Dalam sepuluh tahun terakhir, populasi Tiongkok terus menurun dan angka kelahiran juga terus merosot. Kondisi ini semakin parah dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di daerah pedesaan, tetapi juga di kota-kota besar seperti Shenzhen. Data resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) menunjukkan bahwa tahun ini hampir 30 ribu sekolah dasar dan taman kanak-kanak ditutup. Para analis mengatakan, kondisi tersebut merupakan masalah struktural yang disebabkan oleh kebijakan di bawah sistem PKT.
EtIndonesia.com Dalam sepuluh tahun terakhir, penurunan populasi dan kemerosotan ekonomi di bawah pemerintahan PKT secara bertahap telah berdampak pada keluarga, guru, serta lembaga-lembaga pendidikan.
Menurut wawancara yang dihimpun kanal “Jinri Huaxia” (Tiongkok Masa Kini), seorang kepala sekolah dasar di daerah pedesaan mengatakan bahwa setelah enam sekolah dasar dari enam desa digabungkan, jumlah muridnya hanya 24 orang.
Ada laporan yang menyebutkan bahwa sejak awal tahun ini, sekitar 40 taman kanak-kanak di 10 distrik di Guangzhou telah tutup.
Para analis menilai, fenomena penuaan penduduk dan rendahnya angka kelahiran di Tiongkok harus dikaitkan dengan kebijakan satu anak PKT serta kemerosotan ekonomi.
“Ketika kami berada di Shenzhen pada tahun-tahun awal, kami sudah melihat taman kanak-kanak mulai ditutup. Misalnya di pedesaan, sejak awal tahun 2000-an banyak sekolah dasar mulai ditutup dan digabungkan,” kata Ai Shicheng, pemimpin redaksi media dan mantan pendiri sebuah LSM di Shenzhen.
“Masalah besar Tiongkok adalah ketidakseimbangan struktur populasi. Struktur keluarga terdiri dari beberapa orang lanjut usia dan hanya satu atau dua anak. Ke depannya, jumlah penduduk akan terus berkurang secara geometris. Ini bukan sekadar penurunan biasa,” jelasnya.
Para analis mengatakan bahwa terus berkurangnya jumlah anak usia sekolah dapat memberikan dampak serius terhadap sektor pendidikan, termasuk menyebabkan kelebihan tenaga guru dan kemerosotan industri pendidikan.
“Berkurangnya jumlah anak di taman kanak-kanak dan sekolah dasar akan merambat ke seluruh rantai industri terkait. Produk ibu dan bayi, pelatihan anak, perumahan di kawasan sekolah, penitipan anak di luar sekolah, dan seluruh rantai konsumsi yang terbentuk di sekitarnya akan ikut menyusut, bahkan beberapa di antaranya bisa menghilan,” kata Xu Zhen, veteran pasar modal Tiongkok.
“Khususnya sistem perumahan di kawasan sekolah, yang sebelumnya menjadi salah satu penopang penting harga pasar properti Tiongkok. Dengan terus menurunnya jumlah anak selama sepuluh tahun, ekspektasi kenaikan harga rumah dalam jangka pendek secara bertahap akan menjadi sia-sia,” jelasnya.
Menurut data yang diumumkan otoritas PKT, jumlah kelahiran turun dari sekitar 12 juta bayi pada 2020 menjadi 9,02 juta pada 2023. Pada 2025, jumlah kelahiran di Tiongkok tercatat 7,92 juta, turun 1,62 juta dibandingkan 9,54 juta pada 2024.
Pada Juli tahun ini, PKT merilis data yang menyebutkan bahwa jumlah sekolah dasar reguler secara nasional berkurang sekitar 8.000 sekolah dibandingkan tahun sebelumnya, sementara jumlah taman kanak-kanak berkurang 21.400 sekolah. Secara keseluruhan, hampir 30 ribu sekolah dasar dan taman kanak-kanak telah berkurang.
Para analis menunjukkan bahwa akar masalahnya terletak pada kebijakan dan persoalan struktural di bawah pemerintahan PKT.
“Sekarang seluruh perekonomian sedang mengalami penurunan. Tekanan terhadap kaum muda sangat besar dan mereka tidak melihat adanya harapan. Ketika kaum muda memasuki dunia kerja, mereka langsung menghadapi pengangguran atau tekanan persaingan yang sangat tinggi. Mereka tidak melihat harapan, ekspektasi psikologis terhadap masyarakat telah hilang, sehingga mereka memilih untuk ‘rebahan’ atau tidak lagi berjuang,” ujar Ai Shicheng.
Xu Zhen: “Penurunan tajam jumlah anak usia sekolah bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri dalam sistem pendidikan. Ini merupakan respons dan dampak balik dari seluruh sistem ekonomi dan sosial terhadap harga rumah yang tinggi selama beberapa dekade, biaya membesarkan anak yang mahal, budaya kerja berlebihan seperti 996 dan 007, serta minimnya perlindungan bagi keluarga untuk memiliki anak.
“Jika model pembangunan ekonomi Tiongkok tidak mengalami perubahan mendasar, krisis ekonomi dan demografi yang berlangsung panjang ini akan terus menggerus sumber daya penggerak perekonomian Tiongkok.”
Laporan reporter New Tang Dynasty Television (NTD), Qiu Yue.


