Pandangan Hidupku

Hidup itu seperti sebuah buku—memiliki banyak versi.
Ada yang menjalani hidup penuh kebahagiaan,
ada yang melewati hidup penuh penderitaan,
ada yang menghadapi hidup berliku-liku,
ada yang hidup dengan kekakuan dan kelekatan,
dan ada pula yang memilih hidup penuh romantika.

Jika ditelusuri sampai ke akar, setiap versi tak lain adalah bayangan dari cara pandang hidup dan nilai hidup seseorang.

Sejarah hidup seseorang ditulis oleh “pena kehidupan”.
Di dalamnya ada suka cita perjuangan, ada kegembiraan dari keberhasilan, tetapi juga ada kesedihan dari kegagalan dan kejatuhan.
Namun antara keberhasilan dan kegagalan, tidak ada jurang yang tak bisa dilewati. Bahkan bisa dikatakan, dalam keberhasilan tersimpan bibit kegagalan, dan dalam kegagalan tersembunyi peluang keberhasilan.

Jalan hidup penuh dengan rintangan.
Dalam menjalani hidup, kehati-hatian adalah hal terpenting.
Kita harus memiliki kesadaran bahwa hal buruk bisa terjadi kapan saja—agar kelak tidak menyesal sambil berkata, “Andai saja dulu…”

Hidup Tak Mungkin Sempurna—Justru di Situlah Warnanya

Manusia selalu mengejar kesempurnaan, tetapi tetap saja akan ada kekurangan dan penyesalan.
Hidup tak mungkin lengkap seratus persen.
Justru kekurangankah yang membuat hidup terasa nyata.
Benturan hidup akan menimbulkan riak-riak yang kemudian melahirkan keindahan.
Air tanpa angin tak akan menimbulkan gelombang; kain bordir secantik apa pun tetap tak memiliki harum.
Tanpa tantangan, tak ada keberhasilan.
Tanpa rintangan, tak ada kemenangan.

Dalam hidup, sembilan dari sepuluh hal sering kali tidak berjalan sesuai harapan.
Kalau kita mampu melepaskannya, kita menemukan ketenangan.
Jika tidak, kita justru menciptakan penderitaan sendiri—bahkan menggendongnya sampai tua.
Untuk apa menyiksa diri seperti itu?

Tentang Hidup dan Mati—Sikap yang Tepat

Soal hidup dan mati juga harus dipahami dengan benar.

Zhuangzi berkata,
“Hidup dan mati seperti pergantian siang dan malam.”
Konfusius berkata,
“Bagaimana memahami kematian kalau hidup saja belum kita pahami?”

Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan hidup dan mati—sejak kita lahir, kematian sudah menjadi bagian tak terpisahkan.

Hidup belum tentu membahagiakan; mati belum tentu menyedihkan.
Jika hidup tanpa martabat, apa yang patut dinikmati?
Jika kematian membawa martabat, mengapa harus ditangisi?

“Awan berpisah, air terus mengalir;
Alam menjadi sunyi tanpa beban.”

Tidak ada yang perlu dipandang secara pesimis.

Karena itu, yang terpenting bukanlah bagaimana kita mati,
melainkan bagaimana kita hidup:
— Apakah kita memberi manfaat untuk masyarakat?
— Apakah hidup kita memiliki makna?
— Apakah kita memiliki tujuan?
— Apakah kita hidup sesuai nilai yang benar?

Itulah inti dari sebuah kehidupan yang layak dijalani. (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine