EtIndonesia.com Situasi di Yaman kembali memasuki fase yang sangat genting. Pertempuran tidak lagi hanya berpusat pada perebutan kota dan jalur darat, tetapi semakin mengarah pada penguasaan kawasan strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb—salah satu jalur pelayaran terpenting dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Di tengah eskalasi tersebut, muncul laporan mengenai sebuah operasi rahasia yang diklaim berlangsung di Sana’a, ibu kota Yaman yang berada di bawah kendali kelompok Houthi.
Menurut laporan yang beredar di sejumlah media dan akun regional, operasi itu disebut berlangsung sejak sekitar tengah malam hingga dini hari pada 18 September 2026. Area operasi diklaim membentang dari kawasan selatan Sana’a hingga wilayah sekitar bandara di bagian utara ibu kota.
Namun, bagian ini perlu diberi catatan penting: hingga kini belum ditemukan konfirmasi resmi dari pemerintah Arab Saudi mengenai operasi penerjunan tersebut. Karena itu, rincian mengenai operasi khusus dan penangkapan tokoh Houthi harus diperlakukan sebagai klaim yang belum terverifikasi secara independen.
Menurut versi yang beredar, serangan dilakukan melalui beberapa jalur secara bersamaan. Drone kamikaze dan kendaraan bermuatan bahan peledak disebut diarahkan menuju sejumlah fasilitas keamanan serta militer Houthi. Drone lainnya diklaim menyerang sistem pertahanan udara dan gudang persenjataan.
Pada saat yang sama, serangan siber disebut menargetkan jaringan komunikasi Houthi.
Di bawah perlindungan serangan tersebut, pasukan khusus Arab Saudi kemudian diklaim diterjunkan pada malam hari, menerobos fasilitas Houthi dan membawa pergi dua tokoh bernilai tinggi.
Tokoh pertama yang disebut sebagai target adalah Mohammed Ali al-Houthi, salah satu figur senior dalam gerakan Houthi dan anggota keluarga al-Houthi. Target kedua diklaim sebagai Abu Ali al-Hakim, salah satu komandan senior Houthi.
Sejumlah akun media sosial pro-Saudi bahkan mengklaim kedua tokoh tersebut telah dibawa ke Arab Saudi dan ditahan di Riyadh.
Sekali lagi, klaim ini belum memperoleh konfirmasi resmi dari Riyadh maupun verifikasi independen dari sumber-sumber berita utama.
Pihak Houthi sendiri membantah bahwa operasi penerjunan semacam itu terjadi. Seorang anggota biro politik Houthi dilaporkan mengunggah pesan suara di platform X yang mempertanyakan kabar mengenai penerjunan pasukan di Sana’a. Menurut versi Houthi, insiden yang terjadi berkaitan dengan penggunaan kendaraan bermuatan bahan peledak, dan mereka menuding kelompok Al-Qaeda sebagai pelakunya.
Dengan demikian, terdapat dua versi yang sangat berbeda mengenai kejadian di Sana’a.
Terlepas dari kontroversi tersebut, fakta yang lebih luas menunjukkan bahwa konflik Yaman memang sedang mengalami eskalasi serius.
Pada 10 September 2026, Houthi berhasil merebut kota pelabuhan Mokha di pesisir Laut Merah. Perkembangan ini membawa kelompok tersebut semakin dekat dengan posisi-posisi strategis di sekitar Bab el-Mandeb. Reuters melaporkan kemajuan Houthi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan dan pengiriman energi melalui Laut Merah.
Pertempuran kemudian bergeser ke kawasan Jabal Kahbub, sebuah dataran tinggi strategis di perbatasan Lahij dan Taiz.
Pada 17 September 2026, pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman dilaporkan berhasil kembali menguasai Jabal Kahbub. Menurut Institute for the Study of War atau ISW, kawasan pegunungan tersebut terletak sekitar 30 kilometer dari posisi Houthi di sekitar Bab el-Mandeb. Ketinggiannya memberikan keuntungan bagi pasukan yang menguasainya untuk mengawasi dan menyerang posisi di dataran pesisir Laut Merah.
Inilah yang membuat pertempuran di wilayah tersebut sangat penting.
Bab el-Mandeb bukan sekadar selat sempit di ujung selatan Laut Merah. Jalur ini merupakan penghubung antara Laut Merah, Teluk Aden dan Samudra Hindia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat memengaruhi kapal-kapal yang menggunakan jalur menuju atau dari Terusan Suez.
Situasi kembali memanas pada 21 September 2026.
Dua rudal balistik dilaporkan menghantam sebuah pasar di Distrik Al-Mudaribah wa Ras al-Arah, Provinsi Lahij, dekat front Kahbub dan Selat Bab el-Mandeb. Kementerian Hak Asasi Manusia pemerintah Yaman menyatakan sejumlah warga sipil mengalami luka-luka, sementara toko dan kendaraan mengalami kerusakan.
