EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam pada 19–20 September 2026, setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Arab Saudi. Situasi menjadi semakin sensitif karena pada saat bersamaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya tengah mempertimbangkan langkah berikutnya terhadap Iran, sementara Teheran meningkatkan kesiapan militernya dan tetap membuka jalur diplomasi.
Pada 19 September 2026, Arab Saudi mengonfirmasi bahwa Houthi menembakkan rudal balistik menuju ibu kota Riyadh. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan rudal tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.
Serangan itu menjadi sangat penting karena merupakan serangan pertama terhadap Riyadh sejak konflik Saudi-Houthi kembali mengalami eskalasi pada Juli 2026. Selain Riyadh, Saudi menyatakan serangan atau upaya serangan juga terjadi terhadap Bisha, Taif, Farasan dan Yanbu. Houthi sendiri mengklaim menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah dan pesawat nirawak untuk menyerang sejumlah sasaran di wilayah Saudi.
Asap tebal dan kobaran api terlihat di sekitar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Namun, terdapat perbedaan antara laporan awal mengenai dampak serangan dan pernyataan resmi Saudi. Karena itu, rincian kerusakan di kawasan bandara masih harus diperlakukan secara hati-hati.
Perkembangan tersebut terjadi ketika perhatian dunia juga tertuju pada Presiden Trump.
Trump sebelumnya berada di Camp David, Maryland, tetapi mempersingkat kunjungannya dan kembali ke Gedung Putih pada Sabtu malam, 19 September 2026, lebih cepat dari rencana sebelumnya. Gedung Putih tidak memberikan penjelasan resmi yang menghubungkan perubahan jadwal itu dengan satu peristiwa tertentu.
Menariknya, pada pagi hari yang sama terjadi pelanggaran wilayah udara terbatas di sekitar Camp David.
Sekitar pukul 07.50 waktu setempat pada 19 September, sebuah pesawat penerbangan umum memasuki wilayah udara terbatas di atas Thurmont, Maryland. NORAD kemudian mengerahkan F-16 untuk mencegat pesawat tersebut.
Dalam proses pencegatan, F-16 melepaskan flare untuk menarik perhatian pilot sebelum pesawat itu dikawal keluar dari wilayah terlarang. Tidak ada korban ataupun kerusakan, dan yang terpenting, tidak terdapat bukti bahwa pesawat tersebut memang bermaksud mengancam Trump.
Trump Pertimbangkan Langkah Berikutnya terhadap Iran
Ketegangan semakin meningkat pada 20 September 2026, ketika Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya sedang berada dalam tahap menentukan langkah berikutnya terhadap Iran.
Trump mengatakan ia memperkirakan akan terjadi perkembangan besar dalam waktu dekat. Pilihan yang sedang dipertimbangkan Washington, menurut laporan mengenai wawancara tersebut, mencakup tekanan ekonomi lebih berat, kemungkinan operasi militer, ataupun tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
Trump bahkan melontarkan pernyataan keras dengan mempertanyakan apakah dan kapan ia harus melancarkan serangan besar terhadap Iran, sembari memperingatkan Teheran agar “bersikap baik”.
Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik Amerika Serikat-Iran dapat memasuki fase baru.
Namun, belum ada pengumuman resmi bahwa Trump telah mengambil keputusan final untuk memerintahkan serangan besar-besaran.
Di pihak Iran, para pejabat keamanan mengklaim memperoleh informasi bahwa Amerika Serikat sedang mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap negara tersebut dengan dukungan sejumlah pemerintah regional.
Iran kemudian memperingatkan bahwa serangan Amerika akan mendapatkan balasan terhadap pangkalan militer dan kepentingan strategis AS di kawasan. Klaim mengenai rencana operasional Amerika tersebut belum dikonfirmasi secara independen oleh Washington.
Sejumlah laporan dan pemantauan terbuka juga menyebut meningkatnya aktivitas militer Amerika di kawasan. Namun, informasi mengenai jumlah pesawat tanker, penerbangan pengebom strategis, sasaran spesifik yang telah ditentukan Amerika, maupun klaim mengenai pesawat tempur di sekitar Bandar Abbas belum semuanya mendapatkan konfirmasi resmi. Karena itu, pergerakan tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa operasi serangan baru telah diputuskan.
