Isak Tangis Mahasiswi Tiongkok : Saya Tidak Bisa Bertahan Hidup Bekerja tanpa Membayar Biaya Hidup

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang mahasiswi lulusan hukum di Tiongkok mengunggah video yang memperlihatkan dirinya menangis sambil mengeluhkan kondisi kerjanya. Ia mengatakan bahwa gajinya hanya RMB.2.500 per bulan (Rp 5,5 juta).  Namun potongan untuk asuransi sosial mencapai RMB.1.800. Setelah dipotong, ia hanya menerima sekitar RMb.700 yuan—artinya, upah hariannya hanya sekitar RMB.30 . 

Setelah memperhitungkan biaya hidup sehari-hari, ia justru harus mengeluarkan uang untuk bisa bekerja. Dalam keadaan tertekan, ia berkata: “Saya sudah tidak bisa hidup seperti ini,” dan keluhannya pun menuai simpati dari banyak netizen.

“Saya baru pulang kerja. Bos saya bilang, asuransi sosial saya harus dipotong dari gaji. Gaji saya awalnya RMB.2.500 , tapi setelah dipotong RMB.1.800 untuk asuransi, sisa hanya RMB.700 . Setiap hari saya hanya dapat sekitar RMB.30-an .” Demikian dalam video yang beredar pada 3 April 2025. 

Ia menjelaskan bahwa ia tetap harus membayar asuransi sosial karena itu adalah syarat wajib untuk mendapatkan sertifikat magang sebagai pengacara.

“Kalau kamu tidak membayar asuransi sosial, kamu tidak bisa menjadi pengacara magang. Kalau tidak magang, kamu tidak bisa menjadi pengacara profesional.”

Ia lanjut berkata: “Saya harus naik metro seharga RMB.6 sekali jalan, jadi RMB.12 per hari hanya untuk transportasi. Saya juga harus makan. Artinya setiap hari saya harus tambah uang untuk bisa bekerja.”

Ia juga mengeluhkan bahwa sebagai lulusan hukum, untuk bisa bekerja di bagian legal sebuah perusahaan harus punya pengalaman. Sementara untuk jadi pegawai negeri atau hakim/jaksa, saingannya sangat besar dan umumnya harus lulusan pascasarjana.

“Kalau kamu kerja di firma hukum seperti saya, kamu bahkan tidak bisa bayar asuransi sosial sendiri, dan tidak bisa mendaftarkan sertifikat.”

Sambil menangis ia berkata: “Mahasiswa hukum sekarang benar-benar menyedihkan. Saya masih bisa hidup karena pernah kerja sebagai guru les dan juga dibantu uang dari kakek nenek. Kalau tidak ada itu, saya tidak bisa hidup. Saya benar-benar tidak punya uang, dan setiap hari saya harus tambah uang untuk bekerja.”

Keluhan ini menuai empati luas dari netizen di Tiongkok. Beberapa komentar dari mereka:

  • “Apa yang kamu alami, kami juga pernah mengalaminya. Bertahanlah, kalau tidak kuat lebih baik cepat-cepat ganti jalur.”
  • “Nak, jangan menangis. Nanti juga kamu terbiasa. Siapa sih yang bukan sapi dan kuda zaman sekarang?”
  • “Jangan ambil jurusan hukum atau keuangan kalau kamu tidak punya dukungan finansial dari keluarga.”
  • “Mahasiswa kedokteran malah lebih parah nasibnya.”
  • “Ini benar-benar kejam. Bagaimana anak-anak muda ini bisa bertahan hidup setelah lulus?”

Kondisi Lapangan Kerja di Tiongkok Memburuk

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus menurun dan lapangan kerja menjadi semakin sulit. Jutaan lulusan perguruan tinggi tidak bisa menemukan pekerjaan yang sesuai, dan akhirnya memilih untuk ‘berbaring’ atau menyerah begitu saja.

Pada 30 Oktober 2024, seorang lulusan hukum lainnya juga mengunggah video. Ia mengatakan bahwa ia mendapat tawaran kerja di firma hukum dengan gaji hanya 1.200 yuan, dan masih harus keluar uang untuk bisa bekerja. Bahkan, pekerjaan dengan kondisi seperti itu pun sangat sulit untuk didapat.

Ada juga mahasiswi yang mengaku bahwa di kampusnya, jurusan hukum punya tingkat penyerapan kerja paling rendah.

Banyak mahasiswa hukum terpaksa pindah jalur agar bisa bertahan hidup:

  • “Jangan bahas lagi. Saya lulusan transfer S1 hukum, tapi setelah lulus langsung kerja jadi teknisi.”
  • “Lulusan 2024 kerja di pabrik sebagai R&D, sekarang sudah resign dan menganggur di rumah.”

oleh Luo Tingting /Wen Hui – Disadur dari New Tang Dynasty

FOKUS DUNIA

NEWS