Ke Mana Barang-barang Tiongkok Senilai Rp 6.400 Triliun akan Pergi Setelah Tarif Trump?

Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif tambahan terhadap Tiongkok, muncul pertanyaan baru: ke mana perginya barang-barang ekspor Tiongkok senilai 400 miliar dolar AS atau setara Rp 6.400 Triliun yang tadinya masuk ke pasar Amerika Serikat?

EtIndonesia.  Menurut laporan The Wall Street Journal pada Jumat (4 April), para ekonom memperingatkan bahwa tarif tinggi dari AS bisa menyebabkan sebagian besar barang-barang ekspor Tiongkok yang sebelumnya dijual ke Amerika Serikat dialihkan ke pasar global, memperburuk apa yang disebut sebagai “guncangan Tiongkok”. Hal inilah yang dikhawatirkan dan diantisipasi oleh banyak negara.

Pengumuman tarif baru dari Amerika Serikat terhadap hampir semua negara pada Rabu (2 April) telah membuat banyak negara geram, namun pada saat yang sama mereka juga tidak ingin barang-barang murah dari Tiongkok membanjiri pasar mereka sendiri.

Para ekonom meyakini bahwa ketika negara-negara lain mulai mengambil langkah balasan dan membentengi pasar mereka, perang dagang bisa dengan cepat meluas dan melibatkan lebih banyak negara.

AS Mengimpor Barang Tiongkok Senilai USD 440 Miliar per Tahun

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancaranya pada Jumat menyatakan bahwa tanpa pasar Amerika, ekonomi Tiongkok tidak akan bisa bertahan.

“Saya rasa tarif yang diberlakukan Presiden Trump akan menghancurkan model bisnis mereka,” kata Bessent. “Mereka butuh pasar kita.”

Menurut data dari Biro Sensus AS, pada tahun 2024 Amerika Serikat mengimpor sekitar USD 440 miliar barang dari Tiongkok.

Data dari PBB dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menunjukkan bahwa pada 2023:

  • 20% produk baja yang diimpor AS berasal dari Tiongkok.
  • Lebih dari 25% produk elektronik impor berasal dari Tiongkok.
  • 33% alas kaki berasal dari Tiongkok.
  • 75% mainan berasal dari Tiongkok.
  • 91% payung yang diimpor AS juga berasal dari Tiongkok.

Tidak ada satu negara pun yang mampu atau mau menggantikan Amerika Serikat sebagai pasar untuk barang-barang tersebut, apalagi jika harus mengorbankan industri dan lapangan kerja dalam negeri demi menerima barang murah dari Tiongkok.

BACA JUGA : 7 Hal yang Perlu Diketahui dari Penerapan Tarif Imbal Balik Trump, Indonesia Dikenai 32 Persen dan Tiongkok Tertinggi

BACA JUGA : Alasan Trump Mengenakan Tarif Imbal Balik dari  Impor Sejumlah Negara Termasuk Negara ASEAN

Bessent juga memperingatkan bahwa Tiongkok kini sedang mengalami deflasi, resesi, dan stagnasi ekonomi, dan mereka sedang mencoba menyelamatkan diri melalui ekspor. Namun, model bisnis ini tak bisa mereka hentikan begitu saja.

Ketika AS mengurangi impor dari Tiongkok, barang-barang Tiongkok yang tidak terserap harus mencari pasar baru. Lonjakan ekspor Tiongkok telah menimbulkan ketegangan dengan negara-negara ekonomi utama dunia. Jika barang-barang yang sebelumnya dijual ke AS dialihkan ke negara lain, konflik perdagangan bisa makin meningkat.

Menurut penelitian Profesor Ekonomi Universitas Peking, Lu Feng, pada 2024 terdapat 198 gugatan dagang terhadap Tiongkok yang diajukan ke WTO—dua kali lipat dari tahun sebelumnya dan mencakup hampir setengah dari seluruh sengketa yang diajukan ke WTO.

Negara-negara seperti Brasil, India, Meksiko, Indonesia, Argentina, Inggris, dan Chili kini ikut dalam barisan negara-negara Barat untuk melakukan penyelidikan anti-dumping terhadap berbagai barang impor dari Tiongkok.

BACA JUGA : Perisai Anti-Sanksi Tiongkok : Melindungi Perdagangan atau Memperdalam Masalah Ekonomi?

BACA JUGA : Perang Tarif AS-Tiongkok Meningkat, Analis: Rezim Beijing Terkepung dari Segala Arah

Tiongkok Menguasai 31% Manufaktur Dunia — Seberapa Jauh Bisa Diekspor Lagi?

Dengan Tiongkok kini menguasai 31% sektor manufaktur global, muncul pertanyaan besar di era proteksionisme ini: masih seberapa banyak lagi Tiongkok bisa mengekspor ke dunia?

Beijing Berupaya Membalas, Trump: “Langkah yang Salah”

Para ekonom memperkirakan, dengan skala tarif Trump yang di luar dugaan, pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) mungkin harus mencari lebih banyak cara untuk menstabilkan ekonomi.

Kepala Ekonom Tiongkok di Citigroup, Xiangrong Yu, menyatakan bahwa tanpa langkah-langkah stimulus tambahan, tarif baru dari AS bisa mengurangi pertumbuhan ekonomi Tiongkok 0,5 hingga 1 poin persentase pada tahun 2025.

Pada 4 April, PKT menggugat AS di WTO atas tarif baru tersebut, menuntut penghapusan langkah-langkah sepihak dari Washington. Di hari yang sama, Beijing juga mengumumkan tarif balasan sebesar 34% terhadap barang-barang AS.

Menanggapi hal ini, Presiden Trump mengatakan bahwa Beijing telah membuat langkah yang keliru, dan memperingatkan bahwa akibatnya akan berat bagi Tiongkok.

The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Presiden Xi Jinping belajar dari perang dagang sebelumnya bahwa jika Tiongkok membalas dengan tarif yang setara, justru Tiongkok yang akan lebih rugi karena nilai impor Tiongkok dari AS jauh lebih kecil dibandingkan nilai impor AS dari Tiongkok.

Sumber : Epochtimes.com

FOKUS DUNIA

NEWS