4. Globalisasi Kebudayaan: Sarana Kemanusiaan yang Merusak
Ketika pertukaran kebudayaan dan aliran modal meluas ke seluruh dunia, berbagai bentuk kebudayaan menyimpang yang telah dibangun komunisme selama hampir seratus tahun terakhir – seperti seni modern, sastra, dan pemikiran; film dan televisi; gaya hidup yang menyimpang; utilitarianisme; materialisme; dan konsumerisme — ditransmisikan secara global juga. Selama proses ini, tradisi-tradisi kebudayaan dari berbagai kelompok etnis dilucuti dari bentuk eksternalnya dan dipisahkan dari makna aslinya, menghasilkan kebudayaan-kebudayaan yang bermutasi dan menyimpang. Sementara mencapai tujuan menjadi menguntungkan, kebudayaan-kebudayaan yang menyimpang ini juga dengan cepat merusak nilai-nilai moral manusia di mana pun kebudayaan-kebudayaan yang menyimpang ini menyebar.
Secara global, Amerika Serikat adalah pemimpin politik, ekonomi, dan militer. Kepemimpinan ini mengarah pada kebudayaan Amerika Serikat, yang siap diterima dan diadopsi oleh negara dan wilayah lain. Setelah Revolusi Industri, dengan penurunan kepercayaan agama dalam masyarakat modern dan meningkatnya materialisme yang disebabkan oleh kemajuan teknologi, manusia secara alami menarik hubungan langsung antara kemakmuran materi dengan kekuatan peradaban. Mengambil keuntungan dari tren ini, komunisme memfokuskan sumber dayanya untuk mengalahkan Amerika Serikat melalui cara-cara tanpa kekerasan.
Setelah menyusup dan merusak unit keluarga, politik, ekonomi, hukum, seni, media, dan kebudayaan populer di semua aspek kehidupan sehari-hari di Amerika Serikat, dan setelah menghancurkan nilai-nilai moral tradisional, komunisme memanfaatkan globalisasi untuk mengekspor kebudayaan yang buruk ini.
Dipuji sebagai kebudayaan “maju” dari Amerika Serikat, kebudayaan yang buruk ini menyebar ke seluruh dunia. Dalam sekejap mata, gerakan Menduduki Wall Street dari New York ditampilkan di layar televisi di desa-desa pegunungan terpencil di India. Melalui film-film Hollywood, desa-desa perbatasan konservatif di Yunnan, Tiongkok, belajar bahwa ibu tunggal, hubungan di luar nikah, dan seks bebas adalah aspek kehidupan yang “normal.” Ideologi yang mendasari kurikulum Inti Umum yang diciptakan oleh kebudayaan kaum Marxis hampir secara instan tercermin dalam buku teks sekolah menengah pertama di Taiwan. Dari Ekuador di Amerika Selatan hingga Malaysia di Asia Tenggara dan Fiji di Kepulauan Pasifik, rock-and-roll menjadi sangat populer.
Willi Münzenberg, aktivis komunis Jerman dan salah satu pendiri Sekolah Frankfurt, mengatakan: “Kita harus mengatur dan memanfaatkan para intelektual untuk membuat peradaban Barat berbau busuk. Hanya dengan begitu, setelah para intelektual merusak semua nilai-nilainya dan membuat hidup menjadi tidak mungkin, kita dapat memaksakan kediktatoran kelas sosial bawah.”[29]
Dari perspektif Kiri, “membuat peradaban Barat menjadi berbau busuk” adalah jalan menuju komunisme. Namun, bagi komunisme, yang merupakan kekuatan penggerak, merusak kebudayaan tradisional yang ditinggalkan Tuhan untuk manusia, dan membuat manusia meninggalkan Tuhan, adalah cara untuk mencapai tujuannya menghancurkan umat manusia.
Jika kita menyamakan kebudayaan menyimpang dari Barat dan kebudayaan Partai dari rezim totaliter komunis dengan sampah, maka globalisasi kebudayaan akan seperti angin topan yang menghembuskan sampah itu ke seluruh dunia, tanpa ampun menyapu bersih nilai-nilai tradisional yang ditinggalkan para dewa bagi umat manusia. Di sini, kami telah fokus dalam menjelaskan pengaruh kebudayaan Barat yang menyimpang terhadap dunia. Dalam bab selanjutnya, kita akan menganalisis bagaimana kebudayaan komunis menyebar.
a. Globalisasi Kebudayaan Menghancurkan Tradisi
Kebudayaan setiap etnis di dunia memiliki karakteristik unik dan membawa pengaruh mendalam dari sejarah istimewanya sendiri. Terlepas dari perbedaan antara kebudayaan etnis, semua etnis mengamati nilai-nilai universal yang sama yang dianugerahkan Tuhan dalam tradisi mereka. Setelah Revolusi Industri, perkembangan teknologi membawa kenyamanan dalam kehidupan kita. Karena pengaruh progresivisme, tradisi pada umumnya dianggap terbelakang. Mengukur segala sesuatu berdasarkan modernitas, kebaruan, dan “kemajuan” – atau apakah itu memiliki nilai komersial – sekarang adalah standar.
