EtIndonesia. Presiden Rusia, Vladimir Putin, meningkatkan tekanan dalam negosiasi untuk mengakhiri perang di Ukraina. Dia secara langsung menyerukan penggulingan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dan menggantinya dengan “pemerintahan transisi.”
Presiden Putin juga memerintahkan pasukannya untuk “menghabisi” semua tentara Ukraina, karena Moskow kini berada dalam posisi dominan, baik di medan perang maupun di meja perundingan.
Hubungan yang mulai mencair antara Washington dan Moskow sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS, ditambah dengan ancaman Trump untuk menghentikan dukungan bagi Kyiv, semakin meningkatkan kepercayaan diri Putin. Perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun ini telah menewaskan puluhan ribu orang di kedua belah pihak.
Sejak awal perang, Rusia berpendapat bahwa keputusan Ukraina untuk bergabung dengan NATO dan mempersenjatai diri melawan Rusia adalah pemicu utama konflik. Moskow menyalahkan Zelenskyy atas langkah geopolitik yang dinilai salah perhitungan, sehingga memperlebar jurang antara Rusia dan Eropa.
Pernyataan Keras Putin
Presiden Putin dan Presiden Zelenskyy sama-sama saling membenci. Keduanya menghindari komunikasi langsung dan lebih memilih berbicara melalui perantara di lokasi netral. Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, AS berperan sebagai fasilitator dalam pembicaraan ini. Namun, Ukraina khawatir akan dipaksa menerima kesepakatan damai yang lebih menguntungkan Moskow. Presiden Trump sendiri telah secara terbuka menyatakan bahwa Zelenskyy “tidak memiliki posisi tawar yang kuat.”
“Kami bisa, tentu saja, berdiskusi dengan Amerika Serikat, bahkan dengan negara-negara Eropa, serta mitra dan sekutu kami di bawah naungan PBB, tentang kemungkinan membentuk pemerintahan transisi di Ukraina,” kata Putin dalam sebuah forum di wilayah Arktik.
“Apa tujuannya? Untuk menyelenggarakan pemilihan presiden yang demokratis sehingga pemerintahan yang kompeten dan mendapat kepercayaan rakyat dapat berkuasa. Lalu, pemerintahan ini bisa memulai negosiasi damai dan menandatangani dokumen resmi,” tambahnya, secara tidak langsung menyebut Zelensky sebagai seorang diktator—sesuatu yang sebelumnya juga pernah dikatakan oleh Trump.
Putin juga memerintahkan pasukannya untuk terus menekan lawan di medan perang dan meningkatkan serangan.
“Saya pernah mengatakan: ‘Kita akan menghabisi mereka.’ Sekarang ada alasan untuk percaya bahwa kita benar-benar akan menghabisi mereka,” ujarnya.
“Kami bergerak maju secara bertahap, tidak secepat yang diharapkan beberapa orang, tetapi tetap dengan keteguhan dan keyakinan untuk mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan sejak awal operasi khusus ini,” tambahnya.
Ukraina Bersiap Menghadapi Dampak
Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak, menegaskan bahwa “Rusia berusaha menggagalkan jalur perdamaian dengan memilih untuk melanjutkan perang.”
Di sisi lain, Presiden Zelenskyy segera terbang ke Paris untuk bertemu dengan para pemimpin Eropa guna menyusun strategi bersama menghadapi agresi Putin serta kebijakan baru Trump yang dinilai lebih condong ke Moskow.
Namun, setelah pertemuan di Paris yang dipimpin oleh Prancis dan Inggris, Zelenskyy mengaku merasa “memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.” Pertemuan tersebut membahas kemungkinan pengerahan pasukan Eropa sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata atau perdamaian yang lebih luas. (yn)