Iran Membuka Jalur Diplomasi
Di tengah ancaman perang, jalur diplomasi ternyata masih berjalan.
Pada 19 September 2026, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan bahwa Teheran telah menyampaikan persyaratan kepada Washington melalui mediator Qatar.
Di antara tuntutan yang diumumkan Iran adalah penghentian perang di seluruh front, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta berakhirnya blokade laut Amerika Serikat.
Iran mengatakan masih menunggu tanggapan Trump. Qatar menjadi salah satu perantara utama, sementara Pakistan juga tetap terlibat dalam upaya diplomasi.
Dengan demikian, Teheran tampaknya sedang menjalankan dua strategi secara bersamaan: mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi militer baru, tetapi tetap mempertahankan pintu perundingan.
Trump sendiri sebelumnya mengatakan bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung. Pertemuan tingkat tinggi di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York juga menjadi salah satu jalur yang diperhatikan untuk melihat apakah diplomasi masih dapat mencegah eskalasi lebih jauh.
Turki Tutup Operasi Bank Mellat
Tekanan terhadap Iran tidak hanya berlangsung di bidang militer.
Pada 18 September 2026, Badan Regulasi dan Pengawasan Perbankan Turki atau BDDK memutuskan mencabut izin operasional cabang Bank Mellat Iran di Istanbul. Keputusan tersebut kemudian dipublikasikan dalam lembaran resmi Turki pada 19 September 2026.
Regulator Turki mendasarkan keputusan itu pada ketentuan hukum perbankan yang memungkinkan pencabutan izin apabila kelanjutan kegiatan suatu bank dianggap berisiko terhadap hak deposan ataupun keamanan dan stabilitas sistem keuangan.
Pada saat yang sama, Ankara menyatakan kesiapan membantu Arab Saudi dalam bidang pertahanan di tengah meningkatnya ancaman Houthi.
Situasi tersebut membuat konflik Yaman semakin berpotensi bersinggungan dengan persaingan regional yang jauh lebih besar.
Saudi dan mBridge: Perlu Diluruskan
Perkembangan lain yang mendapat perhatian adalah kabar mengenai keluarnya Arab Saudi dari proyek pembayaran lintas batas mBridge, sistem berbasis teknologi distributed ledger yang melibatkan sejumlah bank sentral dan dirancang untuk mempermudah transaksi lintas batas menggunakan mata uang digital.
Namun, kronologinya perlu diperjelas.
Laporan yang muncul pada 20 September 2026 menyebut Arab Saudi memang telah meninggalkan partisipasi aktifnya dalam mBridge, tetapi langkah tersebut sebenarnya telah diselesaikan pada Mei 2025, setelah Saudi menyelesaikan tahap proof of concept. Informasi mengenai keluarnya Saudi baru diketahui secara luas sekarang. Karena itu, tidak tepat menyebut Riyadh baru keluar dari mBridge pada 20 September 2026 sebagai syarat langsung untuk memperoleh dukungan militer Amerika. Tidak terdapat bukti publik yang cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat tersebut.
Kini, perhatian utama tetap tertuju pada tiga pusat kekuatan: Washington, Teheran dan Riyadh.
Serangan Houthi terhadap ibu kota Arab Saudi menunjukkan bahwa perang Yaman kembali memiliki kemampuan untuk mengguncang keamanan kawasan secara langsung. Pada saat yang sama, ancaman antara Amerika Serikat dan Iran semakin keras, meskipun jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Dengan pasukan regional berada dalam tingkat kesiagaan tinggi, serangan rudal terus berlangsung, dan Trump sedang mempertimbangkan langkah berikutnya terhadap Iran, beberapa hari ke depan dapat menjadi periode yang sangat menentukan.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah konflik akan meluas, tetapi apakah diplomasi melalui Qatar, Pakistan dan pertemuan internasional di New York masih memiliki cukup waktu untuk mencegah Timur Tengah memasuki babak konfrontasi yang jauh lebih besar. (***)


