The Epoch Times Dihantam Gelombang Serangan Siber Besar-besaran, 50 Miliar Permintaan Berbahaya Membanjiri Situs

Situs web tetap dapat diakses oleh pembaca di seluruh dunia dan tidak ada informasi pribadi pembaca maupun pelanggan yang diakses.

Dalam dua serangan siber yang berlangsung lebih dari 26 jam, situs web berbahasa Mandarin milik The Epoch Times baru-baru ini menjadi sasaran puluhan miliar upaya otomatis untuk terhubung ke situs web atau memuat halaman-halamannya, menggunakan alamat internet dari berbagai penjuru dunia.

Serangan distributed denial-of-service (DDoS) itu dirancang untuk membanjiri situs web dengan tingginya trafik internet guna mengganggu akses. Meskipun para penyerang berulang kali mengubah taktik, situs web The Epoch Times tetap dapat diakses oleh pembaca di seluruh dunia dan tidak ada informasi pribadi pembaca maupun pelanggan yang diakses.

Gelombang pertama serangan dimulai pada pukul 17.42 waktu Timur AS (ET) pada 10 September 2026 dan berlangsung sekitar 11 jam. Gelombang kedua yang lebih besar dimulai kemudian pada pagi hari dan berlangsung selama lebih dari 15 jam, menurut departemen teknologi informasi (IT) The Epoch Times.

Secara keseluruhan, serangan tersebut menghasilkan sekitar 50 miliar malicious requests atau permintaan berbahaya, yang melibatkan sekitar 160.000 alamat internet yang diidentifikasi sebagai alamat berbahaya dari lebih dari 200 negara dan wilayah.

The Epoch Times telah memberitahukan serangan tersebut kepada otoritas federal Amerika Serikat. 

Situs Epoch Times dalam bahasa mandarin

Serangan Sebelumnya

The Epoch Times sebelumnya juga pernah menjadi sasaran sebuah operasi yang menurut jaksa penuntut AS dilakukan oleh kontraktor rezim Tiongkok yang bekerja sama dengan kepolisian dan badan intelijen Tiongkok.

Pada Maret 2025, Departemen Kehakiman AS mendakwa delapan karyawan Anxun Information Technology, perusahaan yang berbasis di Shanghai dan dikenal sebagai i-Soon, serta dua pejabat Kementerian Keamanan Publik Tiongkok.

The Epoch Times telah mengonfirmasi bahwa mereka menjadi salah satu target dalam operasi itu.

Jaksa penuntut menuduh bahwa seorang pejabat Kementerian Keamanan Publik mengarahkan i-Soon untuk melancarkan serangan DDoS terhadap surat kabar tersebut pada Desember 2016, yang menyebabkan situs webnya tidak dapat diakses untuk sementara waktu.

Dalam dakwaan tersebut juga disebutkan bahwa i-Soon kemudian mengakses akun email dua eksekutif senior The Epoch Times berbahasa Mandarin dan menjual kepada kepolisian Tiongkok daftar alamat IP yang digunakan oleh pembaca di dalam Tiongkok, dalam upaya membantu melacak para pembangkang.

Penyerang Mengubah Taktik

Menurut departemen IT The Epoch Times, dalam insiden terbaru, para penyerang menggunakan beberapa metode dan mengubah taktik mereka.

Salah satu metode yang digunakan adalah membanjiri server dengan sejumlah besar permintaan koneksi yang tidak lengkap, sehingga sumber daya yang diperlukan pengunjung yang sah menjadi tersita. Para penyerang juga mengirimkan sejumlah besar permintaan halaman yang tampak seperti permintaan biasa untuk membebani kapasitas pemrosesan situs web.

Pada puncaknya, lalu lintas berbahaya mencapai lebih dari 1 juta permintaan per detik.

Cloudflare, perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur internet dan keamanan siber, mengklasifikasikan serangan dengan tingkat lalu lintas di atas tersebut sebagai serangan “hyper-volumetric”, yakni serangan dengan volume lalu lintas yang sangat besar.

Cloudflare juga melaporkan pada Agustus bahwa sektor media, produksi, dan penerbitan merupakan industri yang paling banyak menjadi sasaran lalu lintas HTTP DDoS—yang dapat diibaratkan sebagai kemacetan lalu lintas digital—selama paruh pertama 2026.

Peretas juga dapat mengarahkan lalu lintas berbahaya melalui perangkat yang terhubung ke internet dan telah disusupi di berbagai negara, sehingga sumber yang tampak dari suatu serangan menjadi sulit dilacak.

Badan Keamanan Nasional AS (NSA) dan badan-badan keamanan siber negara sekutunya memperingatkan pada April bahwa kelompok ancaman yang terkait dengan Tiongkok semakin sering menggunakan jaringan semacam itu untuk menyembunyikan operasi mereka.

The Epoch Times didirikan di Amerika Serikat pada 2000 oleh warga Amerika keturunan Tionghoa dan telah lama memberitakan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Departemen IT The Epoch Times  telah mencatat serangkaian serangan yang terjadi di sekitar tanggal dan topik yang dianggap sensitif oleh PKT.

Serangan terbaru itu terjadi menjelang kunjungan pemimpin PKT Xi Jinping ke Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 23 hingga 25 September.

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine