Dan M. Berger/Jackson Richman/ Ryan Morgan/ Andrew Thornebrooke
Iran meluncurkan serangan rudal yang disebut-sebut sebagai serangan rudal balistik terbesar dalam sejarah ke Israel pada Selasa 1 Oktober 2024. Israel melaporkan hanya ada sedikit kerusakan dan korban jiwa setelah berhasil menembak jatuh sebagian besar rudal tersebut.
Hampir seluruh penduduk Israel yang berjumlah 10 juta jiwa mengungsi ke tempat perlindungan bom dan ruang aman selama sekitar sejam pada 1 Oktober malam setelah Iran meluncurkan rentetan rudal, yang menurut pimpinan Israel berjumlah 181 rudal. Warga Israel tetap berada di sana hingga Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan peringatan.
Dua kapal perusak angkatan laut AS, USS Cole dan USS Bulkeley, membantu menembak jatuh rudal-rudal Iran yang mengarah ke Israel, ujar juru bicara Pentagon, Mayor Jenderal Pat Ryder, kepada para wartawan di Departemen Pertahanan AS. Kedua kapal tersebut meluncurkan sekitar selusin misil pencegat, katanya. Akan tetapi, ia menolak menyebutkan jenis amunisi yang digunakan.

Juru bicara Pentagon juga mengatakan bahwa pasukan Iran meluncurkan sekitar dua kali lebih banyak rudal balistik ke arah Israel pada Selasa, dibandingkan dengan yang dilakukan oleh rezim tersebut pada serangan 13 April.

Serangan Iran ini terjadi setelah serangkaian serangan Israel yang ditujukan ke Hizbullah, proksi Iran di Lebanon. Dua minggu lalu, ribuan pager dan radio genggam milik para pemimpin dan perwira Hizbullah meledak, menewaskan beberapa orang dan melukai atau mencederai ratusan lainnya.
Pada 27 September, angkatan udara Israel menewaskan Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok teror tersebut selama lebih dari 30 tahun, dengan sebuah serangan udara ketika ia bertemu dengan para petinggi Hizbullah di sebuah bunker bawah tanah di benteng pertahanan Hizbullah di pinggiran kota Beirut, Lebanon.
Serangan udara lainnya menargetkan para komandan Hizbullah. Namun, serangan-serangan lainnya menghancurkan sejumlah besar, sebanyak setengah dari persediaan rudal Hizbullah yang tangguh dan disediakan oleh Iran. Pada 30 September, Israel memulai operasi darat di perbatasan utara melawan Hizbullah.
Serangan rudal Iran adalah respons atas semua serangan dan pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh pada 31 Juli, yang diduga dilakukan oleh Israel, meskipun Israel tidak bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Dia berada di Teheran untuk menghadiri pelantikan presiden baru Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang merupakan pasukan elit Iran menyatakan bahwa mereka meluncurkan serangan 1 Oktober dan memperingatkan bahwa jika Israel membalas, tanggapan Teheran akan “lebih menghancurkan dan merusak,” demikian laporan TV pemerintah Iran.
“Setelah periode menahan diri, Iran telah menargetkan jantung wilayah pendudukan dengan puluhan rudal setelah syahidnya [pemimpin Hamas] Ismail Haniyeh … intensifikasi serangan rezim Zionis di Lebanon dan Gaza, syahidnya pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan Komandan Garda Revolusi Iran, Abbas Nilforoushan,” demikian pernyataan IRGC.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa peluncuran rudal tersebut diperintahkan oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tetap berada di lokasi yang aman sejak serangan udara Israel di Beirut menewaskan Nasrallah pekan lalu.
Penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, mengatakan bahwa Washington belum menerima laporan mengenai korban dari pihak Israel, namun sedang menyelidiki laporan mengenai tewasnya seorang warga Palestina di Yerikho.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menilai serangan 13 April sebelumnya terdiri dari sekitar 120 model rudal balistik lawas, lebih dari 30 rudal jelajah yang bergerak lebih lambat, dan sekitar 170 drone penyerang satu arah.
Sebagai perbandingan, IDF sejauh ini memperkirakan bahwa 181 rudal balistik ditembakkan ke arah Israel pada Selasa.
Iran mengklaim bahwa serangan terbarunya menggunakan rudal balistik “Fattah-2”.
Juru bicara Pentagon mengatakan bahwa serangan pada Selasa itu bukan sekadar unjuk kekuatan, tetapi dimaksudkan untuk menimbulkan kerusakan.
“Anda tidak akan meluncurkan rudal sebanyak itu ke sebuah target tanpa maksud untuk menghantam sesuatu,” kata Ryder.
IDF Melaporkan Beberapa Rudal Iran Hantam Israel Tengah dan Selatan
Menyusul rentetan rudal Iran, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Brigjen Daniel Hagari melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Israel “melakukan cukup banyak pencegatan,” tetapi mengatakan beberapa daerah di Israel tengah dan selatan terkena dampaknya.
Hagari mengatakan bahwa IDF masih mengevaluasi situasi namun tidak mengetahui adanya korban jiwa dari serangan Iran tersebut.
Israel akan Menanggapi Serangan Rudal Iran dengan Caranya Sendiri
Militer Israel menyatakan mereka akan membalas Iran atas serangan rudal terhadap negara Yahudi tersebut, tetapi tidak mengatakan kapan atau bagaimana akan melakukannya.
“Kami membuktikan kekuatan kami untuk mencegah musuh mencapai tujuannya, dengan menggabungkan perilaku sipil yang patut dicontoh dan sistem pertahanan udara yang kuat,” kata Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Mayor Jenderal Herzi Halevi, setelah menilai situasinya.
“Kami akan memilih kapan harus menagih harga, dan membuktikan kemampuan serangan kami yang tepat dan mengejutkan, sesuai dengan panduan eselon politik,” kata Halevi dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara IDF, Daniel Hagari.
Uni Eropa Mengutuk Serangan Iran dan Menyerukan Gencatan Senjata Regional
Uni Eropa mengutuk serangan rudal Iran terhadap Israel pada Selasa dan menyerukan gencatan senjata di Timur Tengah.
“Uni Eropa mengutuk dengan sangat keras serangan Iran terhadap Israel,” Josep Borrell, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, mengunggah sebuah pernyataan di akun X.
“Siklus serangan dan pembalasan yang berbahaya ini berisiko [menjadi] tidak terkendali. Diperlukan gencatan senjata segera di seluruh wilayah,” kata Borrell.
“Uni Eropa tetap berkomitmen penuh untuk berkontribusi dalam mencegah terjadinya perang regional.” (asr)