Ganti Piring, Jual Telur Jadi Laris

EtIndonesia. Pendiri Morgan Group di Amerika, Morgan, pada masa mudanya merantau dari Eropa ke Amerika dalam keadaan sangat miskin—dia bahkan nyaris tak memiliki apa pun selain pakaian di badan.

Setelah menikah, dengan susah payah pasangan ini akhirnya membuka sebuah toko kelontong kecil yang menjual telur. Namun ada satu hal yang aneh: Morgan yang bertubuh tinggi dan besar justru menjual telur jauh lebih sedikit dibanding istrinya yang bertubuh kecil dan ramping.

Morgan merasa heran. Setelah mengamati dengan saksama, dia akhirnya menemukan penyebabnya. Ketika dia menjual telur dengan menaruh telur di telapak tangannya, karena ukuran tangannya besar, mata pembeli secara visual merasa telur tersebut terlihat kecil.

Sebaliknya, saat istrinya yang bertangan kecil dan ramping menyerahkan telur kepada pelanggan, telur itu justru tampak lebih besar karena kontras dengan ukuran tangannya.

Menyadari hal ini, Morgan segera mengubah cara menjual telur.

Dia tidak lagi memegang telur dengan tangan, melainkan meletakkannya di atas sebuah nampan yang kecil dan dangkal. Dengan perbandingan visual seperti itu, telur-telur tampak lebih besar di mata pembeli. Benar saja, penjualan telur pun langsung meningkat.

Namun Morgan tidak berhenti sampai di situ. Dia berpikir, jika persepsi visual saja bisa memengaruhi penjualan, maka ilmu berdagang tentu jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Sejak saat itu, dia mulai mendalami psikologi, ilmu bisnis, dan manajemen secara serius—hingga akhirnya berhasil membangun Morgan Group yang besar.

Sementara itu, di Tokyo, Jepang, seorang pemilik kedai kopi juga memanfaatkan persepsi visual manusia terhadap warna untuk meningkatkan keuntungan.

Dia menyuguhkan kopi dengan tingkat kepekatan yang sama kepada lebih dari tiga puluh temannya. Masing-masing diberi empat cangkir kopi, namun warna cangkirnya berbeda: cokelat kopi, merah, hijau kebiruan, dan kuning.

Hasilnya sangat menarik. Padahal kopi yang diminum sama persis, penilaian mereka berbeda-beda. Kopi dalam cangkir hijau kebiruan dianggap “terlalu encer”; cangkir kuning dinilai “tidak terlalu kental, pas”; sedangkan kopi dalam cangkir cokelat dan merah dianggap “terlalu kental”. Bahkan, sekitar 90% responden mengatakan kopi dalam cangkir merah terasa “sangat pekat”.

Sejak saat itu, pemilik kedai tersebut mengganti semua cangkir di tokonya menjadi berwarna merah. Dengan cara ini, dia bisa mengurangi takaran kopi tanpa mengurangi kepuasan pelanggan, sekaligus meninggalkan kesan yang sangat baik.

Akibatnya, jumlah pelanggan terus bertambah dan usahanya berkembang pesat.

Kesuksesan selalu berpihak pada mereka yang terus menemukan masalah, lalu menganalisis dan memecahkannya.

Perbedaan ukuran telapak tangan yang sangat kecil mampu melahirkan Morgan Group. Perbedaan warna merah dan hijau kebiruan mampu membuat sebuah kedai kopi berkembang pesat. Hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kebanyakan orang justru sering memegang peranan yang sangat menentukan.

Cobalah lebih peka terhadap detail-detail kecil di sekitar kita. Mungkin, Morgan berikutnya adalah dirimu sendiri.

Hikmah Cerita 

Kisah hari ini mengingatkan pada sebuah kalimat: tidak ada barang yang tidak bisa dijual, yang ada hanyalah orang yang belum menemukan cara menjualnya.

Orang yang bijaksana akan menemukan letak masalah, lalu menganalisis perbedaan yang ada untuk menemukan solusi. Setiap orang sukses memiliki kemampuan mengamati perbedaan kecil dan mengubahnya menjadi peluang.

Seperti Morgan dalam kisah ini—dia menyadari bahwa perbedaan antara dirinya dan istrinya bukan pada kualitas telur, melainkan pada ukuran tangan yang membuat telur tampak kecil atau besar. Karena ukuran tangan tidak bisa diubah, ia pun mengalihkan fokus pelanggan dengan menggunakan nampan kecil dan dangkal, sehingga persepsi visual berubah dan penjualan pun melonjak.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine