Moskow Digempur Besar-besaran! 1.600 Drone Mengamuk Saat Pemilu Rusia, Eropa Mulai Siaga Perang

EtIndonesia.com Ketegangan perang Rusia-Ukraina kembali meningkat tajam. Pada saat Rusia memasuki hari terakhir pemilihan parlemen, Moskow dan wilayah di sekitarnya justru menghadapi salah satu serangan udara paling besar sejak perang Ukraina memasuki fase invasi skala penuh pada Februari 2022.

Pada Minggu, 20 September 2026, gelombang drone Ukraina menyerang Moskow dan sejumlah wilayah Rusia. Serangan berlangsung ketika jutaan warga Rusia sedang memberikan suara pada hari terakhir pemilihan anggota Duma Negara.

Menurut Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin, pertahanan udara Rusia sejak Sabtu, 19 September 2026, telah menghadapi serangan dalam skala yang belum pernah dialami ibu kota sebelumnya. Sobyanin menyatakan lebih dari 1.600 drone telah dicegat, termasuk sekitar 450 drone yang disebut bergerak menuju Moskow.

Pernyataan tersebut merupakan klaim pemerintah Rusia dan angka persis mengenai jumlah drone yang benar-benar diluncurkan Ukraina sulit diverifikasi secara independen di tengah berlangsungnya perang.

Namun, besarnya kerusakan menunjukkan bahwa sebagian wahana udara berhasil menembus pertahanan.

Salah satu sasaran paling penting adalah Kilang Minyak Moskow di kawasan Kapotnya. Sejumlah drone mencapai kompleks tersebut dan menyebabkan kerusakan serta kebakaran. Fasilitas ini merupakan salah satu pusat pengolahan minyak penting yang memasok kebutuhan bahan bakar kawasan Moskow.

Asap hitam tebal terlihat membubung dari kawasan kilang setelah serangan.

Selain fasilitas energi, bangunan tempat tinggal di wilayah sekitar Moskow juga terkena dampaknya. Di sejumlah lokasi, puing drone atau serangan langsung menyebabkan kebakaran dan kerusakan bangunan.

Di Distrik Ramenskoye, ratusan penghuni sebuah gedung apartemen harus dievakuasi setelah kebakaran terjadi pada bagian atap bangunan. Sekitar 400 orang, termasuk puluhan anak-anak, dilaporkan dipindahkan dari kawasan tersebut demi alasan keamanan.

Berdasarkan laporan terbaru pada 20 September 2026, sedikitnya tiga orang meninggal dunia akibat serangan di wilayah Moskow. Sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka.

Serangan tersebut menjadi semakin sensitif karena berlangsung tepat ketika Rusia sedang menyelesaikan pemilihan parlemen tiga hari yang dimulai pada Jumat, 18 September 2026, dan berakhir pada Minggu, 20 September.

Pemilu tersebut menentukan seluruh 450 kursi Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia. Lebih dari 111 juta orang tercatat memenuhi syarat untuk memberikan suara.

Pemungutan suara juga dilakukan di empat wilayah Ukraina yang diklaim dan dianeksasi Rusia setelah dimulainya perang, meskipun Moskow hingga kini tidak menguasai seluruh wilayah tersebut. Aneksasi itu tidak diakui secara luas oleh masyarakat internasional.

Partai Rusia Bersatu, yang mendukung Presiden Vladimir Putin dan telah lama mendominasi politik Rusia, memasuki pemilu dalam posisi sangat kuat. Pemilu kali ini juga berlangsung dalam situasi politik yang sangat terkendali, dengan ruang bagi kelompok oposisi terhadap kebijakan Kremlin jauh lebih terbatas dibandingkan sebelum perang.

Sobyanin menuduh serangan drone tersebut sengaja dirancang untuk mengganggu pemilu. Namun, tuduhan mengenai tujuan politik serangan itu merupakan klaim pemerintah Rusia.

Di pihak lain, Ukraina menyatakan bahwa operasi jarak jauhnya ditujukan terhadap infrastruktur yang berkaitan dengan kemampuan perang Rusia, terutama sektor energi dan logistik.

Dengan demikian, peristiwa 19–20 September 2026 memperlihatkan perubahan penting dalam perang: ancaman serangan udara tidak lagi terbatas pada wilayah Rusia yang berdekatan dengan Ukraina. Moskow, yang terletak ratusan kilometer dari garis depan, semakin sering menjadi bagian langsung dari medan perang.

Kekhawatiran Eskalasi Rusia

Serangan terhadap Moskow terjadi ketika muncul laporan lain mengenai kemungkinan peningkatan operasi militer Rusia terhadap Ukraina.

Sebelumnya, The Economist melaporkan berdasarkan sumber yang disebut dekat dengan Kremlin bahwa setelah mempertimbangkan situasi perang selama beberapa pekan pada musim panas 2026, Putin tampaknya memilih jalur eskalasi.

