Kekacauan di Suriah : B-52 dan F-15 AS Serang Markas ISIS

EtIndonesia. Setelah pemberontak Suriah menyerbu ibu kota Damaskus, Presiden Assad dan keluarganya melarikan diri ke Moskow untuk mendapatkan suaka. Situasi di Suriah saat ini masih kacau. Pada Minggu (8/12), Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa mereka telah mengerahkan pembom B-52, jet tempur F-15, dan pesawat A-10 untuk menyerang markas ISIS di Suriah guna mencegah kebangkitan kembali kelompok teroris tersebut di tengah gejolak di negara itu.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa mereka telah melakukan puluhan serangan presisi terhadap kamp ISIS dan agen-agennya di wilayah tengah Suriah.

Komando tersebut menambahkan bahwa serangan terhadap pemimpin ISIS, agen, dan kamp mereka adalah bagian dari misi yang sedang berlangsung untuk menghancurkan, melemahkan, dan mengalahkan ISIS. Tujuannya adalah mencegah kelompok teroris tersebut melakukan operasi eksternal dan memastikan bahwa ISIS tidak mencoba memanfaatkan situasi saat ini untuk membangun kembali kekuatannya di wilayah tengah Suriah.

CENTCOM menyebutkan bahwa operasi ini melibatkan berbagai aset Angkatan Udara AS, menyerang lebih dari 75 target, termasuk menggunakan pembom B-52, jet tempur F-15, dan pesawat serang A-10 Thunderbolt II. Penilaian kerusakan pertempuran sedang dilakukan, dan tidak ada tanda-tanda korban sipil.

Presiden AS Joe Biden pada Minggu juga menyatakan bahwa Amerika Serikat berniat untuk melanjutkan operasi anti-ISIS di Suriah.

“Bahkan dalam masa gejolak di Suriah, Komando Pusat akan terus bekerja sama dengan sekutu dan mitra di kawasan untuk melemahkan kemampuan operasional ISIS,” kata CENTCOM.

Komandan CENTCOM, Jenderal Michael Erik Kurilla, mengatakan: “Jelas, kami tidak akan membiarkan ISIS membangun kembali kekuatannya dan memanfaatkan situasi saat ini di Suriah.”

 “Semua organisasi di Suriah harus tahu bahwa jika mereka bekerja sama atau mendukung ISIS dengan cara apa pun, kami akan meminta pertanggungjawaban mereka,” katanya.

Pada Sabtu (7/12), Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan menyatakan bahwa Amerika Serikat “tidak akan campur tangan” dalam perang saudara yang sedang berlangsung di Suriah tetapi akan “mengambil langkah” untuk mencegah kebangkitan kembali ISIS.

Sullivan menegaskan bahwa dengan keberadaan kelompok pemberontak yang menjadi ujung tombak perang melawan rezim Assad, beberapa anggotanya telah ditetapkan oleh AS sebagai organisasi teroris. Oleh karena itu, para pejabat AS mengkhawatirkan situasi di masa depan. Ia mengatakan bahwa anggota kelompok pemberontak tersebut memiliki rekam jejak terkait darah (kematian) warga AS.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine