EtIndonesia.com Peta politik dan keamanan Timur Tengah kembali bergerak cepat. Di tengah meningkatnya ancaman Houthi terhadap Arab Saudi, ketegangan dengan Iran, serta gangguan terhadap jalur pelayaran strategis di Laut Merah dan Teluk Persia, sebuah pertemuan tertutup di Abu Dhabi kini menjadi pusat perhatian.
Pada Minggu, 27 September 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan yang sebelumnya tidak diumumkan ke Abu Dhabi dan bertemu Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Kunjungan itu baru dikonfirmasi secara terbuka oleh pihak UEA pada Senin, 28 September 2026. Menurut keterangan resmi Emirat, kedua pemimpin membahas hubungan bilateral serta cara memperkuat kerja sama Israel–UEA di tengah berbagai tantangan regional.
Sejumlah laporan menyebut Iran menjadi salah satu topik utama pembicaraan. Namun, terdapat perbedaan laporan mengenai durasi dan agenda lengkap pertemuan tersebut. Karena pembicaraan berlangsung tertutup, tidak semua rincian yang beredar dapat diverifikasi secara independen.
Muncul Laporan Pertemuan yang Lebih Besar
Perkembangan menjadi semakin menarik pada 29 September 2026, ketika media Israel Channel 14 mengutip seorang pejabat senior UEA yang mengklaim bahwa setelah pembicaraan Netanyahu dan Mohamed bin Zayed, digelar pertemuan dengan cakupan yang jauh lebih luas.
Menurut laporan tersebut, perwakilan dari sepuluh negara ikut hadir, yakni Israel, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Amerika Serikat, Maroko, Kuwait, Bahrain, Libya, Oman, dan Mesir.
Jika laporan ini akurat, kehadiran Arab Saudi, Kuwait, Libya, dan Oman menjadi sangat penting karena negara-negara tersebut belum memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Pertemuan itu disebut membahas kemungkinan peningkatan koordinasi keamanan dan intelijen, ancaman Iran dan Houthi, serta gagasan membangun kerangka kerja regional yang memungkinkan negara-negara Timur Tengah menghadapi ancaman keamanan bersama.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa laporan mengenai pertemuan sepuluh negara tersebut berasal dari sumber anonim yang dikutip Channel 14. Hingga 30 September 2026, rincian lengkap mengenai format pertemuan itu belum dikonfirmasi secara terbuka oleh seluruh pemerintah yang disebut hadir.
Meski demikian, perkembangan lain menunjukkan bahwa komunikasi keamanan antara Arab Saudi dan Israel memang telah berlangsung.
Pada pertengahan September 2026, sejumlah laporan menyebut Riyadh dan Israel melakukan pembicaraan melalui mediasi Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM. Fokus pembicaraan tersebut adalah kemungkinan bantuan intelijen Israel untuk membantu Arab Saudi menghadapi serangan rudal dan drone Houthi serta memantau pergerakan kelompok itu di Yaman.
Ancaman Houthi memang menjadi persoalan semakin serius bagi Riyadh. Serangan terhadap infrastruktur energi Saudi dan meningkatnya aktivitas Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah membuat keamanan jalur ekspor minyak dan pelayaran di sekitar Selat Bab el-Mandeb menjadi semakin penting.
Bahkan pada awal September, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan telah meminta dukungan militer Amerika Serikat untuk menghadapi Houthi. Washington tidak menyetujui serangan langsung, tetapi bersedia memberikan dukungan intelijen dan informasi penargetan.
Saudi dan AS Bahas Hormuz serta Bab el-Mandeb
Perkembangan diplomatik lainnya terjadi pada Senin, 28 September 2026, sehari setelah kunjungan Netanyahu ke Abu Dhabi.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio di Washington.
Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan kedua pihak membahas situasi di Yaman, keamanan kawasan, serta perlindungan kebebasan navigasi melalui dua jalur laut paling strategis di dunia: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Keduanya menekankan pentingnya menjaga keamanan pelayaran internasional, stabilitas kawasan, serta kelancaran perdagangan dan rantai pasokan global.
Rangkaian pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana konflik Yaman kini semakin terhubung dengan persoalan keamanan regional yang lebih besar.
Selat Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu jalur utama menuju Terusan Suez. Sementara Selat Hormuz merupakan pintu keluar utama ekspor energi dari kawasan Teluk Persia.
Artinya, gangguan terhadap kedua jalur tersebut tidak hanya menjadi masalah bagi Arab Saudi, Israel atau negara-negara Teluk, tetapi juga dapat memengaruhi perdagangan dan harga energi global.