Nilai-nilai bersama yang disebut terbentuk oleh pertukaran kebudayaan dalam proses globalisasi bukan lagi dari tradisi tertentu — nilai-nilai bersama tersebut adalah nilai-nilai modern. Unsur-unsur dan nilai-nilai yang dapat diadopsi dalam globalisasi adalah menyimpang dari tradisi. Globalisasi hanya memasukkan unsur-unsur yang paling kasar dari warisan kebudayaan yang ada, serta aspek-aspek yang dapat dikomersialkan. Pengertian mengenai “nasib bersama umat manusia” dan “masa depan kita bersama” adalah hasil dari nilai-nilai yang menyimpang. Komunisme mempromosikan nilai-nilai yang tampak mulia, tetapi, pada kenyataannya, bertujuan agar umat manusia meninggalkan nilai-nilai tradisional, menggantikannya dengan nilai-nilai modern yang homogen dan memburuk.
Standar terendah yang diakui secara global selama globalisasi kebudayaan juga ditunjukkan dalam kebudayaan konsumen dan konsumerisme, yang memimpin kebudayaan global. Didorong oleh kepentingan ekonomi, desain produk kebudayaan dan cara kebudayaan dipasarkan sepenuhnya berpusat pada daya tarik naluri konsumen. Tujuannya adalah untuk mengendalikan umat manusia dengan merayu, memanjakan, dan memuaskan keinginan manusia yang dangkal.
Kebudayaan konsumen global menargetkan hasrat umat manusia dan digunakan untuk merusak tradisi dengan berbagai cara. Pertama, untuk menarik jumlah konsumen maksimum, produk kebudayaan tidak boleh menyinggung kelompok etnis apa pun, dalam produksi atau dalam presentasi. Akibatnya, karakteristik unik dan makna kebudayaan etnis dihilangkan dari produk. Dengan kata lain, tradisi diambil dari produk melalui dekulturisasi, atau standardisasi. Populasi yang menerima pendidikan lebih sedikit dan memiliki daya konsumen lebih kecil lebih rentan terhadap model konsumen yang disederhanakan karena biaya untuk membuat produk tersebut lebih rendah. Seiring waktu, melalui globalisasi, populasi ini terbatas pada kebudayaan komersial yang memiliki biaya produksi terendah.
Kedua, globalisasi industri media telah menyebabkan monopoli. Sebagai hasilnya, unsur-unsur komunis dapat dengan mudah menggunakan gagasan yang merosot dari produsen, mengiklankan produk aspek kebudayaan yang dangkal, dan memperkenalkan ideologi Marxis sambil mempromosikannya. Hibridisasi kebudayaan melalui globalisasi menjadi saluran lain untuk mempromosikan ideologi.
Ketiga, kebudayaan global menjadikan konsumerisme sebagai kebudayaan arus utama masyarakat. Iklan, film, acara televisi, dan media sosial terus-menerus membombardir konsumen dengan gagasan bahwa konsumen tidak menjalani kehidupan nyata jika konsumen tidak mengkonsumsi, memiliki produk tertentu, atau berusaha dihibur dengan cara tertentu. Komunisme menggunakan sarana dan hiburan yang berbeda untuk mendorong manusia mengejar kepuasan keinginannya. Ketika manusia menuruti keinginannya, manusia menjauh dari alam spiritual, dan sebelum manusia menyadarinya, manusia telah menyimpang dari kepercayaan Ilahi yang telah lama dipegang dan nilai-nilai tradisional.
Komunisme, yang dengan cepat menyebarkan ideologinya yang memburuk di tengah-tengah globalisasi, juga memanfaatkan mentalitas kelompok. Dengan sering terpapar ke media sosial, iklan, acara televisi, film, dan berita, manusia dibombardir dengan berbagai ideologi anti-tradisional dan tidak alami. Hal ini menciptakan ilusi bahwa ideologi yang memburuk seperti itu mewakili mufakat global. Manusia secara bertahap menjadi mati rasa terhadap kerusakan tradisi yang dimiliki oleh ideologi ini. Perilaku yang menyimpang dipandang sebagai mode, dan manusia didesak untuk bangga pada perilaku yang menyimpang tersebut. Penyalahgunaan zat, homoseksualitas, rock-and-roll, seni abstrak, dan banyak lagi, semuanya menyebar dengan cara ini.
Seni modern merosot dan melanggar semua definisi tradisional estetika. Beberapa orang mungkin menyadari hal ini pada awalnya, tetapi ketika karya seni modern terus-menerus dipamerkan di wilayah metropolitan utama dan dijual dengan harga tinggi, dan ketika media sering melaporkan karya-karya gelap dan aneh, orang-orang mulai percaya bahwa dirinyalah yang tidak lagi menyukai fashion dan selera seninya yang perlu diperbarui. Orang-orang mulai meniadakan perasaannya terhadap keindahan dan menyukai bentuk seni yang memburuk.
Komunisme mampu memanfaatkan mentalitas kelompok karena banyak orang tidak memiliki kemauan yang kuat. Begitu umat manusia menyimpang dari tradisi yang diberikan Tuhan, semuanya menjadi relatif dan berubah seiring waktu. Situasi menjadi matang untuk dieksploitasi.