NTDTV.com
Kementerian Kesehatan RI pada Senin (2/5/2022) melaporkan bahwa pada April tahun ini, 3 orang anak meninggal dunia karena hepatitis akut dengan etiologi yang tidak diketahui. Hal mana membuat jumlah kematian akibat penyakit khusus ini menjadi setidaknya 4 orang.
Penyakit ini pertama kali ditemukan dan diinformasikan oleh Inggris pada April tahun ini, kemudian negara-negara lain melaporkan kasus penyakit serupa yang memicu kewaspadaan negara-negara di seluruh dunia.
Penyakit ini terutama menyerang anak-anak di bawah usia 10 tahun, dengan gejalanya meliputi penyakit kuning, sakit perut, diare, dan muntah. Setelah dilakukan pengujian oleh para ahli medis, mereka berpendapat bahwa kemungkinan besar timbulnya gejala-gejala tersebut bukan karena terinfeksi oleh virus hepatitis A, B, C, D, dan E, sehingga penyebab penyakitnya sampai sekarang masih menjadi misterius.
Pertanyaan mengenai apakah penyakit misterius itu terkait dengan COVID-19 atau vaksinnya telah diajukan oleh para peneliti, karena mereka telah mendeteksi adanya virus komunis Tiongkok (COVID-19) atau adenovirus dalam beberapa sampel kasus.
Namun, Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengatakan bahwa karena epidemi COVID-19 masih belum mereda, jadi tidak heran jika menemukan adanya virus COVID-19 dalam sampel kasus. Departemen itu juga mengatakan bahwa kasus hepatitis tidak terkait dengan suntikan vaksin COVID-19, yang belum diluncurkan secara besar-besaran di kalangan anak-anak.
Pada 29 April, sebuah laporan survei yang dirilis oleh CDC-AS juga pada dasarnya mengesampingkan peran virus COVID-19 tetapi lebih menyoroti peran dari adenovirus.
Menurut peneliti tersebut bahwa objek penelitian adalah 9 kasus infeksi yang ditemukan di berbagai wilayah di Alabama, termasuk 7 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki dengan usia rata-rata 2 tahun yang antar kasusnya tidak memiliki hubungan epidemiologis.
Sebelum sakit, anak-anak ini umumnya dalam keadaan sehat, dan tidak memiliki catatan terkonfirmasi COVID-19. Seperti pasien serupa lainnya, gejala 9 orang anak ini sebelum masuk rumah sakit terutama mengalami diare dan mual, disertai penyakit kuning, dan beberapa pasien juga mengalami gejala saluran pernapasan bagian atas. Seiring perkembangan penyakit, 3 orang anak mengalami gagal hati akut, dan 2 pasien telah menerima transplantasi hati dan telah pulih atau sedang dalam masa pemulihan.
Dalam hal pengujian virus, para peneliti menemukan bahwa tes virus hepatitis umum dari 9 orang anak ini semuanya negatif, tetapi hasil tes adenovirus semuanya positif. Di antara mereka, 5 orang dinyatakan positif adenovirus tipe 41, dan 6 orang memiliki hasil tes virus Epstein-Barr (virus Epstein-Barr) yang positif.
Tetapi karena tes antibodi anak-anak ini menunjukkan hasil negatif, sehingga para peneliti memperkirakan bahwa para pasien ini semestinya bukan terinfeksi dalam waktu dekat. Selain itu, beberapa pasien memiliki riwayat infeksi virus lain seperti coronavirus OC43.
Saat ini, para peneliti di berbagai negara masih melakukan penelitian lebih mendalam tentang patogenesis penyakit ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa mengatakan bahwa meskipun pengawasan sistematis belum dilakukan, tetapi tingkat penularannya mungkin tidak tinggi. Namun demikian, karena etiologi dan tren yang belum diketahui, dan beberapa pasien yang penyakitnya berkembang menjadi parah, sehingga pihaknya belum dapat secara akurat memperkirakan risiko kesehatan penyakit ini terhadap populasi anak-anak Eropa.
Dilihat dari kasus yang telah dilaporkan sejauh ini, waktu munculnya penyakit ini relatif konsisten, dan pasien mulai mengalami sakit pada musim gugur tahun lalu atau musim semi tahun ini.
Data dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris menunjukkan bahwa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus infeksi adenovirus pada anak-anak di negara itu meningkat secara signifikan, terutama pada kelompok anak-anak berusia 1 hingga 4 tahun. Dari kasus hepatitis misterius yang diidentifikasi terhadap anak-anak di Inggris saat ini, tercatat sekitar 77% telah dikonfirmasi positif adenovirus.
Namun, “teori adenovirus” tentang penyebab penyakit ini juga dipertanyakan. Para ahli medis menunjukkan bahwa meskipun di waktu sebelumnya pernah terjadi kasus hepatitis yang diinduksi adenovirus pada anak-anak, itu lebih sering terjadi terhadap anak-anak yang mengalami gangguan kekebalan, namun justru sebagian besar pasien anak-anak saat ini tidak memiliki penyakit yang mendasarinya.
WHO mengatakan bahwa ini mungkin karena tingkat penularan adenovirus yang lebih rendah selama wabah COVID-19, yang menyebabkan peningkatan kerentanan penularan pada diri anak-anak.
Namun, Alastair Sutcliffe, profesor pediatri di UCL menyebut fenomena itu “terlalu kebetulan”. Dia percaya bahwa kekebalan anak-anak terhadap adenovirus telah menurun, atau adenovirus dan COVID-19 bekerja sama untuk menyebabkan hepatitis misterius. Tetapi bagaimanapun juga, dia yakin bahwa ada peran pandemi COVID-19 di dalamnya.
WHO mengatakan bahwa apakah karena peran adenovirus tipe baru atau karena adenovirus dan COVID-19 yang bekerja sama untuk menimbulkan penyakit hepatitis misterius ini, tentu baru dapat diketahui kepastiannya melalui penelitian lebih lanjut. (sin)