Gelombang Protes Melanda 55 Provinsi di Turki! Lebih dari Seribu Orang Ditangkap – Seorang Demonstran Melamar Kekasihnya di Depan Barikade Polisi

EtIndonesia. Kota terbesar di Turki, Istanbul, kembali dipenuhi oleh ribuan mahasiswa yang turun ke jalan pada hari Senin (25/3), memprotes penangkapan dan pemenjaraan Wali Kota Istanbul sekaligus tokoh oposisi terkemuka, Ekrem İmamoğlu. Peristiwa ini telah memicu gejolak sosial terparah dalam beberapa tahun terakhir di Turki.

Menurut laporan AFP, sejak İmamoğlu ditahan pada 19 Maret lalu, aksi unjuk rasa dengan cepat menyebar ke setidaknya 55 dari 81 provinsi di seluruh Turki. Bentrokan keras antara demonstran dan polisi antihuru-hara pun terjadi di berbagai daerah, menarik perhatian dan kecaman dari komunitas internasional.

Kementerian Dalam Negeri Turki menyebutkan bahwa dalam enam hari terakhir, lebih dari 1.130 orang telah ditangkap. Pada Senin malam saja, 43 orang ditahan, termasuk 956 orang yang dituduh menghasut kerusuhan melalui media sosial, serta beberapa jurnalis termasuk seorang fotografer dari AFP.

İmamoğlu, 53 tahun, adalah anggota Partai Rakyat Republik (CHP) dan dianggap sebagai satu-satunya tokoh oposisi yang berpotensi mengalahkan Presiden Recep Tayyip Erdoğan dalam pemilu. Mantan Wali Kota Istanbul itu kini ditahan karena penyelidikan atas dugaan korupsi dan terorisme. Dalam waktu hanya empat hari, dia dicopot dari jabatannya dan kehilangan hak untuk menduduki jabatan publik.

Pada Senin siang, mahasiswa dari berbagai universitas di Istanbul dan Ankara melakukan mogok kuliah dan turun ke jalan. Di Istanbul, mereka berbaris sambil meneriakkan slogan-slogan, mengibarkan bendera, dan berjalan menuju distrik Beşiktaş di tepi Selat Bosphorus. Sepanjang jalan, warga kota ikut mendukung dengan menabuh panci dan wajan dari jendela rumah mereka. Para mahasiswa kemudian melanjutkan aksi mereka ke wilayah Semenanjung Bersejarah dan bergabung dengan demonstran lain yang berkumpul di depan Balai Kota pada malam harinya.

Ketua Partai Rakyat Republik, Özgür Özel, dalam orasinya mengatakan: “Ini bukan sekadar aksi unjuk rasa, ini adalah tantangan terhadap fasisme!” Dia juga menyerukan boikot terhadap saluran televisi dan perusahaan yang pro-pemerintah.

Sementara itu, Presiden Erdoğan menuduh oposisi menghasut kekacauan, usai rapat kabinet. Dia menegaskan bahwa kondisi ekonomi masih terkendali dan pemerintah berhasil meredam gejolak pasar. Namun, dampak penahanan İmamoğlu terhadap perekonomian tak dapat dipungkiri. Nilai tukar lira Turki tertekan, dan indeks saham Istanbul anjlok hampir 8% pada Jumat lalu, meskipun sempat pulih sedikit sekitar 3% pada Senin.

Pada Minggu sebelumnya, İmamoğlu resmi diumumkan sebagai calon presiden dari CHP untuk pemilu 2028, dan banyak pihak meyakini bahwa penangkapan terhadap dirinya terjadi tepat menjelang pengumuman tersebut sebagai bentuk tekanan politik yang terorganisir.

Penahanan İmamoğlu telah memicu reaksi keras baik di dalam negeri maupun luar negeri. Jerman menyebut tindakan tersebut sebagai “sama sekali tidak dapat diterima,” sementara Yunani menyatakan bahwa “pelanggaran terhadap kebebasan sipil tidak dapat ditoleransi.” Uni Eropa menyerukan kepada Pemerintah Turki untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap prinsip demokrasi, dan Kementerian Luar Negeri Prancis menyebut insiden ini sebagai “serangan serius terhadap demokrasi.”

Pada Senin pagi, polisi juga menggerebek rumah sejumlah jurnalis dan menangkap 10 orang pekerja media. Serikat Jurnalis Turki, Asosiasi Wartawan, dan beberapa organisasi pers lainnya mengeluarkan pernyataan bersama mengecam represi terhadap pers, dengan seruan: “Hentikan serangan terhadap jurnalis!” Organisasi Reporter Tanpa Batas (RSF) turut menyerukan agar para jurnalis yang ditahan segera dibebaskan.

Dilek Kaya İmamoğlu, istri dari İmamoğlu, turut menyuarakan keprihatinannya lewat media sosial X: “Penindasan terhadap jurnalis adalah pelanggaran terhadap kebebasan. Kita tidak boleh diam saja.”

Dari balik jeruji, İmamoğlu mengirimkan pesan melalui pengacaranya, menyatakan tekadnya untuk tidak tunduk terhadap penganiayaan politik.“Saya mengenakan kemeja putih yang tak bisa kalian nodai. Saya memiliki semangat yang tak bisa kalian bengkokkan. Saya tidak akan mundur. Saya akan memenangkan perjuangan ini,” katanya. (jhn/yn)

FOKUS DUNIA

NEWS