Perang Hibrida Rusia Mendekati NATO, Arab Saudi Hentikan Pasokan Minyak, Eropa Menghadapi Krisis Ganda

Alarm keamanan geopolitik dan energi Eropa berbunyi secara bersamaan! Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara Eropa seperti Polandia dan Prancis berturut-turut mengeluarkan peringatan bahwa Rusia sedang mempersiapkan perang hibrida menggunakan drone dan serangan siber untuk menguji batas toleransi NATO. 

Di sisi lain, akibat perubahan situasi di Timur Tengah baru-baru ini, jalur pipa minyak Arab Saudi sebelumnya diserang sehingga pasokan ke Eropa untuk sementara terhenti. Hal ini kembali membuat Eropa menghadapi risiko krisis pasokan minyak. Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak agar digelar pertemuan G7 dan Uni Eropa serta menyerukan pelepasan cadangan minyak strategis untuk menghadapi situasi tersebut.

EtIndonesia.com Sejak pertengahan September, dalam waktu hanya satu minggu, sejumlah negara Eropa secara tidak biasa mengeluarkan peringatan pertahanan secara berturut-turut. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, mengutip informasi intelijen terbaru, mengatakan secara langsung bahwa Rusia sedang merencanakan serangan hibrida menggunakan drone dan rudal terhadap Eropa. 

Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan peningkatan status kewaspadaan untuk mencegah infrastruktur nasional menjadi sasaran sabotase. Presiden Finlandia Alexander Stubb juga secara terbuka memperingatkan bahwa ancaman sedang meningkat. Sementara itu, Lithuania bahkan telah mengalokasikan 6 juta euro untuk memulai latihan evakuasi penduduk dalam situasi perang.

“Saat ini, tampaknya inilah skenario yang paling mungkin terjadi. Seperti yang baru saja saya sebutkan, beberapa bulan ke depan, kira-kira hingga awal musim semi, berdasarkan seluruh sumber informasi yang ada, akhir musim gugur dan musim dingin mendatang akan menjadi periode paling krusial sejak perang Rusia-Ukraina dimulai. Saat ini telah terjadi perubahan, dan sayangnya, perubahan tersebut sangat negatif. Militer Rusia sedang mengerahkan drone-drone jenis baru dalam skala besar,” ujar Perdana Menteri Polandia Donald Tusk pada 18 September 2026. 

“Kita tidak boleh memiliki ilusi mengenai apa yang sedang terjadi di sini. Situasi ini terus meningkat setiap hari. Oleh karena itu, seiring meningkatnya tingkat ancaman, kesiapan Eropa untuk merespons juga harus ditingkatkan,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada 16 September 2026. 

Ketika NATO berada dalam kondisi siaga tinggi dan ketegangan meningkat di sepanjang perbatasan, masalah energi Eropa juga memasuki zona merah. Jalur pipa minyak utama Arab Saudi yang membentang dari timur ke barat diserang oleh milisi dan ditutup. 

Terminal Yanbu di Laut Merah menghentikan sementara kegiatan pemuatan dan mengurangi pengiriman minyak mentah ke Eropa. Dengan musim dingin yang semakin dekat, Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak G7 dan Uni Eropa untuk kembali mengeluarkan cadangan minyak strategis.

“Saya ingin menekankan di sini bahwa sifat agresivitas dan ancaman yang ditunjukkan Rusia di Eropa sedang berubah. Dan setelah fasilitas di Yanbu diserang hari ini, produksi (minyak mentah) juga turun secara signifikan. Situasi ini, ditambah dengan kerusakan terhadap infrastruktur energi Rusia dan Ukraina, merupakan akibat dari perang agresi Rusia, yang menyebabkan harga energi melonjak di berbagai tempat di seluruh dunia,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron 19 September 2026. 

Sebelum perang Rusia-Ukraina, hingga 45% gas alam dan hampir 30% minyak yang digunakan Uni Eropa bergantung pada pasokan melalui jaringan pipa dari Rusia. Kini, meskipun Eropa berupaya keras melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Rusia, proses tersebut tetap membutuhkan waktu.

Menurut laporan Bloomberg, akibat terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah dan sulitnya mengisi kembali cadangan gas, harga listrik grosir di Jerman, ekonomi terbesar Eropa, diperkirakan melonjak lebih dari 60% pada Januari tahun depan, menembus 180 euro per megawatt-jam. Sementara itu, tagihan listrik rumah tangga di Inggris diperkirakan naik 25%. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% diperkirakan akan meningkatkan inflasi Eropa sebesar 0,2%.

Serangan kelompok milisi Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi telah mengganggu pasokan energi Timur Tengah. Ditambah ancaman nyata dari perang hibrida Rusia, Eropa kini menghadapi ujian geopolitik dan ekonomi paling berat sejak berakhirnya Perang Dingin.

Laporan disusun oleh Gao Jianlun dan Shen Weitong dari New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine