Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berarti

Annie Holmquist

Orang Amerika dari berbagai latar belakang telah mencoba metode merapikan rumah ala Marie Kondo. Mungkinkah keinginan untuk membereskan barang-barang yang tidak diperlukan kini juga merambah kehidupan anak-anak?

Penulis mengajukan pertanyaan ini setelah membaca sebuah artikel di The Washington Post karya Megan Nix, yang menjelaskan perubahan pandangannya mengenai kegiatan ekstrakurikuler anak-anaknya.

Seperti banyak orang tua lainnya, Nix ingin memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk berkembang dan belajar. Ia pun mendaftarkan mereka dalam berbagai kegiatan seperti balet dan seni. Ia menghargai kesenangan yang diperoleh anak-anaknya dari kegiatan tersebut, tetapi ia juga menyadari tekanan yang ditimbulkannya terhadap keluarga mereka, baik secara fisik maupun emosional.

Di tengah kesadaran tersebut, ia juga mengingat masa kecilnya sendiri dan keindahan memiliki waktu senggang.

“Pada 1980-an, ketika saya seusia anak-anak saya sekarang, sepulang sekolah saya mengikis beton yang mulai lapuk di jalan masuk rumah kami, atau mencoba membuat sepeda melompati papan-papan kayu yang dibawa kakak-kakak laki-laki saya keluar dari garasi,” kata Nix.

“Saya ingat pergi ke taman tanpa orang tua kami atau bersembunyi di halaman samping rumah orang yang tidak kami kenal. Saya tidak merasa cemas, begitu pula orang tua saya. Saya tidak ingat pernah tergoda oleh berbagai kegiatan yang disponsori perusahaan, dan ibu saya juga tidak mengingatnya.”

Penulis dapat memahami hal itu karena penulis juga mengalami masa kanak-kanak yang serupa. Bahkan ketika mengalaminya, penulis sudah menyadari nilai dari tidak harus berlari ke berbagai macam kegiatan, berbeda dengan seorang anak perempuan tetangga penulis yang orang tuanya bekerja penuh waktu dan terus-menerus mengikutsertakannya dalam perkemahan serta berbagai program lainnya.

Penulis tahu ia menyukai kegiatan-kegiatan tersebut, tetapi penulis juga tahu betapa ia menghargai satu minggu yang dihabiskannya bersama keluarga penulis pada suatu musim panas—sekadar bersantai dan memiliki seluruh waktu di dunia untuk berkreasi dan berimajinasi.

Seperti yang ditemukan Nix dalam percakapannya dengan putrinya, berbagai kegiatan memang menyenangkan, tetapi banyak anak mungkin tidak keberatan meninggalkannya demi menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

“‘Mungkin akan menyenangkan jika pada Sabtu pagi kita makan donat daripada mengikuti senam,’ kata saya. Wajahnya langsung berseri-seri, dan ekspresi itu berbeda dari ekspresi apa pun yang pernah saya lihat di wajahnya saat berada di tempat senam. Tentu saja saya tidak menganjurkan hidup bermalas-malasan dan makan donat daripada menjalani aktivitas olahraga yang sehat; saya menganjurkan keseimbangan hidup, yang terkadang berarti menaburkan meses dan tertawa cekikikan di sebuah gerai yang lengket karena makanan, alih-alih berdiri tegak di atas balok keseimbangan.”

Selama bertahun-tahun, kita mendorong gagasan bahwa anak-anak perlu terjun ke masyarakat—melalui sekolah dan berbagai kegiatan lainnya—agar dapat bersosialisasi. Pemikirannya adalah bahwa mereka akan membangun hubungan dan mempelajari berbagai hal yang membantu mereka meraih kemajuan serta menjadi orang sukses di masa depan.

Namun, bagaimana jika sosialisasi semacam itu sudah terlalu jauh dan telah mendorong kita serta anak-anak kita hingga mencapai batas kemampuan?

Dalam bukunya The Well-Trained Mind, pendidik Susan Wise Bauer menyatakan, “Unit keluarga—sebagai agen dasar sosialisasi—sendiri merupakan tempat untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai usia.”

Namun, agen sosialisasi ini sering kali disingkirkan.

“Tren dalam budaya kita adalah meremehkan—bahkan melewati begitu saja—keluarga sebagai unit dasar sosialisasi,” tulis Wise Bauer. 

“Namun, di dalam keluargalah anak-anak belajar mencintai dengan melihat cinta ditunjukkan; belajar tidak mementingkan diri sendiri baik melalui pengajaran maupun teladan … belajar menyelesaikan konflik dengan mencari cara untuk hidup rukun dengan orang tua dan satu sama lain.”

Dengan menarik anak-anaknya dari berbagai kegiatan tambahan, Nix bukan hanya membebaskan dirinya dari kecemasan dan kesibukan, tetapi juga memberikan hadiah berupa waktu yang berharga kepada anak-anaknya untuk mengamati dan berinteraksi dengan dua orang yang paling peduli terhadap mereka.

Mungkinkah anak-anak kita justru lebih siap menghadapi keberhasilan di masa depan jika mereka tumbuh dengan menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang tua dalam suasana keluarga yang lebih santai dan nyaman?

Artikel ini diterbitkan kembali berkat dukungan The Fred & Rheta Skelton Center for Cultural Renewal, sebuah proyek dari 1819 News.

INSPIRASI ERABARU

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

Asal-Usul Mantou yang Menggelitik – Pengganti Pengorbanan Manusia

Ila BonczekSeorang gadis duduk di meja dapur di wilayah Tiongkok utara, menunggu sambil memperhatikan kukusan bambu. Ketika ibunya mengangkat tutupnya, uap panas mengepul ke...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine