Dunia Tertipu? Lembaga Riset Ungkap Fakta Sebenarnya tentang “Penutupan” Selat Hormuz

ETIndonesia. Sebuah investigasi terbaru membalik pemahaman publik: Selat Hormuz sebenarnya tidak sepenuhnya diblokade. Penelitian menunjukkan bahwa banyak kapal tanker minyak tetap melintas dengan cara “berlayar secara tersembunyi”, seperti mematikan transponder atau memalsukan GPS, sehingga menciptakan “kabut elektronik” yang menyesatkan penilaian pasar.

Analisis juga menyebut bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran memanfaatkan situasi ini—di satu sisi menciptakan ketegangan untuk mendorong kenaikan harga minyak, di sisi lain menarik biaya dari kapal yang lewat. Setelah laporan ini dirilis, harga minyak internasional mulai turun secara signifikan.

Menurut investigasi terbaru dari Citrini Research, Selat Hormuz tidak benar-benar ditutup total seperti yang selama ini diberitakan.

Analis dari lembaga tersebut bahkan melakukan pengamatan langsung di pesisir Oman dan menemukan bahwa banyak kapal tanker masih terus mengangkut minyak mentah.

Laporan itu menyebutkan bahwa sekitar 50% lalu lintas kapal tanker “menghilang” dari sistem pelacakan publik. Hal ini terjadi karena kapal-kapal tersebut:

  • Mematikan transponder (AIS)
  • Memalsukan data GPS
  • Menggunakan identitas kapal yang sudah pensiun
  • Mengirim sinyal dengan daya rendah

Teknik-teknik ini menciptakan “kabut elektronik” yang membuat pasar mengira selat tersebut benar-benar ditutup, sehingga memicu kepanikan dan mendorong lonjakan harga minyak.

Para analis juga menemukan bahwa pada kenyataannya, lalu lintas kapal dikendalikan oleh Garda Revolusi Iran. Kapal yang bersedia membayar biaya dan menerima pengawalan dapat melintas dengan lancar, sedangkan yang menolak berisiko dicegat atau diserang.

Laporan tersebut menegaskan bahwa “blokade selektif” ini memungkinkan Iran untuk:

  • Menciptakan ketegangan pasar dan menjaga harga tetap tinggi
  • Sekaligus memperoleh keuntungan dari biaya transit

Setelah laporan ini dirilis, harga minyak Brent turun dari sekitar 115 dolar AS menjadi sekitar 108 dolar AS.

Selain itu, laporan juga menyebut bahwa sejak konflik pecah, lebih dari 3 miliar dolar AS minyak mentah telah mengalir melalui selat tersebut menuju Tiongkok. Sebagian transaksi dilakukan menggunakan yuan, yang diduga dapat secara tidak langsung mendukung aktivitas militer Iran.

Laporan oleh Liu Jiajia dari New Tang Dynasty Television di Amerika Serikat.

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine