EtIndonesia. Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert O’Brien, dalam wawancara dengan media pada Minggu, 29 Desember, menyatakan bahwa Greenland, yang terletak di pintu masuk Arktik, adalah garis depan dalam melawan ambisi Tiongkok dan Rusia. O’Brien menegaskan bahwa jika Denmark tidak dapat mempertahankan Greenland, maka Amerika Serikat akan mengambil alih pertahanan wilayah tersebut.
Dalam program berita di Fox News, O’Brien mengatakan: “Greenland adalah jalur cepat dari Arktik menuju Amerika Utara dan Amerika Serikat.”
“Secara strategis, Greenland sangat penting bagi Arktik. Arktik akan menjadi medan pertempuran utama di masa depan, karena dengan pemanasan global, wilayah ini akan menjadi jalur utama transportasi yang bahkan dapat mengurangi ketergantungan pada Terusan Panama,” dia menambahkan.
Beberapa analis memproyeksikan bahwa dengan mencairnya es di wilayah kutub, Samudra Arktik dapat sepenuhnya bebas dari es laut di masa depan. Perubahan ini berpotensi menjadikan kawasan tersebut jalur utama transportasi antara Amerika, Eropa, dan Asia, mengurangi waktu pelayaran dibandingkan menggunakan Terusan Suez atau Terusan Panama. Selain itu, kawasan ini kaya akan sumber daya mineral.
Greenland saat ini adalah wilayah otonom di bawah Denmark. O’Brien menekankan bahwa Denmark memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan wilayah penting ini.
“Denmark berada di garis depan dalam menghadapi Tiongkok dan Rusia… Mereka harus mempertahankan Greenland,” katanya. “Denmark perlu menempatkan kapal patroli, skuadron angkatan udara, rudal, dan bahkan resimen infanteri di sana untuk pertahanan.”
Dia menambahkan: “Jika mereka tidak dapat mempertahankan Greenland, maka kami akan melakukannya, dan kami tidak akan melakukannya secara gratis.”
O’Brien juga menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mempertahankan Greenland tanpa mendapatkan imbalan.
“Jika kami tidak memperoleh hak untuk menambang sumber daya mineral dan minyak di Greenland, atau jika kami tidak dibayar untuk melindungi Greenland, hanya untuk memperkaya Raja Denmark, maka Amerika Serikat tidak akan mempertahankannya,” katanya.
Ia melanjutkan: “Kami juga bisa membeli Greenland, dan menjadikannya bagian dari Alaska. Penduduk asli Greenland memiliki hubungan dekat dengan masyarakat Alaska, jadi kami dapat mengintegrasikannya.”
Menurut O’Brien, masa pembayar pajak Amerika secara gratis melindungi Eropa Barat dan wilayah mereka telah berakhir.
“Tidak ada lagi tumpangan gratis, bahkan untuk sekutu yang kami cintai, seperti Denmark,” katanya.
Keinginan Trump untuk Membeli Greenland
Selama masa jabatan pertamanya, Presiden AS terpilih, Donald Trump pernah menyatakan keinginannya untuk membeli Greenland, yang mengejutkan Pemerintah Denmark. Pada Juni 2020, Amerika Serikat kembali membuka konsulatnya di Nuuk, Greenland, setelah 67 tahun ditutup.
Pada 22 Desember, Trump mengumumkan pencalonan pengusaha teknologi Ken Howery sebagai Duta Besar untuk Denmark.
Dia juga menghidupkan kembali isu Greenland dalam platform media sosialnya, Truth Social: “Demi keamanan nasional dan kebebasan dunia, Amerika Serikat memandang bahwa kepemilikan dan kendali atas Greenland mutlak diperlukan.”
Menanggapi pernyataan Trump, Perdana Menteri Greenland, Mute Bourup Egede, menyatakan bahwa pulau itu “tidak akan dijual, dan tidak akan pernah dijual.” Namun, Egede menambahkan bahwa Greenland bersedia bekerja sama dan berdagang dengan negara lain, terutama dengan tetangganya.
Setelah Trump kembali mengungkapkan niatnya untuk membeli Greenland, Pemerintah Denmark segera mengumumkan rencana peningkatan besar-besaran dalam anggaran pertahanan di wilayah tersebut.
Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, mengungkapkan bahwa anggaran tersebut bernilai sekitar 1,5 miliar dolar AS. Rencana ini mencakup pembelian dua kapal patroli baru, dua drone jarak jauh baru, pembentukan dua tim anjing salju, peningkatan satu bandara sipil di Greenland agar dapat digunakan untuk pesawat tempur F-35, serta penambahan personel di Komando Arktik Greenland.(jhn/yn)