EtIndonesia. Akibat terus-menerus diganggu oleh kelompok ekstremis Al-Shabaab, Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud baru-baru ini melakukan kunjungan ke Ankara, ibu kota Turki, dan bertemu Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dalam pertemuan itu, mereka menandatangani perjanjian yang mengizinkan Turki mengirimkan 5.000 tentara bayaran ke Somalia. Sebagai imbalannya, Somalia membuka akses terhadap eksplorasi sumber daya alam mereka untuk Turki. Seorang pakar militer Tiongkok menilai, langkah “menguras habis aset nasional” ini berpotensi mengubah peta geopolitik Afrika di masa depan secara drastis.
Dalam pertemuan 27 Maret itu, Turki sepakat mengirimkan 5.000 tentara bayaran dari perusahaan kontraktor militer swasta Turki “SADAT” ke ibu kota Somalia, Mogadishu. Tujuannya adalah membantu Pemerintah Somalia memerangi kelompok ekstremis Al-Shabaab. Sebagai timbal balik, Somalia memberikan hak eksplorasi sumber daya alam seperti minyak dan gas di kawasan pesisir kepada Turki, serta mengizinkan Turki membangun pangkalan militer di wilayahnya.
Sebenarnya, sejak tahun 2020, Somalia dan Turki sudah melakukan negosiasi terkait kerja sama ini. Sekitar 5.000 prajurit Somalia sudah pernah dikirim ke Turki untuk menjalani pelatihan militer. Diperkirakan lebih dari sepertiga tentara Pemerintah Somalia nantinya akan mendapatkan pelatihan di Turki. Terkait pertukaran sumber daya alam demi keberadaan militer Turki ini, penulis menilai bahwa kedua negara mungkin sedang menjalankan permainan strategi yang sangat kompleks, mencakup sumber daya, kedaulatan, dan geopolitik.
Adapun alasan Turki bersedia terlibat secara militer di Somalia kemungkinan besar adalah untuk mengisi kekosongan pengaruh yang ditinggalkan AS, Rusia, dan negara-negara lain di Afrika. Turki diduga ingin memperkuat pengaruhnya di kawasan tersebut. Dengan memiliki hak eksplorasi dan pangkalan militer di Somalia, Turki bisa membangun pondasi untuk pengaruh geopolitik jangka panjang di Afrika.
Di sisi lain, Somalia selama ini dilanda perang saudara dan serangan teror tanpa henti. Negara itu memiliki keterbatasan besar dalam hal anggaran dan kemampuan militer, sehingga hampir tidak mampu mempertahankan ibu kota Mogadishu dari tekanan kelompok-kelompok bersenjata seperti Al-Shabaab.
Menurut “Jungge’s Military Talk”, Somalia berupaya mendapatkan perlindungan militer dari Turki dengan menawarkan konsesi seperti hak eksplorasi sumber daya dan pembangunan pangkalan militer.
Namun, kehadiran perusahaan militer swasta SADAT dan 5.000 tentara bayaran ini dikhawatirkan justru memperparah situasi. Jika terjadi konflik antara tentara bayaran Turki dengan kelompok bersenjata lokal, bisa jadi akan memicu eskalasi yang melibatkan kekuatan-kekuatan asing lainnya. Selain itu, menyerahkan hak eksplorasi sumber daya alam kepada negara lain juga dikhawatirkan bisa membuat Somalia kehilangan kendali atas sektor ekonomi vital mereka. Ini bisa merusak kedaulatan negara dan memperdalam krisis ekonomi serta sosial.
Penulis menganggap bahwa undangan Somalia kepada Turki ini merupakan “langkah berani” dalam menghadapi krisis nasional mereka. Namun, belum ada jaminan bahwa kerja sama ini akan berhasil menstabilkan kondisi negara. Di sisi lain, keterlibatan Turki sendiri juga mengandung risiko besar. Jika misi ini gagal, bukan hanya reputasi internasional Turki yang bisa hancur, tetapi kekacauan di Somalia bisa semakin dalam. (jhn/yn)