EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini semakin terasa dampaknya terhadap salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia: Selat Hormuz.
Pada 21 September 2026, data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal yang terlihat melintasi selat tersebut telah menyusut drastis. Situasi ini menjadi perhatian karena Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sebelum perang, kawasan ini menjadi salah satu urat nadi utama yang menghubungkan produsen minyak dan gas di Teluk Persia dengan pasar dunia.
Pada titik tersempitnya, Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Namun melalui jalur sempit inilah, sebelum perang, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia melewati kawasan tersebut.
Kini pemandangannya berubah.
Menurut data pelayaran yang dilaporkan Reuters pada 21 September 2026, hanya 17 kapal pengangkut komoditas yang terpantau melintasi Selat Hormuz sepanjang akhir pekan terakhir. Jumlah itu turun tajam dibandingkan 37 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Sebagai perbandingan, sebelum perang pecah, rata-rata sekitar 125 kapal komersial besar setiap hari melintasi jalur tersebut. Artinya, lalu lintas yang terlihat sekarang hanya merupakan sebagian kecil dari kondisi normal sebelum konflik. Meski demikian, angka tersebut tidak menggambarkan seluruh pergerakan kapal karena sebagian tanker dilaporkan beroperasi dengan transponder dimatikan.
Perang Amerika Serikat–Iran belum mencapai penyelesaian. Tetapi perusahaan pelayaran tampaknya sudah mengambil keputusan sendiri berdasarkan perhitungan risiko.
Semakin banyak operator kapal menghadapi pilihan sulit: memasuki Hormuz dengan risiko keamanan yang tinggi, menunda pelayaran, atau menggunakan sistem pengangkutan dan pemindahan minyak yang jauh lebih mahal.
Salah satu contoh paling mencolok adalah perjalanan kapal tanker raksasa atau Very Large Crude Carrier bernama Pinios.
Kapal tersebut membawa sekitar dua juta barel minyak mentah Irak keluar dari Teluk Persia. Setelah melewati Hormuz, Pinios dilaporkan menuju perairan lepas Fujairah di Uni Emirat Arab untuk memindahkan muatannya ke tanker raksasa lain, New Constant, yang kemudian dijadwalkan membawa minyak tersebut menuju Tiongkok.
Operasi semacam ini dikenal sebagai ship-to-ship transfer atau pemindahan muatan antarkapal di laut.
Dua kapal tanker berukuran sangat besar dapat ditempatkan berdampingan sebelum minyak dialirkan dari satu kapal ke kapal lainnya. Dalam kondisi normal, metode tersebut merupakan bagian dari aktivitas industri pelayaran. Namun ketika dilakukan di tengah konflik regional dan meningkatnya ancaman terhadap kapal, tingkat risikonya menjadi jauh lebih besar.
Kesalahan navigasi, gangguan teknis, serangan drone, rudal, ataupun insiden keamanan lainnya dapat menimbulkan konsekuensi serius.
Masalah berikutnya adalah biaya.
Perang telah membuat banyak pemilik kapal enggan mengirimkan armadanya masuk ke Teluk Persia. Akibatnya, jumlah tanker yang bersedia mengambil risiko semakin terbatas, sementara kebutuhan mengangkut minyak tetap tinggi.
Pada 14 September 2026, data Baltic Exchange menunjukkan biaya menyewa tanker minyak raksasa untuk mengangkut minyak dari kawasan Teluk Persia menuju Tiongkok telah mencapai sekitar 1,035 juta dolar AS per hari.
Angka tersebut mencetak tingkat yang luar biasa tinggi bagi industri tanker. Bahkan pengangkutan minyak dari Teluk Oman menuju Tiongkok—yang tidak mengharuskan kapal memasuki Hormuz—juga membutuhkan biaya ratusan ribu dolar AS per hari.
Tekanan terhadap jalur Hormuz semakin besar setelah alternatif utama Arab Saudi juga terganggu.
Selama bertahun-tahun, Riyadh memiliki sebuah kartu penting untuk menghadapi krisis di Hormuz, yaitu East-West Pipeline atau jaringan pipa Timur–Barat.
Jaringan sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut menghubungkan kawasan penghasil minyak di bagian timur Arab Saudi dengan Pelabuhan Yanbu di pantai Laut Merah. Jalur ini dirancang agar minyak Saudi dapat diekspor tanpa harus melewati Hormuz.
Namun pada 12–13 September 2026, jaringan tersebut terganggu setelah serangan drone. Pemerintah Saudi kemudian menutup pipa sebagai tindakan pencegahan. Laporan AP menyebut kerusakan diperkirakan dapat membuat sebagian besar jaringan tersebut tidak beroperasi selama sekitar tiga hingga lima minggu.
Akibatnya, Arab Saudi justru harus kembali meningkatkan penggunaan terminal-terminal di Teluk Persia dan mengirimkan lebih banyak minyak melalui Hormuz.
Data pelayaran yang dilaporkan pada 21 September menunjukkan ekspor Saudi melalui kawasan Teluk kembali meningkat. Reuters melaporkan Saudi Aramco bahkan memuat sekitar 14 juta barel minyak mentah ke tujuh VLCC di Ras Tanura pada 20 September 2026.
Situasi ini menciptakan ironi strategis.
Ketika risiko di Hormuz meningkat, jalur alternatif yang seharusnya menjadi jalan keluar justru mengalami gangguan. Akibatnya, sebagian minyak harus kembali melewati kawasan yang sejak awal berusaha dihindari.
Dan di sinilah persoalan tersebut mulai bersinggungan dengan hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan di Washington pada 24 September 2026. Agenda pertemuan diperkirakan mencakup perdagangan, mineral strategis, kecerdasan buatan, serta berbagai persoalan geopolitik. Konflik Iran juga menjadi salah satu isu yang membayangi hubungan kedua negara.
Bagi Beijing, persoalan Iran memiliki dimensi yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan energi.
Tiongkok selama bertahun-tahun menjadi pasar utama minyak Iran. Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 28 April 2026 menyatakan bahwa Tiongkok membeli sekitar 90 persen ekspor minyak Iran, dengan kilang independen yang dikenal sebagai teapot refineries menjadi pembeli utama.
Washington juga menuduh sejumlah perusahaan dan jaringan pelayaran menggunakan perusahaan perantara, armada bayangan, serta mekanisme pembayaran tertentu untuk membantu perdagangan minyak Iran menghindari sanksi Amerika. Pada 1 Mei 2026, Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa sebagian besar transaksi minyak Iran diselesaikan menggunakan yuan Tiongkok.
Namun perlu ditegaskan bahwa keterangan tersebut merupakan posisi dan temuan pemerintah Amerika Serikat dalam pelaksanaan rezim sanksinya. Beijing sendiri secara konsisten menyerukan penyelesaian konflik melalui diplomasi dan menentang penggunaan sanksi sepihak.
Karena itu, pertemuan Trump–Xi pada 24 September berlangsung dengan latar belakang yang jauh lebih rumit daripada sekadar perdagangan dua negara.
Di satu sisi terdapat kepentingan Washington untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran. Di sisi lain terdapat kebutuhan energi Tiongkok dan hubungan ekonominya dengan Teheran.
Sementara itu, di tengah semua perhitungan geopolitik tersebut terdapat sebuah jalur laut selebar hanya puluhan kilometer.
Selat Hormuz kini menjadi tempat di mana kepentingan Iran, negara-negara Teluk, Amerika Serikat, Tiongkok, perusahaan pelayaran dan pasar energi dunia saling bertemu.
Penurunan lalu lintas dari kondisi normal sekitar 125 kapal besar per hari menjadi hanya 17 kapal komoditas yang terpantau sepanjang akhir pekan menunjukkan betapa besar perubahan yang telah terjadi.
Dan ketika biaya tanker telah menembus lebih dari satu juta dolar AS per hari, setiap barel minyak yang berhasil keluar dari Teluk Persia kini membawa sesuatu yang sebelumnya jauh lebih kecil: harga dari risiko perang.
Menjelang pertemuan Trump dan Xi pada 24 September 2026, pertanyaan mengenai hubungan energi Tiongkok dengan Iran kemungkinan akan terus mendapat perhatian.
Namun satu hal sudah terlihat jelas dari data pelayaran terbaru: bahkan tanpa tercapainya kesepakatan politik, pasar dan perusahaan pelayaran telah melakukan penilaian mereka sendiri terhadap tingkat bahaya di kawasan.
Kapal-kapal semakin sedikit.
Biaya semakin mahal.
Jalur alternatif mengalami gangguan.
Dan selama konflik belum mereda, Selat Hormuz akan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif yang dapat menentukan bukan hanya keamanan Timur Tengah, tetapi juga arah pasokan dan harga energi dunia. (***)


