Jurnalis Perempuan Peru yang Maju sebagai Gubernur Dibunuh di Jalanan, Pernah Melaporkan Polisi Memerintahkan Pembunuhan

Baru-baru ini, Peru di Amerika Selatan diguncang kasus pembunuhan politik yang mengerikan. Seorang jurnalis perempuan terkenal berusia 43 tahun yang beralih ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai gubernur dibunuh dalam serangan jarak dekat ketika sedang berkampanye di jalan. Sembilan hari sebelum tewas, ia pernah secara terbuka mengatakan bahwa seorang pejabat tinggi kepolisian telah mengeluarkan perintah untuk membunuhnya.

EtIndonesia.com Sekitar pukul 12.40 siang pada 19 September, jurnalis terkenal Susy Aponte Polo sedang membagikan selebaran kampanye dan menerima wawancara media di sepanjang jalan kawasan komersial Kota Caraz, Peru bagian barat laut. 

Suasana di lokasi awalnya berlangsung dengan baik. Namun, tiba-tiba seorang pria mengeluarkan pistol dan menembaknya dari jarak dekat. Polo terkena tembakan di kepala dan darah mengucur deras. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Beberapa asistennya juga terluka.

Polisi setempat kemudian menangkap seorang pria berkewarganegaraan Venezuela berusia 29 tahun yang diduga sebagai pelaku penembakan. Pria bernama Luis Obispo Díaz tersebut ditangkap di sekitar lokasi, dan polisi menemukan sepucuk pistol yang diduga digunakan dalam pembunuhan itu.

Aponte Polo sebelumnya bekerja sebagai jurnalis dan pembawa acara radio di kawasan pegunungan Áncash, sebelah utara Lima. Media Peru Servindi menyebut bahwa ia dikenal karena membuat podcast yang mengungkap dugaan korupsi di tubuh kepolisian nasional. Ia juga dikenal dengan julukan “La China Polo”.

Ia maju sebagai calon gubernur mewakili gerakan politik lokal Movimiento Independiente Regional Socios por Áncash. Menurut laporan La República, pemilihan daerah dan kota akan digelar pada Minggu, 4 Oktober.

Jurado Nacional de Elecciones (JNE) dan Oficina Nacional de Procesos Electorales (ONPE), dua lembaga yang bertanggung jawab mengawasi pemilu Peru, masing-masing mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras pembunuhan tersebut dan menyerukan agar kasus itu segera diungkap.

Banyak pihak meyakini pembunuhan tersebut berkaitan dengan aktivitas Polo selama bertahun-tahun dalam mengungkap dugaan skandal di lingkungan peradilan dan kepolisian. Sembilan hari sebelum ia tewas, tepatnya pada 10 September, Polo secara terbuka menuduh Víctor Revoredo Farfán, kepala penyidikan kriminal kepolisian Peru, diduga merencanakan pembunuhan terhadap dirinya dengan menyewa pembunuh bayaran.

Saat itu, ia mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui adanya perintah pembunuhan dari pejabat tinggi kepolisian tersebut setelah memperoleh informasi dari para narapidana di tiga penjara. Ia juga telah melaporkan hal tersebut kepada pihak berwenang sebelum kejadian dan meminta agar laporan tersebut dicatat. Kepada pejabat tersebut, ia bahkan secara terbuka menantang dan memintanya untuk “jangan bertindak seperti pengecut.”

Selain itu, pada pagi hari sebelum dibunuh, Polo baru saja mengumumkan melalui media sosial bahwa ia akan menerbitkan sebuah laporan investigasi besar. Ia berencana mengungkap dugaan skandal pengelolaan sumber daya air dan suap yang melibatkan kandidat wali kota lainnya. 

Namun, sebelum laporan tersebut diterbitkan, dirinya justru dibunuh dalam sebuah serangan yang diduga bertujuan membungkamnya, sementara berbagai dugaan persoalan di balik kasus tersebut masih menjadi sorotan.

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine