Dana Multi-Miliar Dolar Shandong, Tiongkok,  Senilai Rp 136,9 Triliun Runtuh, Para Investor Hancurkan Kantor Pusat

Sebuah platform investasi besar di Linyi, Provinsi Shandong, baru-baru ini dilaporkan mengalami gagal bayar (meledak). Para korban mendatangi kantor pusat untuk menuntut hak mereka, namun justru mendapat represi dari polisi, dan sejumlah orang ditangkap. 

Beberapa investor menyebut bahwa platform investasi yang sebelumnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah PKT ini ternyata adalah skema Ponzi.

EtIndonesia. Platform investasi bernama “Shupai Yigou” di Linyi, Shandong, Tiongkok mengusung konsep “inovasi e-commerce + investasi keuangan”, yang berhasil menarik puluhan ribu investor. Namun baru-baru ini platform tersebut tiba-tiba meledak, dengan nilai dana yang terlibat mencapai sekitar 60 miliar yuan (setara hampir 130 triliun rupiah). 

Sejumlah besar investor mendatangi toko fisik perusahaan untuk menuntut pengembalian dana, tetapi malah dihadang oleh polisi dan mengalami penindasan, serta beberapa investor ditangkap.

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada 22 Juli, banyak investor berkumpul di kantor pusat Shupai Yigou untuk menuntut hak mereka. Pemerintah daerah menerjunkan polisi dalam jumlah besar dan kendaraan anti huru-hara untuk menghadang.

Platform investasi bernama “Shupai Yigou”

Beberapa orang yang ikut aksi dilaporkan ditahan oleh pihak kepolisian. Saat ini, kantor pusat platform tersebut telah disegel.

Diketahui bahwa platform investasi Shupai Yigou sebelumnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah Linyi, bahkan pemerintah ikut membantu mempromosikan platform tersebut.

Seorang korban mengatakan kepada media Epoch Times bahwa platform ini adalah bentuk skema Ponzi, yaitu model penipuan berbasis sistem piramida yang dikemas dengan gaya baru.

Platform investasi bernama “Shupai Yigou”

Korban bernama Song Zheng mengungkapkan bahwa jika tidak membeli barang, maka tidak bisa mendapat keuntungan maupun menarik dana. Setelah membeli barang, baru bisa menarik dana sebagian, namun harga barang sangat tidak masuk akal. Misalnya, beras seharga 19 yuan dijual 400–500 yuan, ponsel yang harga pasarnya sekitar 800 yuan dijual 6000 yuan. Ia sendiri menginvestasikan 1 juta yuan (sekitar 2,2 miliar rupiah), namun belum pernah berhasil menarik dana.

Saat ini, ketua platform, Wang Shaoqing, dilaporkan  menghilang, nomor ponselnya sudah tidak aktif, alamat terdaftar platform telah dibatalkan, dan kantor juga telah dikosongkan. (Hui/asr)

Laporan wartawan NTD, Zhao Fenghua

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine