EtIndonesia.com Pada 2 Oktober 2026 pagi, dua kapal nelayan Tiongkok melintasi batas dan memasuki wilayah perairan Pulau Dongsha, Taiwan. Kapal perang Taiwan menggunakan pengeras suara untuk memerintahkan kedua kapal tersebut meninggalkan wilayah itu. Namun, salah satu kapal nelayan Tiongkok mengabaikan perintah tersebut sehingga kapal perang Taiwan mengusirnya dengan meriam air.
Video yang beredar di internet memperlihatkan kapal Yunlin Taiwan (CG-5003) mengarahkan meriam air ke sebuah kapal nelayan yang mengibarkan bendera Partai Komunis Tiongkok (PKT). Semburan air bertekanan tinggi diarahkan ke kapal tersebut.
Seorang pria yang merekam kejadian dari kapal lain di wilayah perairan itu menyebutkan waktu saat kejadian berlangsung, “Sekarang pukul 06.23.”
Video lainnya memperlihatkan kapal nelayan Tiongkok yang terkena semburan meriam air kehilangan tenaga penggerak dan berhenti di laut. Petugas Penjaga Pantai Taiwan kemudian mendekati kapal tersebut menggunakan perahu kecil untuk melakukan pemeriksaan dan menanyakan situasinya.
台灣區域安全通報
— 新‧二七部隊 軍事雜談 (New 27 Brigade)🇹🇼🇺🇦🇮🇱 (@new27brigade) October 2, 2026
一艘中國籍漁船在2日清晨侵入台灣東沙島海域,被台灣海巡署監控和廣播要求離開,但仍在該海域的中國漁船卻沒有離開遭到雲林艦(CG-5003)噴灑強力水柱
台灣海巡署派人警戒並到漁船前再次要求他們離開,否則以現行犯逮捕扣船,可以看到有一名海巡人員持槍警戒 pic.twitter.com/kVWBkq4Pl0
Dalam siaran pers yang dirilis pada pagi hari, 2 Oktober, Badan Penjaga Pantai Taiwan menyatakan bahwa sekitar pukul 11.00 pada 1 Oktober, Komando Dongsha dari Cabang Dongsha-Nansha mendeteksi sebuah kapal tak dikenal di perairan 15,5 mil laut di sebelah timur laut Pulau Dongsha, termasuk 5,5 mil laut di dalam zona perairan terlarang. Petugas segera melaporkan kejadian tersebut dan mengerahkan kapal Yunlin untuk menangani situasi.
Sekitar pukul 15.00, kapal Yunlin mendeteksi dua kapal nelayan Tiongkok, yaitu Yue Huidong Yu 75066 dan kapal bernama Jin Sha, yang memasuki wilayah perairan Taiwan di sebelah timur Pulau Dongsha, sekitar 27 mil laut dari pulau tersebut, termasuk 8 mil laut di dalam zona perairan terbatas. Kedua kapal itu diduga melakukan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal dengan menjatuhkan jangkar.
Kapal Yunlin kemudian melakukan pengusiran melalui pengeras suara sesuai dengan ketentuan hukum. Namun, kapal Jin Sha menolak mengangkat jangkarnya dan pergi.
Setelah tiga kali peringatan melalui pengeras suara tidak membuahkan hasil, kapal Yunlin terlebih dahulu menyemprotkan air ke udara selama 30 detik. Kapal tersebut kemudian secara bertahap mendekat dan mengarahkan semburan air ke ruang kemudi kapal nelayan selama 90 detik. Tindakan tersebut akhirnya memaksa kapal nelayan mengangkat jangkar dan berlayar meninggalkan wilayah perairan itu.
Badan Penjaga Pantai Taiwan menyatakan bahwa penggunaan peralatan seperti pompa air bertekanan tinggi untuk mengusir kapal Tiongkok merupakan tindakan yang sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP), karena termasuk dalam kategori senjata dengan tingkat daya mematikan rendah. Selama penyemprotan air yang berlangsung selama 90 detik, kapal Yunlin menghindari awak yang berada di geladak kapal nelayan.
Setelah kapal nelayan Tiongkok yang memasuki wilayah perairan Taiwan tersebut kehilangan tenaga penggerak, kapal Yunlin tetap berada di dekatnya untuk memberikan pengamanan. Petugas juga mengerahkan perahu kecil guna memeriksa dan memastikan keselamatan para awak kapal.
Atas dasar pertimbangan kemanusiaan, kapal Yunlin menyediakan 35 porsi makanan siap santap kepada awak kapal nelayan Tiongkok tersebut melalui perahu kecil. Kapal nelayan itu kemudian ditarik hingga keluar dari zona perairan terbatas Taiwan.
Pada pukul 06.00 tanggal 2 Oktober, kapal nelayan Tiongkok tersebut berhasil ditarik kembali dengan selamat ke wilayah Tiongkok oleh kapal kerja Tiongkok bernama Hai Yang Shi You 681.
Badan Penjaga Pantai Taiwan menegaskan bahwa pihaknya akan terus menegakkan hukum dengan mengusir kapal nelayan Tiongkok yang melintasi batas perairan secara ilegal. Badan tersebut menyatakan tetap berpegang pada prinsip melindungi wilayah laut negara sekaligus melaksanakan misi penyelamatan kemanusiaan.
Menurut Badan Penjaga Pantai Taiwan, aktivitas penangkapan ikan oleh kapal nelayan Tiongkok yang memasuki wilayah perairan Taiwan secara ilegal belakangan ini semakin meningkat.
Hasil tangkapan mereka dapat mencapai beberapa ton dalam sekali operasi, sehingga dinilai mengganggu ketertiban wilayah perairan Taiwan dan merusak ekosistem laut yang berharga. Badan tersebut mendesak otoritas Tiongkok untuk mengendalikan kapal-kapal nelayannya agar tidak kembali melakukan kegiatan penangkapan ikan di wilayah perairan Taiwan tanpa izin.
Badan Penjaga Pantai Taiwan juga menyatakan akan terus mengerahkan kapal-kapal patroli untuk menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah perairan Taiwan.
Tindakan kapal perang Taiwan yang menggunakan meriam air untuk mengusir kapal nelayan Tiongkok yang memasuki wilayah perairannya secara ilegal telah memicu perdebatan luas di tengah masyarakat.
Tokoh media senior Tang Hao membagikan ulang video tersebut di platform X. Ia menyatakan, “Taiwan perlu menunjukkan kemampuan untuk melawan agresi pada saat-saat penting agar dapat mencegah lawan melakukan tindakan lebih jauh dan mewujudkan perdamaian melalui kekuatan.” (****)
Sumber : NTDTV.com