Menurut laporan tersebut, kedua rudal menghantam kawasan pasar dengan selang waktu sekitar satu jam pada sore hari, ketika lokasi sedang dipenuhi pembeli dan warga.
Dengan demikian, laporan awal yang hanya menyebut kerugian material perlu diperbarui: informasi yang tersedia pada 22 September 2026 menyebut adanya korban luka.
Serangan tersebut terjadi ketika pertempuran di sekitar Kahbub semakin intensif.
Kawasan ini sangat penting karena siapa pun yang menguasai dataran tinggi di sekitar Bab el-Mandeb memperoleh keuntungan besar untuk mengawasi pergerakan di sepanjang pesisir. ISW sebelumnya menilai bahwa penguasaan Houthi atas sebagian besar pantai Laut Merah, termasuk Mokha dan wilayah di sekitarnya, meningkatkan kemampuan kelompok itu untuk mengancam pelayaran internasional.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Houthi tampaknya mulai memperkuat wilayah yang baru mereka kuasai untuk menghadapi kemungkinan serangan balik.
Dalam laporan 21 September 2026, ISW menyebut dua sumber militer Houthi mengatakan kepada AFP bahwa personel Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC telah mengunjungi wilayah yang baru direbut Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah.
Personel Iran tersebut dilaporkan membantu mengawasi pembangunan terowongan di kawasan pegunungan sekitar Mokha. Houthi dan personel IRGC juga disebut membahas kemungkinan pemasangan infrastruktur radar di sekitar Mokha dan Pulau Zuqar, yang terletak di utara Bab el-Mandeb.
Secara militer, pembangunan fasilitas bawah tanah mempunyai tujuan yang jelas.
Ketika suatu kekuatan tidak memiliki keunggulan udara, terowongan dapat digunakan untuk melindungi pasukan, rudal, amunisi dan perlengkapan militer dari pengintaian maupun serangan udara.
Jika jaringan semacam itu berhasil dibangun secara permanen di sekitar Bab el-Mandeb, Houthi berpotensi memiliki posisi yang jauh lebih sulit dihancurkan.
Ancaman terhadap pelayaran pun tidak harus berupa penutupan selat secara fisik. Bahkan risiko serangan yang cukup tinggi dapat meningkatkan biaya asuransi, memaksa perusahaan pelayaran mengubah rute, atau membuat operator kapal menghindari kawasan tersebut.
Di tengah tekanan tersebut, muncul pula perkembangan lain yang dapat mengubah hubungan politik di Timur Tengah.
Laporan pada 15–18 September 2026 menyebut Israel dan Arab Saudi telah melakukan kontak melalui mediasi Amerika Serikat mengenai kemungkinan bantuan intelijen menghadapi ancaman Houthi. Al-Monitor melaporkan pada 18 September bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha memanfaatkan meningkatnya ancaman terhadap Saudi untuk mendorong kembali pembicaraan normalisasi hubungan.
Namun persoalan Palestina tetap menjadi hambatan besar.
Posisi resmi Riyadh selama ini menegaskan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel membutuhkan jalur yang jelas dan kredibel menuju pembentukan negara Palestina. Pada Mei 2026, sumber Saudi kembali menegaskan bahwa posisi tersebut belum berubah.
Karena itu, belum dapat disimpulkan bahwa ancaman Houthi otomatis akan menghasilkan hubungan diplomatik Saudi-Israel.
Yang jelas, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perang Yaman kini memiliki konsekuensi yang jauh melampaui perbatasan negara tersebut.
Perebutan Mokha, pertempuran di Jabal Kahbub, pembangunan fasilitas bawah tanah, ancaman rudal terhadap kawasan Bab el-Mandeb, serta meningkatnya kerja sama keamanan regional memperlihatkan betapa pentingnya wilayah ini.
Pertempuran yang awalnya terlihat sebagai perebutan wilayah di pesisir Yaman kini berpotensi memengaruhi jalur perdagangan internasional, ekspor energi, hubungan Arab Saudi dengan Amerika Serikat, perhitungan strategis Israel, hingga posisi Iran di kawasan.
Dan di tengah semua itu, Bab el-Mandeb kini menjadi salah satu titik paling menentukan.
Siapa yang mampu mempertahankan posisi militer di sekitar selat tersebut bukan hanya memperoleh keuntungan dalam perang Yaman, tetapi juga mendapatkan kemampuan untuk memberikan tekanan terhadap salah satu urat nadi perdagangan dunia.
Itulah sebabnya pertempuran yang berlangsung di sekitar Mokha, Ras al-Arah dan Jabal Kahbub patut diperhatikan dengan sangat serius. Perang memperebutkan Yaman kini perlahan berubah menjadi perebutan kendali atas pintu gerbang Laut Merah—dan dampaknya dapat terasa jauh melampaui Timur Tengah. (***)


