Perusahaan seni pertunjukan mengungkapkan kekhawatiran terhadap infiltrasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke media Amerika Serikat serta upaya untuk merusak kebebasan.
ETIndonesia. Pengaduan perdata yang diajukan pada bulan lalu di Amerika Serikat terhadap Shen Yun Performing Arts “tak diragukan lagi sebagai bagian dari serangan terkoordinasi terhadap perusahaan kami yang diatur oleh rezim Tiongkok,” demikian pernyataan perusahaan itu pada 3 Desember 2024.
Wanita yang mengajukan gugatan tersebut memiliki keterkaitan dengan entitas pemerintahan Tiongkok dan memberikan wawancara kepada individu-individu yang digunakan oleh aparat Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk menyerang Shen Yun, menurut pernyataan tersebut.
“Ketika debu mulai mengendap dan asap menghilang, rakyat Amerika akan menyadari bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memfasilitasi penyebaran narasi palsu di media arus utama secara besar-besaran,” kata pernyataan tersebut.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi perusahaan tercinta kami; yang dipertaruhkan adalah kemampuan Amerika untuk mencegah Beijing mengontrol perusahaan-perusahaan AS, media, kebebasan berkeyakinan, dan kebebasan berekspresi di Amerika Serikat.”
BACA JUGA : Shen Yun Merespon Artikel The New York Times yang Dipenuhi dengan Ketidakakuratan dan Bias
BACA JUGA : Mata-mata PKT yang Mencoba Menyuap Dinas Pajak AS untuk Melawan Shen Yun Dijatuhi Hukuman
BACA JUGA : The New York Times Kembali Menyerang Shen Yun Performing Arts
Shen Yun adalah perusahaan tari dan musik klasik Tiongkok terkemuka di dunia, didirikan pada 2006 di New York oleh praktisi Falun Gong, latihan spiritual yang berlandaskan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan ini mengalami penganiayaan brutal oleh PKT sejak 1999.
Sebanyak delapan orkestra dan kelompok tari Shen Yun tampil untuk sekitar satu juta orang setiap tahun dengan tagline, “Tiongkok sebelum komunisme.” Beberapa tariannya menggambarkan penganiayaan terhadap Falun Gong.
“PKT telah menargetkan perusahaan kami dengan kampanye global untuk mencemarkan nama baik dan menutup kami sejak pendirian kami,” kata pernyataan pihak perusahaan Shen Yun, mengacu pada laporan awal tahun ini yang mendokumentasikan lebih dari 130 insiden di mana PKT mencoba mengintervensi Shen Yun, termasuk dengan menekan pejabat lokal dan manajemen teater untuk membatalkan pertunjukan “bahkan menggunakan kekerasan, vandalisme, dan ancaman pembunuhan.”
Pada bulan lalu, hakim federal AS menjatuhkan hukuman kepada dua pria yang terlibat dalam kampanye PKT melawan Falun Gong. Salah satu dari mereka memata-matai praktisi Falun Gong di AS, sementara yang lain mencoba menyuap agen Dinas pajak AS – IRS- untuk membuka penyelidikan terhadap Shen Yun guna mencabut status nirlaba perusahaan tersebut.
Berubah Haluan
Pengaduan baru-baru ini diajukan oleh seorang wanita yang dulu tampil bersama Shen Yun, tetapi meninggalkan perusahaan tersebut pada 2019. Dalam dua tahun terakhir, ia mengajukan sejumlah tuduhan, termasuk klaim bahwa perusahaan mengeksploitasi dan menyalahgunakan para performers.
Ia mengulangi beberapa tuduhan tersebut dalam sebuah artikel di New York Times awal tahun ini dan lagi dalam gugatan perdata.
Setelah The New York Times menerbitkan artikelnya, puluhan seniman Shen Yun saat ini dan sebelumnya membantah tuduhan tersebut.
Perusahaan menunjukkan bahwa wanita itu telah secara drastis mengubah ceritanya tentang Shen Yun selama bertahun-tahun.
“Dalam dua tahun setelah ia meninggalkan perusahaan, ia menulis tentang betapa ia mencintai waktu yang dihabiskannya di Shen Yun. Selama periode yang sama, ia juga beberapa kali meminta untuk kembali ke perusahaan atau mengajar di sekolah yang melatih banyak seniman Shen Yun,” bunyi pernyataan Shen Yun.
“Lebih jauh lagi, ia mengatakan ingin membuka studio tari sendiri, menunjukkan niatnya untuk membantu penari muda lainnya bergabung dengan Shen Yun. Semua ini jelas bertentangan dengan apa yang sekarang ia tuduhkan dalam wawancara media maupun pengaduan hukumnya.”
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, studio tari wanita tersebut di Taiwan membuka kolaborasi dengan seorang guru di Beijing Dance Academy (BDA), sebuah sekolah tari yang dikelola PKT dan menganggap Shen Yun sebagai pesaing utama, menurut laporan Falun Dafa Information Center (FDIC), sebuah lembaga nonprofit yang memantau penganiayaan terhadap Falun Gong.
Dalam dua tahun terakhir, wanita tersebut juga memberikan wawancara kepada dua saluran YouTube yang memproduksi konten yang sangat anti-Falun Gong.
Dua orang whistleblower PKT mengungkapkan kepada FDIC bahwa rezim tersebut memberikan informasi kepada individu-individu di balik saluran YouTube tersebut untuk menyebarkan propaganda anti-Falun Gong.
Pernyataan Shen Yun mempertanyakan apakah “perubahan sikap yang radikal dan mendadak” wanita tersebut terhadap Shen Yun merupakan “hasil dari faktor-faktor ini.”
“Apa yang pasti adalah bahwa narasi barunya menjadi dasar pengaduan hukumnya, dan menirukan kampanye jahat yang lebih luas untuk menggugurkan Shen Yun,” katanya.
Menurut informasi terbaru dari whistleblower PKT, kampanye fitnah ini dioperasikan secara langsung oleh kepala Kementerian Keamanan Negara Tiongkok, Chen Yixin, seorang loyalis Xi Jinping.
Tujuan dari kampanye Chen adalah untuk memutar opini pemerintah dan masyarakat Amerika Serikat melawan komunitas yang dianiaya melalui fitnah yang disalurkan melalui media sosial dan media utama AS, menurut laporan FDIC.
Rencana tersebut bertujuan melemahkan kehadiran Falun Gong di luar negeri, membongkar organisasi tersebut, dan sepenuhnya menyelesaikan “masalah Falun Gong” pada akhir tahun, kata Whistleblower.
Shen Yun mencatat bahwa kampanye PKT ini “tampaknya menjadi asal mula artikel terbaru di New York Times dan media lainnya.”
Perusahaan mengkritik artikel-artikel tersebut karena hanya mengandalkan “segelintir mantan performer Shen Yun—beberapa di antaranya memiliki hubungan publik dengan rezim Tiongkok dan/atau dikeluarkan dari Shen Yun karena melanggar aturan perusahaan.” Artikel tersebut menggunakan klaim dari mantan para performer yang tidak puas untuk “membuat pernyataan luas tentang perusahaan yang telah bekerja dengan ratusan performer.”
Shen Yun mendesak media untuk menunjukkan “kehati-hatian, skeptisisme, dan memeriksa fakta dengan hati-hati sebelum memperkuat tuduhan individu semacam itu, terutama mengingat upaya PKT yang terdokumentasi menargetkan Shen Yun dengan represi transnasional dan propaganda.”

Distorsi dan Ketidakakuratan
Artikel-artikel terbaru di New York Times “dipenuhi dengan ketidakakuratan dan secara besar-besaran mendistorsi operasional” Shen Yun, menurut pernyataan perusahaan tersebut, merujuk pada laporan FDIC awal tahun ini.
Bertentangan dengan klaim di New York Times bahwa perusahaan mengandalkan performer remaja dan anak-anak, 85 persen seniman Shen Yun adalah orang dewasa, “dengan slot sisanya tersedia untuk pemuda berbakat” dari sekolah seni pertunjukan berbasis agama yang terafiliasi, yang mana dapat mengajukan diri untuk tur bersama Shen Yun “sebagai bagian dari kurikulum yang disetujui oleh Departemen Pendidikan Negara Bagian New York,” demikian pernyataan itu.
Beberapa artikel juga secara keliru menyatakan bahwa Shen Yun melarang para performernya mendapatkan perawatan medis, menurut pernyataan tersebut.
“Faktanya, para performer secara rutin menerima perawatan medis berkualitas tinggi untuk berbagai jenis penyakit, mulai dari nyeri ringan hingga cedera parah seperti pecahnya tendon Achilles,” kata pernyataan itu, mengutip wawancara dengan Dr. Damon Noto, seorang spesialis dalam menangani cedera tari dan olahraga, yang secara rutin merawat performer Shen Yun.
Pernyataan tersebut juga mengkritik New York Times atas “bias budaya dan agama.”
“Mengingat bahwa komunitas kami berbasis pada keyakinan, retorika yang dipromosikan oleh The Times dan media lainnya, dengan sembrono, memicu kebencian terhadap performer Shen Yun dan praktisi Falun Gong secara lebih luas,” katanya.
“Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa ancaman bom, ancaman penembakan massal, serta ancaman untuk memperkosa dan membunuh penampil perempuan Shen Yun telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir,” tambahnya.
Sumber : The Epoch Times