Korban Kecelakaan Xiaomi SU7 Terbakar Hingga Menjadi Abu, Publik Meragukan Pernyataan Xiaomi

Pada 29 Maret 2025, sebuah mobil listrik Xiaomi SU7 terbakar hebat di jalan tol di Tiongkok, menyebabkan tiga orang tewas. Keluarga korban menyatakan bahwa jasad putri mereka hangus terbakar hingga hanya tersisa kerangka. Tiga hari setelah kejadian, Xiaomi merilis pernyataan resmi terkait kecelakaan tersebut, tetapi mendapat banyak kritik dari publik.

EtIndonesia. Pada 29 Maret, sebuah Xiaomi SU7 versi standar mengalami kecelakaan serius di ruas jalan tol De-Shang di Anhui, yang mengakibatkan tiga korban jiwa.

Pada 1 April, menurut laporan Southern Metropolis Daily, ayah salah satu korban, Tuan Luo, mengungkapkan bahwa putrinya dan temannya tewas terbakar hidup-hidup, sementara satu korban lainnya sempat dilarikan ke rumah sakit tetapi tidak selamat.

Dengan penuh kesedihan, Luo berkata bahwa ketika ia pergi ke rumah duka untuk tes DNA, ia mendapati jasad putrinya sudah terbakar hingga karbonisasi, “Kamu tahu apa itu karbonisasi? Itu berarti hanya tersisa kerangka tulang.”

Luo juga menyebut bahwa keluarga dari ketiga korban telah berkumpul bersama, sementara pemerintah Kota Tongling telah membentuk tim investigasi khusus. Namun, ia mengungkapkan bahwa Xiaomi belum pernah menghubungi mereka.

“Xiaomi mengatakan telah membentuk tim kerja untuk menangani insiden ini, tetapi sampai sekarang, mereka tidak pernah berkomunikasi dengan kami. Mereka hanya diam dan tidak ada perkembangan sama sekali,” katanya.

Selain itu, setelah kecelakaan terjadi, pada 30 dan 31 Maret, semua video dan informasi terkait insiden ini dihapus dari platform Douyin dan Weibo di Tiongkok. 

Menurut tangkapan layar yang beredar di internet, seorang wartawan Hubei Daily mengungkap bahwa media di bawah pemerintah telah menerima instruksi dari atasan untuk tidak melaporkan kecelakaan ini.

Pada 1 April siang, akun resmi Xiaomi di Weibo mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa mobil tersebut sedang menggunakan fitur NOA (Navigasi dengan Bantuan Otonom) dengan kecepatan 116 km/jam sebelum beralih ke mode manual. Dua detik setelahnya, mobil menabrak pembatas beton dengan kecepatan 97 km/jam dan terbakar.

Namun, pernyataan tersebut justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan kritik dari publik, yang menilai Xiaomi “menghindari inti permasalahan.” Beberapa poin utama yang dipertanyakan adalah:

  1. Apakah pintu mobil otomatis terkunci setelah kecelakaan?
    • Keluarga korban menulis di media sosial: “Setelah menabrak pembatas, mobil langsung terbakar hebat. Pintu mobil terkunci secara otomatis. Anak-anak saya terbakar hidup-hidup di dalamnya.”
    • Xiaomi sama sekali tidak menyebutkan dalam pernyataannya apakah pintu mobil terkunci atau tidak setelah tabrakan.
  2. Mengapa sistem AEB (Autonomous Emergency Braking) tidak berfungsi?
    • Xiaomi sebelumnya mengklaim bahwa mobil pintar mereka memiliki fitur AEB, yang seharusnya secara otomatis mengerem ketika mendeteksi adanya hambatan di depan. Namun, dalam pernyataan resmi, Xiaomi tidak menjelaskan apakah fitur ini berfungsi atau tidak saat kecelakaan terjadi.
  3. Mengapa Xiaomi tidak mengungkapkan jumlah korban jiwa dalam pernyataan mereka?
    • Meskipun Xiaomi mengaku “sangat berduka atas kecelakaan ini,” mereka tidak memberikan rincian mengenai korban jiwa.

Pihak Xiaomi juga mengatakan bahwa mereka akan “menghubungi keluarga korban secepat mungkin, membantu menangani dampak insiden, serta memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan.” Namun, pada sore harinya, ibu salah satu korban membantah klaim ini di media sosial:

“Sejak kejadian ini terjadi, tidak satu pun orang dari Xiaomi yang menghubungi saya. Tidak ada satu pun telepon dari mereka.”

Dalam wawancara dengan The Paper, ibu korban juga mengungkapkan bahwa pernyataan Xiaomi tidak menjelaskan mengapa pintu mobil tidak bisa dibuka, apa yang menyebabkan mobil terbakar setelah menabrak pembatas, serta mengapa transisi dari mode otomatis ke manual hanya berlangsung selama dua detik.

“Saya hanya ingin mengetahui kebenaran sesegera mungkin,” katanya.

Seorang netizen menulis: “Xiaomi hanya mengeluarkan pernyataan ini karena tekanan publik yang semakin besar. Ini bukan kepedulian, ini hanya cara untuk menenangkan opini publik.” (Hui)

FOKUS DUNIA

NEWS