Kekacauan Besar di Zhongnanhai, Kabar Buruk tentang Xi Jinping Terus Bermunculan

Dinamika politik di lingkungan Partai Komunis Tiongkok (PKT) semakin penuh intrik, dengan pertarungan internal yang semakin intensif. Belakangan ini, berbagai rumor mengenai kondisi pemimpin PKT, Xi Jinping, terus beredar dan menarik perhatian publik

EtIndonesia. Sejak Sidang Pleno Ketiga pada Juli tahun lalu, berbagai keanehan terjadi di kalangan petinggi PKT dan militer. Beredar kabar bahwa kesehatan Xi memburuk, kekuasaannya atas militer melemah, dan kendali militer kini dipegang oleh Zhang Youxia. Sidang Pleno Keempat, yang seharusnya digelar pada musim gugur 2024, hingga kini belum dilaksanakan.

Pada November tahun lalu, salah satu orang kepercayaan Xi di militer, Miao Hua, yang merupakan anggota Komisi Militer Pusat dan Kepala Departemen Kerja Politik Militer, dilengserkan. Beberapa jenderal dari Grup Tentara ke-31, seperti Qin Shutong, Wang Chunning, Han Weiguo, dan Zhao Keshi, juga dikabarkan sedang diselidiki.

Setelah perhelatan Dua Sesi (Liang Hui) tahun ini, muncul rumor di internet bahwa He Weidong, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat dan sekutu Xi, telah ditangkap. Kemudian, tersiar pula kabar bahwa Panglima Komando Teater Timur, Lin Xiangyang, dan Panglima Pasukan Roket, Wang Houbin, juga ditahan. Hingga kini, otoritas PKT belum memberikan klarifikasi terhadap rumor tersebut.

Pada 20 Maret, Xi Jinping bertemu dengan perwakilan garnisun militer di Kunming. Yang tidak biasa, tidak ada satu pun anggota Komisi Militer Pusat yang mendampinginya. Kedua Wakil Ketua Komisi Militer, Zhang Youxia dan He Weidong, tidak terlihat sama sekali. Saat meninjau Lijiang, Xi tampak kelelahan, beruban, dan terlihat tua. Seorang netizen menggambarkannya sebagai sosok yang tampak muram, suram, dan tidak bersemangat.

Belakangan, beredar kabar bahwa dalam kunjungannya ke Guizhou, Xi untuk pertama kalinya membahas isu pensiun. Xi dikabarkan berkata, “Di Kongres ke-20, kami membentuk kepemimpinan pusat yang berkelanjutan dan stabil. Ini memastikan bahwa bahkan jika saya pensiun karena alasan kesehatan, kepemimpinan pusat akan tetap stabil.”

Namun, Wang Youqun, mantan pejabat di Komisi Pusat Inspeksi Disiplin PKT, menulis di Epoch Times pada 25 Maret bahwa setelah menelusuri laporan media Tiongkok, ia tidak menemukan bukti bahwa Xi pernah mengucapkan kata-kata tersebut. Wang menilai rumor itu tidak memiliki sumber yang jelas, sehingga kebenarannya diragukan. Selain itu, Xi yang berkuasa sejak 2012, tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pensiun.

Dalam analisisnya, Wang mengungkapkan empat alasan mengapa Xi kemungkinan besar tidak ingin pensiun:

  1. Xi menghapus batasan masa jabatan presiden untuk membuka jalan bagi kepemimpinan seumur hidupnya.
  2. Selama 13 tahun berkuasa, Xi belum memilih pengganti.
  3. Dengan dalih pemberantasan korupsi, Xi telah menyingkirkan banyak lawan politik, sehingga ia memiliki banyak musuh di dalam partai, pemerintahan, dan militer.
  4. Xi ingin menjadikan “penyatuan Taiwan” sebagai pencapaian utamanya yang tercatat dalam sejarah.

Namun, Wang juga mengakui ada kemungkinan Xi dipaksa pensiun karena tiga faktor berikut:

  1. Tekanan politik yang luar biasa besar.
  2. Kondisi kesehatannya yang memburuk.
  3. Ketidakstabilan kontrolnya atas militer.

Menurut Wang, sejak awal kekuasaannya, Xi selalu berupaya mengendalikan militer. Namun, hingga kini, ia belum berhasil sepenuhnya menguasainya. Ketidakstabilan di tubuh militer menjadi kekhawatiran terbesar Xi. Ada empat alasan utama mengapa Xi kesulitan mengendalikan militer:

  1. Xi tidak memiliki pengalaman militer atau latar belakang perang seperti Mao Zedong dan Deng Xiaoping, yang memiliki loyalitas dari para jenderal yang pernah berjuang bersama mereka.
  2. Xi sangat curiga terhadap lingkaran dalamnya.
  3. Xi membuat banyak musuh di kalangan jenderal senior karena kebijakan anti-korupsinya di militer.
  4. Xi menghadapi perlawanan balik akibat kebijakan anti-korupsi di militer.

Wang menekankan bahwa Miao Hua dan He Weidong adalah “tangan kanan dan kiri” Xi di militer. Jika mereka benar-benar telah disingkirkan, maka Xi akan kehilangan kendali atas militer dan menjadi “pemimpin tanpa pasukan”. Keempat faktor ini bisa mempercepat proses “pemaksaan pensiun” Xi.

Pada 19 Maret, ahli politik Tiongkok dari Amerika Serikat, Gordon Chang, menulis di The Hill bahwa “pertarungan kekuasaan yang dramatis sedang terjadi di tubuh militer PKT.” Ia memperingatkan bahwa jika perpecahan ini terus berlanjut, situasi ini bisa menjadi salah satu ancaman paling berbahaya bagi dunia.

Chang menganalisis bahwa jika rumor mengenai pencopotan pejabat militer ini benar, itu berarti posisi Xi di militer sedang terancam serius. Bahkan jika rumor ini tidak sepenuhnya benar, fakta bahwa berita semacam ini bisa menyebar luas di dalam sistem PKT menunjukkan betapa kacaunya situasi di level tertinggi partai.

Selain itu, peramal asal Inggris Craig Hamilton-Parker pernah memprediksi bahwa “pada tahun 2025, Tiongkok akan mengalami perubahan besar dan perang saudara akan pecah.” Menurutnya, Xi Jinping akan turun dari jabatannya, dan PKT akan runtuh. Kejatuhan Xi hanyalah awal dari gelombang besar kekacauan dan perubahan di Tiongkok.

Pada Februari tahun ini, komentator independen Cai Shenkun mengutip sumber yang mengatakan bahwa Xi telah kehilangan hampir seluruh kekuasaannya, dan hanya tinggal menunggu pengumuman resmi untuk mundur. Saat ini, kendali atas militer berada di tangan Zhang Youxia.

Wang Youqun menyimpulkan bahwa “apakah Xi akan pensiun pada 2025 masih belum bisa dipastikan. Namun, yang jelas, tahun ini Xi menghadapi situasi yang sangat berbahaya.” (Hui)

Zhongnanhai : Kantor pusat dan komplek petinggi partai komunis Tiongkok

FOKUS DUNIA

NEWS