EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang netizen di Shanghai, Tiongkok mengungkapkan bahwa keluarganya mengalami kesulitan mengkremasi jenazah seorang kerabat karena harus antri . Banyak netizen lain yang menanggapi dengan mengatakan bahwa antrian kremasi di Shanghai memang sudah menjadi hal biasa.
Seorang netizen dari Shanghai menulis, “Keluarga saya baru saja kehilangan seorang lansia, ternyata harus antri untuk kremasi.” Netizen lain yang juga berasal dari Shanghai menanggapi, “Memang benar harus antri . Kalau keluarga kita tidak ada yang meninggal dunia, kita tidak akan tahu. Sekarang benar-benar tidak ada bedanya dengan ‘waktu itu’.”
Netizen lainnya juga berkomentar, “Memang selalu harus antre.”
Seorang netizen bercerita, “Paman saya dikremasi pada hari ketiga Tahun Baru Imlek, krematorium penuh sesak.” Ada pula yang mengungkapkan bahwa mereka harus menyuap petugas untuk mendapat antrian lebih cepat. “Kalau kasih uang, bisa dapat antrian dalam 1-3 hari. Kalau tidak, bisa sampai berminggu-minggu.”
Netizen dari berbagai daerah di Tiongkok juga berbagi pengalaman serupa:
- Netizen Shandong: “Tahun ini memang selalu harus antri .”
- Netizen Sichuan: “Oktober lalu, ayah teman saya meninggal dunia, saat itu juga harus menunggu giliran.”
- Netizen Zhejiang: “Beberapa hari yang lalu, ada seorang lansia di desa saya yang mengatakan bahwa di dua desa tetangga, sudah ada enam orang yang meninggal baru-baru ini.”
Lonjakan Kematian dan Antrian di Rumah Sakit serta Krematorium
Penduduk dari berbagai provinsi seperti Henan dan Heilongjiang melaporkan kepada media bahwa sejak musim dingin, banyak orang yang tiba-tiba meninggal dunia. Di rumah sakit dan krematorium, antrian panjang tak terhindarkan.
Seorang warga Nanyang yang menggunakan nama samaran Zhou Yi mengatakan bahwa sejak musim dingin, ia telah kehilangan 46 teman dan kerabat. Mayoritas meninggal karena serangan jantung mendadak, dan semuanya telah menerima tiga dosis atau lebih vaksin COVID-19 buatan dalam negeri.
Namun, otoritas setempat justru mengklaim bahwa penyebabnya adalah masalah keamanan pangan, yang diduga sebagai upaya menutupi fakta sebenarnya.
Seorang warga Xingtai, Hebei, bernama Huang mengatakan bahwa sejak musim dingin lalu, banyak orang yang jatuh sakit dan meninggal. Di daerah pedesaan, kini semakin banyak kuburan baru. Karena krematorium tidak mampu menampung banyaknya jenazah, pihak berwenang telah mengizinkan kembali sistem pemakaman tradisional (penguburan langsung) untuk mengurangi tekanan pada krematorium.
Seorang konten kreator asal Tiongkok baru-baru ini mengunggah video yang memperlihatkan perjalanan di Jalan Nasional 310, di mana ia melihat 17 rumah yang sedang menggelar upacara pemakaman dalam satu perjalanan saja.
Meskipun jumlah infeksi meningkat, pemerintah PKT bahwa itu hanya disebabkan oleh flu musiman. Namun, beberapa dokter Tiongkok berpendapat bahwa gejala yang dialami oleh pasien sangat mirip dengan COVID-19.
Pada 24 Februari, seorang pengguna Weibo bernama “Mao Ma” mengklaim bahwa virus influenza A tahun ini telah mengalami mutasi dan mengandung fragmen dari virus COVID-19.
Ia menceritakan bahwa saat terinfeksi flu ini, ia langsung mengalami pneumonia tanpa demam, mirip dengan gejala yang ia alami ketika pertama kali terkena COVID-19 pada akhir 2022. Selain itu, ia mengalami hilang nafsu makan dan mual saat melihat makanan, yang membuatnya turun berat badan lebih dari 10 kg dalam sebulan—gejala yang sama seperti yang dialami ibunya setelah terinfeksi COVID-19 untuk kedua kalinya.
Beberapa netizen menanggapi unggahannya dengan mengatakan, “Bukan hanya virusnya yang berubah, tetapi juga ada kemungkinan infeksi campuran. COVID-19 belum benar-benar hilang. Banyak orang mengalami demam dan batuk, dan ketika diuji, mereka terinfeksi influenza A, influenza B, COVID-19, dan infeksi bakteri secara bersamaan.”
Sebelumnya, seorang warga Shandong mengatakan kepada media bahwa ketika anaknya mengalami demam dan dibawa ke rumah sakit, dokter melakukan tes virus tetapi tidak melakukan tes COVID-19, yang diduga sebagai upaya pemerintah untuk menghindari pengungkapan data sebenarnya. (Hui)
Sumber : NTDTV.com