Prediksi: Gencatan Senjata Rusia-Ukraina Hanya Bertahan 2-3 Tahun, Perang Bisa Berlanjut hingga 2030

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berharap dapat mendorong tercapainya gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina sekitar masa Paskah tahun ini. Namun, menurut pendiri lembaga think tank geopolitik asal Wina, FACE, Velina Tchakarova, perang Rusia-Ukraina kemungkinan hanya akan berhenti sementara selama dua hingga tiga tahun, sebelum akhirnya kembali memanas dan berlanjut hingga tahun 2028 atau bahkan 2030.

Dalam wawancara eksklusif dengan Pemimpin Redaksi StratNews Global, Nitin A. Gokhale, Tchakarova menjelaskan bahwa Trump memang menginginkan adanya gencatan senjata dan akan memberi tekanan besar kepada semua pihak untuk mewujudkan keinginannya tersebut, bahkan dengan mengorbankan apa pun. Trump memang mengkampanyekan rencana perdamaian, namun pada akhirnya yang mungkin dicapai hanyalah penghentian sementara perang atau gencatan senjata.

Tchakarova berpendapat bahwa gencatan senjata adalah satu-satunya hasil realistis yang bisa dicapai dalam waktu dekat, karena baik Rusia maupun Ukraina masih memiliki niat kuat untuk terus berperang.

Dia memprediksi bahwa gencatan senjata kemungkinan besar akan tercapai dalam tiga hingga enam bulan ke depan. 

“Ukraina bukanlah prioritas utama pemerintahan Trump, namun Rusia,” katanya. “Pemerintahan Trump tidak menganggap Rusia sebagai tantangan strategis, tetapi lebih sebagai peluang untuk melemahkan aliansi ‘Naga-Bear’ (Dragonbear), yakni kerja sama strategis antara Tiongkok dan Rusia. Tujuannya adalah menarik Rusia menjauh dari Tiongkok. Dalam pandangan pemerintahan saat ini di AS, satu-satunya target strategis yang harus dihadapi secara ideologis, teknologis, ekonomi, dan militer hanyalah Tiongkok.”

Tchakarova juga memperkirakan bahwa Trump kemungkinan akan mengakui Krimea sebagai bagian dari wilayah Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri diperkirakan akan mencoba memanfaatkan momen itu untuk sepenuhnya menguasai wilayah Donbas, meskipun wilayah seperti Zaporizhzhia dan Kherson masih menjadi tanda tanya besar.

Lebih lanjut, Tchakarova menyatakan bahwa saat ini negara-negara Eropa sangat bergantung pada Ukraina sebagai garis pertahanan terakhir terhadap ancaman Rusia. Mereka memahami betul bahwa jika Ukraina sampai jatuh, Rusia bisa terdorong untuk menciptakan situasi yang akan menantang status keanggotaan negara-negara Baltik dan anggota NATO lainnya.

Tchakarova menilai bahwa Presiden Putin mungkin telah salah perhitungan dalam beberapa aspek, seperti kekuatan militer Rusia, respon dari Ukraina, dan reaksi negara-negara Eropa. Namun, dia menegaskan bahwa dalam konteks rivalitas sistemik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Putin justru berada di posisi strategis yang cukup menguntungkan.

Tchakarova memprediksi bahwa perang Rusia-Ukraina akan mengalami jeda selama dua hingga tiga tahun, namun kemudian berlanjut hingga setidaknya tahun 2028 atau bahkan 2030. Panjang pendeknya konflik ini akan sangat bergantung pada kelincahan dan kemampuan militer Rusia di masa depan. (jhn/yn)

FOKUS DUNIA

NEWS