EtIndonesia. Pada tanggal 24 waktu setempat, delegasi Rusia dan Amerika Serikat menyelesaikan pembicaraan mereka yang diadakan di Riyadh, Arab Saudi. Keesokan harinya, delegasi Ukraina dan Amerika Serikat juga menggelar pembicaraan lanjutan di tempat yang sama. Kemudian, pada 25 Maret, ketiga pihak merilis pernyataan masing-masing terkait hasil pembicaraan tersebut.
Menurut laporan Reuters, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyampaikan bahwa perjanjian gencatan senjata yang mencakup wilayah Laut Hitam dan serangan terhadap infrastruktur energi telah mulai berlaku pada hari itu juga. Namun, ketiga pihak belum mencapai kesepakatan apa pun terkait isu wilayah atau teritori.
Zelenskyy menuduh Rusia telah “memanipulasi dan memutarbalikkan” isi kesepakatan, serta menipu Amerika Serikat dan dunia internasional. Dia juga menyerukan kepada AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia jika Rusia melanggar perjanjian tersebut.
Dalam pidato malamnya pada tanggal 25, Zelenskyy menyampaikan pandangannya dan menegaskan bahwa dia tidak percaya Rusia akan mematuhi kesepakatan.
“Sayangnya, bahkan sekarang, bahkan pada hari ketika perundingan dilakukan, kita sudah melihat Rusia mulai memanipulasi (kesepakatan) tersebut,” kata Zelenskyy. “Rusia sedang berusaha memutarbalikkan isi perjanjian; faktanya, mereka telah menipu mediator kami dan seluruh dunia.”
Zelenskyy menambahkan, jika infrastruktur energi Ukraina kembali mendapat peringatan serangan udara, jika terjadi kembali aktivitas militer di Laut Hitam, atau jika Rusia terus melakukan manipulasi dan ancaman, maka tindakan baru harus diambil—khususnya terhadap Moskow. Dia menegaskan bahwa Ukraina akan berusaha semaksimal mungkin untuk mematuhi perjanjian ini, tetapi Rusia harus memahami bahwa jika mereka kembali melakukan serangan, maka mereka akan menerima respons keras.
Dalam unggahan di platform X (dulu Twitter), Zelenskyy secara terang-terangan mengatakan: “Kami tidak percaya pada mereka. Terus terang, dunia juga tidak percaya pada Rusia. Mereka harus membuktikan bahwa mereka benar-benar siap untuk mengakhiri perang, siap untuk berhenti berbohong kepada dunia, kepada Presiden AS, Donald Trump, dan kepada Amerika Serikat.”
Pada tanggal 25 waktu setempat, Pemerintah AS mengeluarkan dua pernyataan terpisah mengenai hasil pertemuan mereka dengan Rusia dan Ukraina di Riyadh. Dalam pernyataan tersebut, disebutkan bahwa AS telah mencapai kesepakatan dengan Rusia dan Ukraina untuk menjamin keamanan pelayaran di Laut Hitam, menghindari penggunaan kekuatan, serta mencegah penggunaan kapal komersial untuk tujuan militer. Rusia dan Ukraina juga sepakat bersama AS untuk menyusun langkah-langkah implementasi larangan serangan terhadap infrastruktur energi kedua negara.
Reuters menyebutkan bahwa ini adalah pertama kalinya sejak pecahnya konflik pada Februari 2022, kedua pihak menyepakati suatu perjanjian yang bertujuan menghentikan serangan terhadap fasilitas energi.
Di saat yang sama, situs resmi Kremlin menerbitkan daftar fasilitas energi milik Rusia dan Ukraina yang dilarang untuk diserang, sebagaimana disepakati dengan AS. Daftar tersebut mencakup: fasilitas penyulingan minyak, jaringan pipa minyak dan gas (termasuk stasiun pompa), fasilitas penyimpanan minyak dan gas, pembangkit listrik, gardu induk, trafo, serta fasilitas pendistribusian daya, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir dan bendungan pembangkit listrik tenaga air.
Pemerintah Rusia menyatakan bahwa mulai 18 Maret, selama 30 hari, dilarang melakukan serangan terhadap jenis fasilitas energi yang telah disebutkan. Perjanjian ini dapat diperpanjang, namun apabila salah satu pihak melanggar kesepakatan, pihak lainnya berhak membatalkan kesepakatan tersebut.
Pada malam harinya, dalam jumpa pers dengan media, Zelenskyy mengatakan bahwa pihak Ukraina dan AS akan bersama-sama mengawasi pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata ini. Dia juga menegaskan bahwa tidak ada konsensus yang dicapai terkait isu wilayah antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat. Pihak AS juga menyetujui untuk mengadakan putaran pembicaraan lanjutan dalam waktu dekat guna membahas detail teknis dari kesepakatan ini.
Namun, kepada para jurnalis, Zelenskyy juga mengatakan bahwa dalam perjanjian itu tidak dicantumkan secara eksplisit tindakan apa yang akan diambil jika Rusia melanggar perjanjian tersebut. Ia menegaskan:
“Kami tidak mempercayai pihak Rusia, tetapi kami akan tetap mengambil langkah konstruktif.”
Sejak awal konflik Rusia-Ukraina, kedua belah pihak telah saling menuduh satu sama lain atas pelanggaran kesepakatan, yang membuat tercapainya kesepakatan gencatan senjata menjadi semakin sulit.
Sementara itu, menurut laporan Kantor Berita TASS Rusia pada 25 Maret, di hari yang sama ketika hasil perundingan diumumkan, Ukraina justru kembali melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi sipil Rusia. Kementerian Energi Rusia menyatakan bahwa serangan yang dilakukan Ukraina menunjukkan bahwa Zelensky tidak dapat dipercaya untuk mematuhi kesepakatan. (jhn/yn)