Kursk Dibom Hebat: Ukraina dan Inggris Hajar Infrastruktur Militer Rusia dengan Rudal Storm Shadow

EtIndonesia. Dalam serangkaian serangan terkoordinasi, pasukan Ukraina yang dipimpin oleh U. Ellicott berhasil menyerang Pangkalan Udara Kursk serta beberapa bandara lainnya di Rusia. Serangan ini disertai dengan bom drone dan dukungan rudal Storm Shadow yang dikirim oleh Inggris. Meskipun militer Rusia telah mengerahkan lebih dari enam puluh ribu pasukan di Kursk, kendali penuh atas daerah tersebut masih belum tercapai. Taktik gerilya militer Ukraina terbukti efektif dalam mempertahankan kekuatan mereka.

Serangan Terhadap Infrastruktur Militer Rusia

Militer Rusia yang menggunakan pangkalan di Kursk menjadi sasaran utama serangan drone militer Ukraina. Serangan ini menyebabkan kawasan industri Moskow terbakar seluas tiga ribu meter persegi. Selain Kursk, Pelabuhan Kherson juga menjadi target serangan militer Ukraina, memperlihatkan fokus utama Ukraina pada zona perang Rusia.

Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa Korea Utara tengah memperluas pabrik senjata untuk mendukung militer Rusia, sementara Moskow merekrut milisi Houthi dari Yaman untuk turut serta dalam pertempuran. 

Jerman turut mendukung Ukraina dengan mengirimkan dua set sistem pertahanan udara Iris-T, dan NATO menyediakan rudal jarak menengah. Inggris juga meningkatkan sanksi terhadap armada minyak Rusia dan Moskow berencana menempatkan rudal di Asia.

Serangan Rudal Adkins dan Storm Shadow

Setelah Amerika Serikat mencabut pembatasan penggunaan rudal jarak jauh oleh Ukraina, serangan ke wilayah daratan Rusia menjadi semakin intens. Pada malam 26 November, militer Ukraina menembakkan 13 rudal Adkins ke beberapa target militer di Kursk, termasuk pangkalan udara Khalino. Serangan ini menyebabkan ledakan hebat dan kebakaran yang meluas.

Media Rusia Astro melaporkan serangan tersebut dengan jumlah rudal yang berbeda, menyatakan hanya tujuh rudal Adkins dan dua belas drone yang ditembakkan, dengan satu rudal mengenai bandara Khalino. Namun, analisis independen menunjukkan kerusakan yang jauh lebih besar dibandingkan laporan resmi Rusia.

Selain Adkins, rudal Storm Shadow yang dikirim oleh Inggris juga tiba di Ukraina. Rudal jelajah ini memiliki jangkauan lebih dari 250 kilometer dan mampu menyerang target dengan presisi tinggi. 

Bloomberg melaporkan bahwa Inggris telah mengirim puluhan rudal Storm Shadow secara diam-diam bersama personel militer lainnya, menanggapi kekurangan stok rudal jarak jauh Ukraina.

Dukungan Internasional dan Respon NATO

Dalam pertemuan tahunan ke-70 Parlemen NATO di Montreal, Kanada, NATO menyetujui resolusi yang menyerukan peningkatan dukungan kepada Ukraina. Resolusi ini mencakup penyediaan senjata canggih, sistem pertahanan udara, serta rudal jarak menengah dengan jangkauan antara 1.000 hingga 5.500 kilometer. NATO juga mendorong Ukraina untuk bergabung dengan aliansi tersebut.

Jerman, sebagai bagian dari NATO, mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara Iris-T ke Ukraina. Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan dukungan teguh terhadap Ukraina tanpa mengungkapkan jumlah rudal Storm Shadow yang telah dikirimkan.

Perkembangan di Medan Perang dan Geopolitik

Di medan perang, pasukan militer Ukraina melakukan serangan balik di sekitar Martinovka dan Kruglek, menunjukkan efektivitas taktik gerilya mereka. Pasukan Rusia, meskipun telah mengerahkan lebih dari 60.000 pasukan di Kursk, masih belum mampu mengendalikan wilayah tersebut secara efektif. Penambahan pasukan Rusia diperkirakan akan meningkatkan konsumsi dan kerugian mereka, sementara Ukraina terus mempertahankan posisi mereka dengan serangan lincah.

Sementara itu, militer Ukraina juga menyerang bandara Hanskaia di wilayah Adyghe dan kota industri Taganrog di Rostov. Serangan ini menargetkan fasilitas militer penting seperti gudang senjata, helikopter, dan produk minyak, memperlemah rantai pasokan militer Rusia.

Dukungan Rusia dari Korea Utara dan Milisi Houthi

Laporan dari Reuters menunjukkan bahwa Korea Utara tengah membangun fasilitas manufaktur rudal di Hamheung, Provinsi Hamgyong Namdo, untuk mendukung militer Rusia. Rudal KN-23 yang diproduksi di fasilitas ini menggunakan komponen dari produsen Barat seperti Amerika Serikat, Belanda, dan Inggris. Selain itu, Rusia juga bekerja sama dengan milisi Houthi di Yaman, merekrut ratusan anggota sebagai tentara bayaran dalam perang Rusia-Ukraina.

Ancaman Nuklir dan Kebijakan Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin telah menandatangani undang-undang kebijakan dasar pencegahan nuklir yang baru, yang memperingatkan penggunaan senjata nuklir terhadap negara non-nuklir jika Ukraina terus menggunakan senjata jarak jauh dari Barat. Wakil Ketua Komisi Keamanan Rusia, Medvedev, menyatakan bahwa Rusia mempertimbangkan transfer teknologi nuklir ke negara-negara seperti Iran, Korea Utara, dan Kuba untuk meningkatkan keamanan nasional.

Penempatan Rudal dan Teknologi Militer

Rusia berencana untuk menempatkan rudal jarak menengah dan pendek di Asia sebagai respons terhadap potensi penempatan rudal Amerika Serikat di wilayah tersebut. Selain itu, Rusia juga berencana memberikan teknologi kapal selam terbaru kepada Tiongkok untuk menyeimbangkan keunggulan bawah laut Angkatan Laut Amerika di Pasifik.

Kesimpulan

Konflik Rusia-Ukraina terus meningkat dengan serangan terkoordinasi dari Ukraina yang didukung oleh bantuan militer internasional. Dinamika geopolitik semakin kompleks dengan keterlibatan negara-negara seperti Korea Utara dan milisi Houthi. Dengan dukungan kuat dari NATO dan negara-negara Barat, Ukraina terus berusaha mempertahankan kedaulatan dan menyerang infrastruktur militer Rusia. Sementara itu, Rusia meningkatkan upaya mereka untuk mempertahankan wilayah yang dikuasai dan mencari dukungan dari sekutu tradisionalnya.

FOKUS DUNIA

NEWS