Berbagai jenis dahak dapat menunjukkan penyakit yang berbeda. Dengan mengenali jenisnya, praktisi dapat melakukan diagnosis dan penanganan yang lebih tepat.
Ellen Wan
Dahak yang Anda keluarkan bisa mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam tubuh.
Secara umum, dahak dikenal sebagai lendir yang dihasilkan saat batuk. Namun, bagi praktisi pengobatan tradisional Tiongkok (PTT), dahak memiliki makna lebih luas. Dahak dianggap sebagai limbah yang menumpuk di dalam tubuh.
Lee Ying-Ta, seorang dokter di Tzuhang Chinese Medicine Clinic di Taiwan, mengatakan bahwa dalam teori PTT, dahak merupakan produk sampingan yang terbentuk ketika metabolisme cairan tubuh mengalami ketidakseimbangan.
Jenis-Jenis Dahak
Hu Naiwen, praktisi PTT di Taiwan sekaligus kontributor The Epoch Times, mengatakan bahwa dalam PTT, dahak dianggap sebagai faktor penting dalam perkembangan penyakit.
Namun, dahak tidak seharusnya dihilangkan sepenuhnya. Tanpa dahak, trakea dan bronkus dapat menjadi terlalu kering, yang berpotensi menyebabkan batuk kering. Dahak juga berperan penting dalam membersihkan saluran pernapasan.
Warna dan tekstur dahak sering kali mencerminkan berbagai jenis ketidakseimbangan dalam tubuh. Secara umum, dahak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Dahak Dingin: Biasanya berwarna putih dan sering terkait dengan kondisi dingin dalam tubuh. Umumnya muncul saat flu yang disertai menggigil dan buang air besar encer.
- Dahak Panas: Biasanya berwarna kuning atau hijau, sering terjadi saat infeksi, atau pada flu yang disertai tenggorokan kering dan sakit, rasa haus, batuk kering, dan demam.
- Dahak Defisiensi: Berbuih atau encer, biasanya terkait dengan kelemahan fisik, batuk jangka panjang, atau metabolisme yang lambat.
- Dahak Berlebih: Lebih kental dan terkadang sulit dikeluarkan, sering berkaitan dengan penumpukan limbah metabolisme dalam tubuh.
Ketika dahak menumpuk di paru-paru, hal ini dapat menyebabkan gejala seperti batuk berdahak, hidung tersumbat, atau pilek. Jika menumpuk di lambung, dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti muntah atau kembung. Jika menumpuk di persendian, dapat menyebabkan rasa berat pada anggota tubuh atau mati rasa.
Pengobatan Berdasarkan Tipe Tubuh
Lee mencontohkan kasus seorang wanita berusia 50-an yang mengalami dahak terus-menerus akibat rinitis alergi, dengan dahak yang tipis, bening, dan berbuih. Meskipun telah menjalani perawatan rumah sakit selama hampir dua bulan, gejalanya tidak membaik.
Ia kemudian mencari pengobatan PTT. Setelah mendapatkan ramuan herbal yang disesuaikan dengan tipe tubuhnya, gejalanya berangsur membaik secara signifikan.
Kasus seperti ini cukup umum dalam praktik klinis, kata Lee. Pasien berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, dengan jumlah anak-anak dan perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Menurut Hu, praktisi terlebih dahulu mengidentifikasi jenis dahak sebelum menentukan terapi yang tepat, seperti herbal atau akupunktur. Jenis obat dan dosis kemudian disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
PTT menekankan prinsip “pengobatan berdasarkan pola,” yaitu strategi terapi dipilih sesuai tipe tubuh dan penyebab yang mendasari.
Dahak dingin ditangani dengan metode pemanasan, sedangkan dahak panas ditangani dengan metode pembersihan. Dahak defisiensi memerlukan metode penguatan, sementara dahak berlebih memerlukan metode pengurangan.
Salah satu resep herbal klasik untuk mengurangi dahak adalah Er Chen Decoction, yang terdiri dari dua bahan utama: rimpang pinellia tua (ban xia) dan kulit jeruk kering (chen pi). Sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam herbal ini dapat membantu menghambat produksi lendir berlebih di saluran pernapasan.
Ketika gejala dahak berlebih muncul, penanganan medis sejak dini dapat membantu mencegah batuk memburuk dan mengurangi penumpukan dahak di paru-paru yang berpotensi menyebabkan peradangan.

Pir Rebus dengan Gula Batu
Pir yang dimasak dengan gula batu merupakan salah satu resep makanan klasik untuk mengatasi dahak panas, kata Lee.
Pir diketahui dapat membantu melembapkan paru-paru, mengurangi dahak, dan meredakan batuk.
Namun, orang dengan fungsi pencernaan lemah atau yang mengalami kondisi “dingin” sebaiknya menghindari konsumsi pir.
Bahan:
- 1 buah pir
- Sedikit gula batu
Cara membuat:
- Cuci pir hingga bersih, kupas kulitnya, buang bagian inti, lalu isi bagian tengah dengan sedikit gula batu.
- Masukkan pir ke dalam panci dan tambahkan air hingga terendam. Didihkan, lalu kecilkan api dan rebus sekitar 30 menit hingga pir menjadi lunak.
- Angkat, biarkan agak dingin, kemudian konsumsi pir dan air rebusannya selagi hangat.
Penyesuaian Pola Makan
Lee menyarankan untuk menghindari makanan dingin atau yang didinginkan, terutama saat sedang flu.
Jika seseorang didiagnosis memiliki tipe tubuh dingin menurut PTT, maka sebaiknya menghindari makanan yang bersifat mendinginkan seperti pir, melon, buah naga, pisang, jeruk bali, dan belimbing. Dalam teori PTT, teh hijau dan kopi juga dianggap bersifat mendinginkan.
Sebaliknya, bagi yang memiliki tipe tubuh panas atau kering, sebaiknya menghindari makanan yang bersifat memanaskan atau mengeringkan, seperti gorengan, makanan pedas, dan kacang tanah panggang.


