (4)