Salah satu kemungkinan terbesar adalah penambahan kekuatan manusia dalam jumlah sangat besar.

Menurut sumber Rusia yang dikutip laporan tersebut, Kremlin disebut mempertimbangkan pengerahan tambahan sekitar 300.000 hingga 400.000 personel untuk memperkuat operasi darat di Ukraina.

Rusia tidak harus mengumumkan mobilisasi umum baru apabila ingin menambah pasukan. Salah satu kemungkinan yang dilaporkan adalah peningkatan perekrutan melalui pemerintah daerah sehingga proses penambahan personel dapat dilakukan secara bertahap.

Jika benar-benar diwujudkan, tambahan ratusan ribu personel tersebut dapat menunjukkan bahwa Moskow masih mempersiapkan perang berkepanjangan.

Ancaman kedua adalah infrastruktur energi Ukraina.

Pada 30 Agustus 2026, Kementerian Pertahanan Rusia menyampaikan mengenai persiapan serangan besar terhadap infrastruktur energi Ukraina. Bagi Kyiv, ancaman tersebut sangat serius karena memasuki musim dingin, pembangkit listrik, gardu distribusi, fasilitas gas, dan jaringan energi menjadi sangat penting bagi kehidupan jutaan warga sipil.

Ancaman ketiga yang mendapat perhatian Eropa adalah perluasan apa yang disebut sebagai perang hibrida.

Bentuknya tidak selalu berupa serangan militer konvensional. Ancaman tersebut dapat meliputi operasi siber, sabotase, spionase, disinformasi, gangguan terhadap infrastruktur kritis, hingga operasi terhadap jaringan logistik yang digunakan untuk mendukung Ukraina.

Eropa Mulai Memperkuat Kesiapan

Perkembangan tersebut menjelaskan mengapa dalam beberapa pekan terakhir pemerintah-pemerintah Eropa semakin terbuka berbicara mengenai kesiapsiagaan keamanan.

Pada 18 September 2026, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa ancaman hibrida Rusia yang dihadapi Prancis dan negara-negara Eropa telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Paris kini mempersiapkan langkah untuk memperkuat perlindungan terhadap infrastruktur penting dan menghadapi kemungkinan sabotase, serangan siber maupun operasi drone.

Pada hari yang sama, 18 September, pemerintah Swiss secara resmi mengadopsi Strategi Kebijakan Keamanan Swiss 2026.

Dokumen tersebut menyatakan lingkungan keamanan internasional telah menjadi semakin tidak stabil. Swiss menempatkan penguatan ketahanan masyarakat, perlindungan terhadap ancaman hibrida dan serangan jarak jauh, serta peningkatan kemampuan pertahanan sebagai prioritas.

Swiss menilai serangan militer langsung terhadap negaranya masih kecil kemungkinannya dalam waktu dekat. Namun, pemerintah memperingatkan bahwa ancaman senjata jarak jauh, termasuk drone dan rudal balistik, tidak dapat diabaikan.

Polandia dan negara-negara Baltik juga memperkuat perencanaan perlindungan sipil serta koordinasi evakuasi massal. Pada 7–9 September 2026, pejabat Polandia, Lithuania, dan Latvia membahas kerja sama mengenai ketahanan sipil dan persiapan evakuasi lintas perbatasan.

Jerman pun meningkatkan perhatian terhadap kemampuan rumah sakit menghadapi keadaan krisis besar, termasuk skenario bencana, konflik, dan perang.

Semua perkembangan ini tidak berarti bahwa perang langsung antara Rusia dan NATO pasti akan terjadi. Namun, langkah-langkah tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah-pemerintah Eropa semakin memperlakukan risiko keamanan jangka panjang sebagai persoalan nyata yang membutuhkan persiapan.

Kini dua perkembangan besar berlangsung secara bersamaan.

Di satu sisi, Ukraina menunjukkan kemampuan melakukan serangan jarak jauh hingga ke jantung wilayah Rusia, termasuk Moskow. Di sisi lain, muncul laporan bahwa Kremlin mempertimbangkan pengerahan ratusan ribu personel tambahan dan peningkatan tekanan militer terhadap Ukraina.

Serangan besar pada 19–20 September 2026, yang bertepatan dengan hari terakhir pemilu parlemen Rusia, akhirnya menjadi simbol betapa jauh perang telah berubah.

Moskow tidak lagi sepenuhnya berada jauh dari dampak langsung medan pertempuran. Infrastruktur energi, kawasan permukiman, bandara, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Rusia semakin merasakan konsekuensi perang.

Dan ketika Rusia serta Ukraina terus meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh mereka, perhatian kini tidak hanya tertuju pada apa yang terjadi di garis depan.

Pertanyaan yang semakin penting adalah seberapa jauh eskalasi berikutnya akan berlangsung—dan bagaimana negara-negara Eropa mempersiapkan diri menghadapi perang yang telah memasuki fase semakin luas dan sulit diprediksi. (***)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine