Empat Strategi Indo Pasifik Biden Guna Menekan Tiongkok

[Apakah ucapan Biden menggunakan kekuatan untuk melindungi Taiwan bermakna dalam ?]

Fuyao : Ada hal lain yang membuat Tiongkok sangat marah. yaitu saat menjawab pertanyaan wartawan di Jepang pada 23 Mei, Biden mengatakan bahwa jika Tiongkok menginvasi Taiwan, Amerika Serikat akan campur tangan secara militer. Ucapan itu langsung ditanggapi oleh Kementerian Luar Negeri Tiongkok dengan menyebutkan bahwa Tiongkok menyatakan sikap tidak puas terhadap ucapan Biden itu, juga mengatakan bahwa urusan Taiwan adalah murni urusan dalam negeri Tiongkok yang tidak dapat diintervensi oleh kekuatan eksternal.

Faktanya ini adalah ketiga kalinya Biden membuat pernyataan yang jelas, meskipun sedikit berbeda dari strategi ambiguitas yang diterapkan AS terhadap Taiwan selama ini. Jadi setiap kali dia selesai berbicara, pejabat pemerintah AS akan tampil untuk menjelaskan bahwa kebijakan AS tentang masalah Taiwan tidak berubah.

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa ini adalah “gerakan strategi ambiguitas” yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap Taiwan. Walau ada yang mengira bahwa itu mungkin akibat salah ucap atau slip lidah dari seorang Biden mengingat usianya yang sudah lanjut. Tetapi beberapa analis mengatakan bahwa Amerika Serikat telah bergeser dari strategi ambiguitas menjadi strategi kejelasan. Hal ini tampaknya sudah dipraktikkan selama beberapa waktu. Bagaimana Anda melihatnya ?

Mr. Fang Wei : Apakah ini merupakan slip lidah ? Saya pikir ini adalah slip lidah, dan slip lidahnya adalah kebenaran. Ada beberapa faktor yang mendasarinya, pertama-tama, Biden telah mengucapkannya sebanyak 3 kali mulai bulan Agustus dan Oktober tahun lalu, dan sekarang, dia menjelaskan bahwa Amerika Serikat akan membantu membela militer Taiwan.

Setelah itu diucapkan, Dewan Negara keluar dan mengatakan bahwa Tidak, kami tidak mengubah apa pun. Semua orang hanya menduga-duga saja.

Pendapat saya begini, karena Biden memang semakin tua, dan beberapa orang mengatakan bahwa dia memiliki gejala penurunan kemampuan, atau mungkin ada sakit, dan banyak orang menebak-nebak seperti itu. Jadi terjadi slip lidah itu tidak heran, apalagi Biden memang sering mengalami salah ucap. Jadi dalam hal ini, saya pikir Biden kurang memikirkan apakah ucapannya seirama dengan kebijakannya, kata-kata langsung keluar begitu membuka mulut.

Jadi apakah yang dia katakan adalah kebijakan luar negeri resmi pemerintah AS ? Saya pikir itu mungkin tidak, tapi ucapan itu keluar dari mulutnya memang benar. Mengapa ? Karena Biden dikenal semua orang, dia adalah veteran politik Amerika Serikat. Dia pernah menjadi ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Sehingga segalanya tentang kebijakan AS ia tahu. Selain itu, dia juga menjabat sebagai wakil presiden selama 8 tahun, sekarang dia adalah presiden AS.

Pemerintah AS, termasuk masalah pertahanan yang dilakukan Kementerian Pertahanan AS terhadap Taiwan … karena ancaman Tiongkok terhadap Taiwan dalam satu atau dua dekade terakhir sangat nyata, dan semakin nyata sekarang, termasuk Tiongkok mengancam Taiwan dengan bom kosong pada tahun 1990-an semasa era Presiden Lee Teng-hui. Sejak saat itu sudah cukup untuk menilai tentang bagaimana Amerika Serikat memenuhi kewajibannya dalam hal ini.

Tugas Kementerian Pertahanan AS adalah menyiapkan rencana kesiapsiagaan kepada presiden, kepada pemerintah sipil AS. Oleh karena itu, bagaimana militer AS dalam menanggapi serangan Tiongkok ke Taiwan pasti juga mencakup dukungan langsung, dan rencana itu terus diperbarui dari waktu ke waktu, Jadi mereka pasti memiliki rencana itu.

Bagi Biden yang telah menjadi wakil presiden selama 8 tahun, presiden selama 2 tahun, ditambah lagi dengan sebagai ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat selama bertahun-tahun, ia pasti tahu benar kartu yang digenggam oleh Amerika Serikat.

Jadi saya lihat masalah kecenderungan, karena ada kecenderungan untuk membela Taiwan dalam diri Biden, jadi langsung keluar begitu membuka mulutnya. Dia tidak sepenuhnya ingin berbohong, karena dia pasti sudah tahu rencana apa yang dimiliki AS di baliknya, jadi apa yang ia katakan itu juga merupakan fakta.

Tetapi mengapa Dewan Negara terpaksa keluar untuk mengklarifikasi itu ? Karena sebagaimana yang saya katakan Dewan Negara … dia itu dijuluki orang dalam sebagai “reaksioner” yang selalu menentang tindakan, menentang perubahan, dan tugasnya adalah mempertahankan status quo. Jangan membuat kapal ini berguncang, yang terbaik adalah biar kapal diplomatik dapat berlayar dengan stabil tanpa mengalami hambatan yang berarti. Pokoknya jangan macam-macam, tidak perlu adanya inovasi. Itulah sikap sangat, sangat konservatif yang dia miliki.

Oleh karena kebijakan AS terhadap Taiwan dan Tiongkok belum diumumkan secara formal,  (belum) mengubah strategi ambiguitas menjadi strategi kejelasan, maka dewan negara merasa perlu dipertahankan. Karena itu Biden … seperti yang kita ketahui, apa yang kita lihat sebagai ucapan hasil slip lidahnya Biden di masa lalu, setelah kita tinjau kembali ternyata banyak benarnya. Apakah di masa kampanye atau kesempatan lainnya, kata-kata yang keluar dari slip lidahnya justru merupakan kenyataan.

Jadi kali ini, saya pikir apa yang dia katakan juga benar, hanya saja itu bukan kebijakan resmi, jadi saya pikir beberapa tebakan, saya pikir tebakan itu semua benar, ini pendapat saya.

Fuyao : Mr. Wang He, apa pendapat Anda tentang pernyataan Biden kali ini ?

Mr. Wang He : Biden sebagai seorang tokoh politik, meskipun ia mendapatkan sejumlah kritikan dari dunia luar, tetapi saya percaya bahwa ada pertimbangan politik tertentu dalam pernyataannya tentang masalah-masalah besar itu. Tampaknya Biden ingin menggunakan cara ini untuk mengungkapkan penolakannya terhadap tindakan dan kebijakan Tiongkok.

Kita tahu bahwa antara Biden dengan Tiongkok memiliki hubungan yang rumit dan sudah cukup lama. Setelah menjabat presiden, Biden pernah mengatakan satu hal, yakni tidak terlihat ada unsur demokrasi dalam diri seorang Xi Jinping, dan kemudian mengatakan bahwa Xi Jinping pernah mengatakan kepadanya secara pribadi bahwa cepat atau lambat Amerika Serikat akan menjadi milik Tiongkok.

Oleh karena itu, ia tidak pernah kehilangan rasa waswas dalam menghadapi karakter pemimpin komunis Tiongkok semacam itu, terutama ketika pemilu AS, Tiongkok sengaja mengekspos beberapa isu keluarga Biden. Hal-hal pribadi ini, tentu saja akan berdampak psikologis terhadap diri Biden.

Masih ada satu hal lain, yaitu situasi yang terjadi akibat perang Rusia – Ukraina saat ini yang membuat dunia terkejut, betapa tak berdayanya Rusia menghadapi Ukraina. Secara umum situasi ini memberikan kepercayaan diri kepada pemerintahan Biden. Dari perpektif perang Rusia – Ukraina untuk melihat Tiongkok, orang akan bertanya-tanya, apakah Tiongkok juga bernasib sama dengan Rusia ? Cuma kuat di gembar-gembor tetapi lemah dalam kenyataannya ?

Selain itu, dalam penilaian tentang strategis dalam menghadapi Tiongkok di Amerika Serikat selalu ada dua pandangan yang berlawanan satu sama lain : Satu pandangan adalah Tiongkok sedang berkembang pesat, paling cepat PDB tahun 2028 akan melampaui Amerika Serikat. Oleh karena itu, dalam menghadapi kebangkitan Tiongkok yang begitu kuat dan tak tertahankan, Washington perlu mengambil langkah mundur dengan tepat, harus menjaga hubungan baik dengan Beijing, menghindari konflik yang meledak-ledak. Ini tidak menguntungkan bagi Amerika Serikat. Ini merupakan satu aliran pemikiran.

Sedangkan aliran pemikiran lainnya percaya bahwa Tiongkok sendiri sedang menghadapi terlalu banyak masalah yang cepat atau lambat dapat meledak. Tiongkok tidak mungkin melampaui Amerika Serikat. Masalah yang dihadapi kita sekarang adalah kapan sejumlah masalah itu meledak yang menyebabkan Partai Komunis Tiongkok runtuh. Ancaman dari keruntuhan PKT bahkan mungkin lebih besar dirasakan oleh AS daripada ancaman Tiongkok yang dihadapi sekarang.

Kedua aliran pemikiran ini ada di kalangan politik Amerika Serikat, sehingga AS dalam isu menghadapi kebangkitan Tiongkok di satu sisi muncul keraguan apakah jebakan Thucydides dapat dihindari atau tidak, dan bagaimana cara menghindarinya ? Biden pernah mengatakan bahwa dirinya tidak menginginkan perang, pagar pembatas antara Tiongkok dengan Amerika Serikat perlu dibangun. Di sisi lain, mereka juga tahu bahwa Tiongkok memiliki banyak kelemahan, tetapi tidak menghendaki Tiongkok runtuh seketika. Oleh karena itu, dalam beberapa hal, AS tidak bersedia membantu Tiongkok untuk “menusuk pecah balon”, membiarkan PKT runtuh.

Masalah terbesar yang paling ditakuti pemerintahan Biden saat ini adalah otoritas Tiongkok bertindak secara membabi buta dan tidak rasional seperti Putin yang membuat kacau situasi. Dalam keadaan ini, Amerika Serikat terpaksa memberikan tekanan besar kepada Tiongkok agar duduk manis tidak bertindak yang merisaukan.

Jadi dari latar belakang yang saya sebutkan tadi saya berpendapat bahwa pernyataan Biden tidak dibuat begitu saja, tetapi masih melalui pertimbangan-pertimbangan.

FOKUS DUNIA

NEWS