Pusat penipuan daring di Asia Tenggara masih marak, dan belakangan ini terus terjadi kasus anak muda dari daratan Tiongkok yang diculik dan dibawa ke Myanmar. Baru-baru ini, seorang penyiar perempuan cantik berusia 24 tahun dari Tiongkok daratan ditipu hingga pergi ke Myanmar. Keluarganya dimintai uang tebusan sebesar 600.000 yuan atau Rp1,601 miliar , disertai ancaman bahwa jika tidak membayar, korban akan “dijual ke tempat hiburan”.
EtIndonesia.com Menurut laporan media daratan Tiongkok, sepupu Wang Ran mengatakan bahwa sebelumnya adiknya bekerja sebagai penyiar live streaming untuk menjual produk secara daring di Nanjing. Pada 12 September, ia terbang ke Bangkok, Thailand, tanpa memberi tahu keluarganya bahwa ia akan pergi ke luar negeri.
Pada 13 September, keluarganya menerima panggilan suara darinya. Para penculik meminta uang tebusan sebesar 600.000 yuan dan meminta keluarga mengumpulkan uang tersebut. Dalam proses negosiasi, pihak penculik mengancam melalui pesan:
“Kalian harus mengumpulkan uang itu untuk saya. Kalau tidak, saya akan menjualnya ke tempat hiburan di kompleks tersebut.”
Dalam panggilan video, keluarga melihat kondisi Wang Ran yang tampak linglung. Lingkungan tempat ia berada terlihat sangat sederhana, dengan ranjang susun yang sudah usang di sekelilingnya. Jendela ditutup menggunakan lembaran plastik hitam, sedangkan bangunannya tampak seperti gudang atau pabrik sederhana di daerah pedesaan.
Setelah mencari informasi melalui berbagai pihak, keluarga mengetahui bahwa Wang Ran telah diculik dari Thailand dan dibawa ke Myanmar.
Saat ini, ayah Wang Ran telah melaporkan kasus tersebut kepada polisi di Nanjing.

Pada awal bulan lalu, seorang perempuan Tiongkok berusia 24 tahun bernama Qi Meng terbang ke Bandara Bangkok, Thailand, setelah berlibur di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia diduga terlalu percaya pada ajakan orang asing yang menawarkan untuk “sekalian mengantarnya ke Chiang Mai”. Namun, setelah naik kendaraan tersebut, ia langsung kehilangan kontak dengan dunia luar.
Pada Agustus tahun ini, seorang perempuan Tiongkok lainnya dibujuk pergi ke Thailand dengan alasan perjalanan wisata ke luar negeri. Setelah tiba, ia naik kendaraan penjemputan yang telah disiapkan oleh pihak tersebut dan langsung kehilangan kontak.

Kelompok kriminal kemudian menyelundupkannya melalui Mae Sot di perbatasan Thailand-Myanmar dan memaksanya masuk ke kompleks penipuan daring di Myawaddy, Myanmar. Dalam perjalanan, perempuan tersebut berusaha keras melarikan diri dan melakukan perlawanan, tetapi justru dipukuli dengan brutal.
Para penculik menggunakan akun WeChat miliknya untuk menghubungi keluarga dan langsung meminta uang tebusan sebesar 300.000 yuan. Keluarga yang panik berhasil mengumpulkan 100.000 yuan dan mentransfernya. Namun, pihak penculik kemudian mengingkari kesepakatan, tetap menahan korban, dan terus menaikkan tuntutan uang.
Pada 23 Agustus, seorang perempuan Tiongkok berusia 29 tahun juga diculik oleh empat pria Thailand di Bangkok dan hendak dibawa ke Distrik Mae Sot, Provinsi Tak. Dalam perjalanan, perempuan tersebut menemukan adanya pos pemeriksaan polisi dan berhasil menyelamatkan diri dengan melompat keluar dari kendaraan.
Korban awalnya berencana transit melalui Thailand menuju Singapura. Dalam penerbangan menuju Thailand, ia berkenalan dengan seorang perempuan yang mengaku memiliki teman-teman asal Tiongkok di Thailand. Setelah lengah dan mulai mempercayainya, korban kemudian menginap di sebuah hotel di Bangkok sesuai kesepakatan.
Hari itu, korban mengira orang yang datang ke hotel untuk menjemputnya adalah seorang pemandu wisata. Ia pun naik sebuah mobil pribadi berwarna hitam. Namun di tengah perjalanan, tiga pria asing naik ke dalam mobil. Keempat pria tersebut berusaha menculiknya dan membawanya ke Distrik Mae Sot.
Beruntung, kendaraan tersebut melewati sebuah pos pemeriksaan polisi. Perempuan itu berhasil membuka pintu mobil dan melarikan diri. Polisi menangkap dua pria di tempat, sementara dua lainnya meninggalkan kendaraan dan melarikan diri.
Pada April tahun ini, seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi di Guangdong diundang pergi ke Thailand untuk menghadiri Festival Songkran. Ia bahkan telah membeli tiket pesawat untuk perjalanan pulang. Namun, segera setelah turun dari pesawat, ia langsung dikendalikan dan kemudian dijual ke kompleks penipuan daring di Myanmar. Keluarganya telah membayar uang tebusan lebih dari 200.000 yuan untuk menyelamatkannya, tetapi pihak penculik terus menunda pembebasannya. Hingga kini, keberadaan dan kondisi korban masih belum diketahui.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak anak muda ditipu dan dibawa ke kompleks penipuan daring di Asia Tenggara, kemudian dipaksa melakukan penipuan. Mereka dilaporkan mengalami penyiksaan, bahkan ada yang menjadi korban “pengambilan ginjal”, yakni pengambilan organ. Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa kelompok penipuan daring di Asia Tenggara berada di belakang jaringan yang sebagian besar dijalankan oleh warga Tiongkok dan memiliki latar belakang resmi.
Pada 7 September, militer Thailand membuka akses bagi media ke sebuah kompleks penipuan daring besar di Kamboja yang telah mereka kuasai pada tahun sebelumnya. Kompleks tersebut memiliki 157 bangunan, termasuk 29 gedung yang khusus digunakan untuk kegiatan penipuan telekomunikasi.
Video menunjukkan bahwa di dalam kompleks tersebut terdapat kantor polisi palsu dan ruang interogasi palsu yang digunakan untuk melakukan penipuan, serta 12 sel tahanan dan berbagai alat penyiksaan, termasuk kursi listrik, yang digunakan untuk menghukum para pekerja penipuan.
Yang paling menarik perhatian adalah sebuah bangunan bertuliskan “Rumah Sakit Zhongnan” dalam bahasa Mandarin serta sebuah ruang operasi misterius.
Personel militer Thailand berdiri di samping meja operasi dan menjelaskan kepada wartawan bahwa ruang operasi tersebut sangat mungkin digunakan untuk pengambilan organ secara paksa.
Mereka mengatakan bahwa pekerja penipuan yang tidak mencapai target dan mengalami penyiksaan hingga berada dalam kondisi kritis diduga dapat diambil organ vitalnya, seperti ginjal atau jantung, untuk kemudian dijual demi keuntungan. Cara yang digunakan disebut sangat kejam dan brutal.
Setelah video kompleks tersebut beredar di Tiongkok, para warganet terkejut melihat tulisan berbahasa Mandarin di berbagai sudut kompleks dan mengecamnya dengan mengatakan: “Orang Tiongkok menyakiti orang Tiongkok.” (***)