Benarkah Saudi Akan Bergabung dengan Abraham Accords?
Di tengah perkembangan tersebut, muncul pula spekulasi bahwa tekanan Houthi dapat mempercepat normalisasi hubungan Arab Saudi dan Israel.
Namun, bagian ini perlu diperlakukan dengan hati-hati.
Hingga akhir September 2026, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Saudi bahwa Riyadh telah menyetujui bergabung dengan Abraham Accords atau membuka hubungan diplomatik penuh dengan Israel.
Bahkan laporan sebelumnya menunjukkan Arab Saudi masih mempertahankan persyaratan politiknya terkait isu Palestina. Sumber Saudi yang dikutip media Israel juga membantah anggapan bahwa bantuan Israel melawan Houthi secara otomatis akan menghasilkan normalisasi hubungan.
Dengan demikian, yang terlihat saat ini lebih tepat digambarkan sebagai meningkatnya kontak keamanan dan kemungkinan kerja sama strategis, bukan kesepakatan diplomatik final.
Tekanan Houthi memang menciptakan kepentingan yang semakin beririsan. Israel, Arab Saudi, UEA dan Amerika Serikat sama-sama berkepentingan menjaga jalur perdagangan, infrastruktur energi, dan membatasi ancaman dari kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Pada 29 September 2026, bahkan Wakil Presiden UEA Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan mengunjungi Arab Saudi dan bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Pertemuan tersebut dipandang sebagai langkah penting untuk memperbaiki hubungan Abu Dhabi–Riyadh yang sebelumnya mengalami ketegangan akibat perbedaan kepentingan di Yaman.
Iran Bereaksi Keras
Teheran tidak tinggal diam melihat perkembangan tersebut.
Pada 29 September 2026, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam kunjungan Netanyahu ke UEA dan memperingatkan mengenai apa yang disebutnya sebagai “konsekuensi yang sangat berbahaya” dari meningkatnya kehadiran Israel di kawasan.
Iran menilai hubungan keamanan Israel dengan negara-negara Teluk berpotensi mengancam kepentingannya.
Di tengah ketegangan itu, Netanyahu pada hari yang sama mengeluarkan peringatan keras saat mengunjungi Pangkalan Udara Tel Nof.
Netanyahu mengatakan Israel memiliki indikasi bahwa musuh-musuhnya mungkin mencoba melancarkan serangan menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Ia tidak secara spesifik menyatakan bahwa Iran pasti akan menyerang, sehingga klaim tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai konfirmasi mengenai rencana serangan Iran.
Namun pesan Netanyahu jelas: Israel akan merespons setiap ancaman.
“Jangan mencoba menghadapi kami—bukan sekarang dan bukan kapan pun,” katanya, seraya menegaskan bahwa kemampuan militer Israel dapat menjangkau musuh “di mana pun dan kapan pun.”
Timur Tengah Memasuki Babak Baru?
Perkembangan beberapa hari terakhir menunjukkan sebuah pola yang semakin jelas.
Tekanan Houthi terhadap Arab Saudi, ancaman terhadap Bab el-Mandeb, konflik dengan Iran, serta kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz telah menciptakan kepentingan bersama di antara negara-negara yang sebelumnya sulit membayangkan kerja sama terbuka.
Namun belum dapat dipastikan apakah koordinasi keamanan tersebut akhirnya akan menghasilkan aliansi regional baru atau bahkan normalisasi resmi Saudi–Israel.
Yang sudah terlihat adalah perubahan kalkulasi strategis.
Kunjungan rahasia Netanyahu ke Abu Dhabi pada 27 September, pertemuan Faisal bin Farhan dan Marco Rubio pada 28 September, kunjungan pejabat tinggi UEA ke Riyadh pada 29 September, serta kontak keamanan Saudi–Israel melalui Amerika Serikat memperlihatkan bahwa diplomasi kawasan sedang bergerak dengan sangat cepat.
Ironisnya, semakin besar tekanan yang diberikan Iran dan Houthi kepada negara-negara kawasan, semakin besar pula insentif bagi sebagian negara tersebut untuk memperkuat koordinasi keamanan satu sama lain.
Apakah perkembangan ini pada akhirnya membuka jalan menuju normalisasi Arab Saudi dan Israel, atau justru membawa Timur Tengah memasuki konfrontasi regional yang lebih luas, masih menjadi pertanyaan besar.
Tetapi satu hal sudah terlihat: ancaman Houthi dan perebutan kendali atas jalur-jalur laut strategis kini mulai mengubah pola hubungan kekuatan di Timur Tengah. (***)


