Gelombang Panas Bersejarah Melanda Prancis, Kebakaran Hutan di Wilayah Selatan Paksa Hampir 3.000 Orang Dievakuasi

Setelah dilanda gelombang panas bersejarah, wilayah selatan Prancis kini menghadapi kebakaran hutan yang meluas. Pada Kamis (2 Juli), hampir 3.000 orang terpaksa dievakuasi, sementara pemerintah mengerahkan sejumlah besar petugas pemadam kebakaran serta helikopter dan pesawat pemadam untuk mengendalikan api.

EtIndonesia.com Laporan AFP menyebutkan kebakaran hutan terjadi di Sainte-Marie-la-Mer, Prancis selatan, pada Kamis (2/6). kebakaran kemudian meluas hingga Canet-en-Roussillon. Akibatnya, hampir 3.000 wisatawan dan penduduk setempat harus dievakuasi secara darurat.

Petugas pemadam kebakaran mengatakan bahwa sekitar setengah dari warga yang dievakuasi berasal dari tiga lokasi perkemahan (camping ground) yang terdampak kebakaran.

Pihak berwenang mengerahkan 200 petugas pemadam kebakaran serta empat pesawat pemadam kebakaran untuk memadamkan api. 

Prefek Departemen Pyrénées-Orientales, Pierre Regnault de La Mothe, mengatakan bahwa dua petugas pemadam mengalami luka ringan. De La Mothe mengatakan: “Kami sedang mengerahkan jaringan relawan dalam skala besar untuk membantu penanganan kebakaran.”

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menyatakan bahwa sejak Rabu (1 Juli), pemerintah telah mengerahkan 1.200 petugas pemadam kebakaran untuk memerangi kebakaran hutan. Dalam unggahannya di platform X, ia mengatakan: “Kondisi cuaca masih sangat tidak menguntungkan.”

Pekan lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menyatakan bahwa gelombang panas luar biasa ini tidak hanya menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan manusia, ekosistem, pertanian, dan infrastruktur, tetapi juga secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan.

Sementara itu, Météo-France (Badan Meteorologi Prancis) memperkirakan gelombang panas baru akan melanda Prancis pada pekan depan, meskipun intensitasnya diperkirakan tidak seekstrem gelombang panas yang terjadi pada  Juni.

Prancis mengalami gelombang panas selama 11 hari pada bulan Juni yang memecahkan rekor, dengan suhu di banyak daerah melampaui 40 derajat Celsius.

Sejumlah politisi mengkritik pemerintah karena dinilai tidak cukup sigap dalam menghadapi kenaikan suhu ekstrem. Pada Kamis, Partai Hijau juga mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah.

Surat kabar Prancis Le Monde menulis bahwa meskipun pemerintah berupaya mempertahankan rekam jejak kebijakan lingkungannya, jutaan warga Prancis tetap harus menghadapi dampak gelombang panas sendiri di rumah, sekolah, rumah sakit, maupun tempat kerja.

“Gelombang panas ini telah menyebabkan seribu orang meninggal dunia, namun hingga saat ini belum ada pernyataan belasungkawa dari Perdana Menteri maupun Kepala Negara,” demikian laporan Le Monde. (***)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine