Rencana Stimulus Beijing Gagal Menggairahkan Pasar, Harga Minyak Turun, Dolar AS Menguat

EtIndonesia. Karena rencana stimulus Beijing gagal mendorong pasar, investor merasa kecewa dengan prospek pertumbuhan permintaan bahan bakar di negara konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Pada hari Senin (11/11), harga minyak global turun sekitar 2%, sementara dolar AS menguat sedikit.

Pada pukul 14:44 waktu Greenwich, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,83 dolar AS, atau 2,48%, menjadi 72,04 dolar AS per barel. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 1,91 dolar AS, atau 2,71%, menjadi 68,47 dolar AS per barel. Kedua indeks tersebut turun lebih dari 2% dari hari Jumat (8 November).

Sementara itu, indeks dolar AS, yang merupakan ukuran nilai dolar AS relatif terhadap sekeranjang mata uang asing, pada hari Senin melampaui titik tertinggi yang dicapai setelah pemilihan presiden AS pada 5 November, seiring pasar menunggu kejelasan kebijakan AS di masa depan.

Penguatan dolar AS membuat komoditas yang dihargai dalam dolar AS, seperti minyak, menjadi lebih mahal bagi orang yang memegang mata uang lain, dan sering kali memberikan tekanan pada harga.

Menurut data yang dirilis pada Sabtu (9/11), meskipun Beijing mencoba menerapkan kebijakan untuk merangsang ekonomi, Indeks Harga Konsumen (CPI) Tiongkok pada Oktober naik pada tingkat terendah dalam empat bulan, sementara deflasi harga produsen semakin memburuk.

Achilleas Georgolopoulos, analis pasar dari perusahaan broker XM, berkomentar: “Data inflasi Tiongkok kembali lemah, pasar khawatir tentang deflasi, khususnya perubahan tahunan dalam Indeks Harga Produsen yang lebih lanjut jatuh ke zona negatif… (ini berarti) momentum ekonomi Tiongkok masih negatif.”

Analis dari perusahaan pialang minyak PVM, Tamas Varga, menyatakan bahwa langkah-langkah dukungan terbaru tidak akan mengembalikan pertumbuhan permintaan minyak Tiongkok atau impor minyak mentah. 

“Setelah pemilihan presiden AS pekan lalu, perhatian orang-orang perlahan-lahan kembali ke fundamental,” kata Varga.

Presiden terpilih Donald Trump, yang selama kampanye berjanji untuk meningkatkan tarif impor guna meningkatkan ekonomi AS, telah menambah ketidakpastian pada prospek ekonomi global. Di sisi lain, ada ekspektasi bahwa dia mungkin meningkatkan sanksi terhadap negara-negara produsen minyak OPEC seperti Iran dan Venezuela serta memotong pasokan minyak global, yang sebagian besar menyebabkan harga minyak naik lebih dari 1% pekan lalu.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine