EtIndonesia. Konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina kini memasuki hari ke-1008, dengan situasi di berbagai lini pertempuran yang semakin kompleks dan dampak ekonomi yang signifikan bagi kedua belah pihak.
Mundurnya Pasukan Rusia dari Kupyansk
Pada tanggal 26 November 2024, laporan dari Deep State dan beberapa saluran Telegram Rusia mengungkapkan bahwa pasukan Rusia telah dipaksa mundur dari Kupyansk setelah serangan singkat. Militer Ukraina mengonfirmasi bahwa Tentara Bersenjata Ukraina telah menyelesaikan pembersihan Kupyansk di wilayah Kharkiv, menjadikan kota tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali mereka. Sebaliknya, saluran Telegram Rusia menyoroti kegagalan upaya Rusia merebut Kupyansk sebagai sebuah aib, sementara kerugian pasukan Rusia di garis depan musim gugur ini melebihi semua perkiraan awal.
Seorang blogger militer Rusia menyatakan bahwa meskipun pasukan Ukraina kekurangan personel, kurangnya perlindungan sistem elektronik membuat infanteri dan peralatan Rusia rentan terhadap serangan drone FPV, menyebabkan banyak kerugian sebelum mencapai posisi musuh.
Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Rob Bauer, menambahkan bahwa meskipun jumlah pasukan Rusia meningkat sejak Februari 2022, efektivitasnya menurun drastis akibat peralatan dan pelatihan yang buruk.
Kondisi Darurat di Garis Depan Pasukan Rusia
Selain kerugian dalam pertempuran, pasukan Rusia juga menghadapi masalah logistik yang serius. Perwira Rusia, Platon Mamatov, melaporkan di Telegram bahwa banyak tentara Rusia meninggal akibat konsumsi air beracun. Pasukan Rusia di garis depan sering kali kekurangan air minum yang aman dan harus mengandalkan bantuan sukarelawan atau membeli sendiri, yang sering kali tidak layak diminum. Sampai saat ini, empat personel telah gugur karena keracunan air.
Strategi dan Serangan Balik Ukraina
Blogger militer Ukraina, Kyrylo Salatov, mengungkapkan bahwa Panglima Pasukan Bersenjata Ukraina, Jenderal Alexander Hirski, dalam sebuah pertemuan, menyatakan bahwa di arah Pokrovsk, rasio kekuatan antara pasukan Rusia dan Ukraina adalah 5 banding 1. Gencarnya serangan Rusia telah menyebabkan kerugian besar, melebihi perkiraan, dan pasukan musuh kekurangan cadangan untuk menggantikan prajurit yang gugur. Kini, Jenderal Hirski merumuskan rencana serangan balik untuk mengambil inisiatif dan menghentikan musuh, menegaskan bahwa pertahanan saja tidak akan membawa kemenangan.
Perlombaan Senjata dan Dukungan Internasional
Di arah Kursk, rasio kerugian mencapai 7 banding 1 bagi Rusia, di mana setiap tentara Ukraina yang gugur menyebabkan tujuh tentara Rusia terbunuh. Pasukan Rusia, didukung oleh pasukan dari negara ketiga, terus menyerang Kursk, meski wilayah kontrol pasukan Ukraina di sana telah berkurang lebih dari 40% akibat serangan tanpa perhitungan dari Rusia.
Selain itu, Institute for War Studies melaporkan bahwa pasukan Rusia semakin mendekati Novohirky dan garis logistik penting Ukraina di Donetsk. Potensi serangan terhadap Zhabroze juga meningkat, dengan pasukan Ukraina melakukan persiapan aktif untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
Kemajuan di Kurlakovo dan Pengepungan Novohirky
Pada tanggal 25 November 2024, Brigade Kelima Grup Timur pasukan Rusia berhasil menyerbu pusat kota Kurlakovo dan menurunkan bendera di alun-alun pusat. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa situasi di Kurlakovo sangat sulit, dengan pasokan logistik pasukan Ukraina terputus dan ancaman penguasaan penuh oleh Rusia.
Di Desa Red Army, pasukan Ukraina melakukan serangan balik kecil, menghancurkan kendaraan lapis baja BMP-3 Rusia. Pasukan Rusia juga menguasai sisa wilayah Grikholevka dan bergerak menuju Pustyanka, serta mengontrol jalan utara Sornkyvka menuju Zorya.
Dampak Ekonomi di Rusia
Perang ini juga berdampak besar pada ekonomi Rusia. Pasar saham Moskow mengalami penurunan drastis sebesar 30% dalam enam bulan terakhir, sementara rubel terus mengalami depresiasi cepat tanpa tanda-tanda perbaikan. Pada 26 November, nilai tukar satu dolar AS mencapai 107,75 rubel, dan cadangan devisa Bank Sentral Rusia hampir habis. Suku bunga acuan mencapai 21%, dan suku bunga pinjaman melebihi 28,1%, dengan kemungkinan kenaikan lebih lanjut.
Gubernur Bank Sentral Rusia, Nabi Ulinna, menyatakan bahwa hampir semua sumber daya ekonomi telah habis, menyebabkan inflasi tinggi dan harga barang melonjak tajam. Meskipun Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim adanya kemenangan militer, pasar tidak mempercayainya karena kekhawatiran akan berlanjutnya keruntuhan ekonomi.
Dukungan Internasional kepada Ukraina
Pertemuan Menteri Luar Negeri G7 di Roma pada 25 November 2024 membahas bantuan kepada Ukraina. Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, menekankan perlunya perubahan arah konflik dan peningkatan dukungan militer dari negara-negara Barat. Negara-negara seperti Spanyol, Inggris, Kanada, dan beberapa negara Eropa lainnya telah mengumumkan pengiriman senjata dan bantuan militer tambahan, termasuk sistem pertahanan udara, rudal Tomahawk, dan amunisi.
Selain itu, Ukraina menerima dukungan finansial melalui penghapusan sebagian hutang oleh Amerika Serikat dan bantuan ekonomi dari berbagai negara. Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, menyatakan bahwa Inggris akan fokus pada pelatihan militer Ukraina daripada mengirim pasukan darat secara langsung.
Ancaman Nuklir dan Ketegangan Global
Penyediaan senjata nuklir kepada Ukraina menjadi topik hangat, dengan Rusia mengecam keras langkah tersebut. Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa ide tersebut sangat absurd dan akan dianggap sebagai ancaman serius. Sementara itu, pasukan Ukraina terus melakukan serangan terhadap infrastruktur militer Rusia, termasuk serangan terbaru di Bandara Berbek di Sevastopol, Krimea.
Perkembangan di Wilayah Lain dan Upaya Perdamaian
Konflik juga meluas ke Suriah, dengan pasukan pemerintah Assad yang didukung Rusia menghadapi pemberontak yang didukung Turki di sekitar Aleppo. Di Turki, terjadi insiden pesawat Sukhoi Superjet 100 yang tiba-tiba terbakar di Bandara Antalya, menambah ketegangan regional.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, dijadwalkan bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO untuk membahas perkembangan terbaru perang Rusia-Ukraina dan mengusulkan pembekuan perang dengan mendirikan zona non-militer di timur Donbass Ukraina.
Kesimpulan
Perang antara Rusia dan Ukraina terus berkembang dengan dinamika yang kompleks di berbagai lini pertempuran. Sementara Ukraina menunjukkan ketahanan dan dukungan internasional yang kuat, Rusia menghadapi tantangan besar baik di medan perang maupun dalam stabilitas ekonominya. Upaya perdamaian internasional masih terus dilakukan, namun situasi saat ini menunjukkan bahwa konflik ini masih jauh dari resolusi.