Runtuhnya Proyek Tiongkok di Bangkok: Bukti Bahaya Tersembunyi di Balik Inisiatif Belt and Road?

EtIndonesia. Sebuah insiden menggemparkan terjadi di Bangkok pada tanggal 28 Maret ketika sebuah gedung yang tengah dalam proses konstruksi runtuh secara mendadak pada pukul 14:30. Kejadian ini terjadi di tengah goncangan gempa yang dilaporkan berkekuatan Magnitudo 7,7 – atau menurut beberapa sumber mencapai Mangnitudo 7,9 – yang mengguncang Myanmar pada hari yang sama. Meski peristiwa gempa sudah mencuri perhatian publik, runtuhnya gedung ini menambah deretan pertanyaan tentang kualitas konstruksi, praktik penghematan material, dan dampaknya terhadap keselamatan pekerja.

Kejadian dan Konteks Insiden

Menurut laporan, runtuhnya gedung tersebut menjadi satu-satunya insiden serupa di Bangkok, sebuah kota yang memiliki puluhan bangunan bertingkat tinggi. Namun, insiden ini menonjol karena intensitas getar yang luar biasa, sehingga menyebabkan air kolam renang di sekitarnya tumpah. Sementara gedung-gedung lain tetap stabil, runtuhnya bangunan ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai standar keamanan dan kualitas konstruksi yang diterapkan.

Gedung tersebut merupakan hasil kolaborasi internasional; didesain oleh perusahaan asal Italia, namun pembangunan dilakukan oleh China Railway Shigu Group. Keunikan proyek ini semakin tampak apabila dilihat dari konteks wilayah Bangkok yang jarang mengalami gempa, sehingga regulasi mengenai ketahanan bangunan terhadap guncangan seismik tidak seketat di daerah rawan gempa.

Analisis Ahli: Wawancara Bersama Henghe

Dalam upaya mengurai misteri di balik runtuhnya gedung tersebut, Henghe, seorang ahli isu Tiongkok dan Amerika sekaligus pembawa acara Henghe Comment, memberikan analisis mendalam:

  • Keunikan Pergerakan Bangunan:
    Menurut Henghe, gedung ini satu-satunya yang menunjukkan goyangan ekstrem hingga menyebabkan tumpahnya air kolam renang, berbeda dengan gedung bertingkat lainnya di Bangkok. “Fenomena ini menandakan bahwa ada cacat mendasar dalam struktur bangunan, yang tidak hanya dipengaruhi oleh gempa, namun juga cara penerapan standar konstruksi,” ujar Henghe.
  • Praktik Penghematan Material:
    Henghe menyoroti bahwa meskipun bangunan tinggi umumnya didesain untuk menahan guncangan, terdapat indikasi bahwa kualitas semen dan material konstruksi yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi standar. “Runtuhnya gedung secara vertikal bagaikan ledakan terarah menunjukkan bahwa struktur utamanya seolah tidak utuh. Hal ini mencerminkan praktik penghematan bahan yang ekstrem, yang kerap disebut sebagai ‘proyek tofu’ dalam konteks konstruksi China,” jelasnya.
  • Kaitan Dengan Proyek Internasional dan Belt and Road:
    Gedung ini merupakan bagian dari Inisiatif Belt and Road yang dimulai sejak 2017 di Thailand. Proyek-proyek tersebut sering kali didanai melalui skema pinjaman dari Pemerintah Tiongkok dengan persyaratan penggunaan material dan produk-produk dari Tiongkok, yang meskipun menawarkan harga kompetitif, sering mengorbankan kualitas. Henghe menambahkan: “Kasus ini adalah contoh klasik bagaimana tekanan ekonomi dan syarat pinjaman bisa berujung pada penurunan standar konstruksi, yang pada akhirnya berdampak fatal pada keselamatan.”

Dampak Terhadap Keselamatan dan Implikasi Sosial

Runtuhnya gedung tersebut juga menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan para pekerja di lokasi. Meskipun data resmi menyebutkan jumlah korban yang minim, banyak pengamat menduga bahwa ratusan pekerja—yang mayoritas diduga merupakan buruh dari Tiongkok—berisiko tertimpa reruntuhan. Situasi ini mengingatkan kembali pada kasus-kasus serupa di proyek luar negeri, di mana tenaga kerja migran sering kali bekerja dalam kondisi yang kurang memperhatikan standar keselamatan.

Insiden ini pun menimbulkan perdebatan mengenai kepercayaan publik terhadap bangunan yang dibangun oleh kontraktor dari Tiongkok. Di tengah fenomena globalisasi dan Inisiatif Belt and Road, pertanyaan besar muncul: seberapa jauh model pendanaan dan pelaksanaan proyek internasional mengorbankan kualitas demi keuntungan ekonomi?

Analogi dan Perbandingan Global

Sebagai perbandingan, Henghe menyebutkan peristiwa runtuhnya Menara Kembar pada peristiwa 9/11, di mana dua bangunan dengan struktur dan desain serupa menunjukkan pola runtuh yang berbeda.

“Perbedaan cara runtuhnya gedung di Bangkok, yang hancur secara acak bagaikan tumpukan puing, mengindikasikan adanya cacat struktural dan penghematan material yang tidak semestinya,” tegasnya.

Selain itu, fenomena serupa juga pernah terjadi di Tiongkok, di mana bangunan-bangunan yang tidak memenuhi standar ketat sering dihancurkan untuk menghindari risiko yang lebih besar. Hal ini semakin menegaskan perlunya pengawasan yang lebih ketat dalam setiap proyek konstruksi, baik di sektor sipil maupun militer.

Kesimpulan

Runtuhnya gedung di Bangkok merupakan peringatan keras bahwa praktik penghematan bahan dan pengabaian terhadap standar konstruksi dapat berakibat fatal. Insiden ini tidak hanya menyoroti masalah teknis dan material, tetapi juga mencerminkan dinamika geopolitik di balik proyek internasional seperti Belt and Road.

Kejadian ini memaksa kita untuk meninjau kembali kepercayaan terhadap proyek-proyek besar yang melibatkan banyak pihak, terutama ketika keuntungan ekonomi diutamakan di atas keselamatan dan kualitas. Pengawasan yang lebih ketat dan penerapan standar internasional yang konsisten menjadi kunci agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

FOKUS DUNIA

NEWS