EtIndonesia.com Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam pada awal Oktober 2026. Situasi tidak hanya berpusat pada konfrontasi Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz, tetapi juga semakin meluas ke Yaman dan Laut Merah. Arab Saudi kini dilaporkan sedang mempertimbangkan operasi militer besar untuk merebut kembali kawasan strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb dari kelompok Houthi.
Perkembangan terbaru ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Teheran.
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, saat berbicara di fasilitas Peterbilt Motors di Denton, Texas, Trump mengatakan bahwa Iran sudah berada dalam posisi yang sangat tertekan dan menurutnya “siap menyerah”. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat dapat mengakhiri perang dengan kemenangan dalam waktu relatif singkat.
Trump sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa program nuklir Iran menjadi salah satu alasan utama Washington mengambil tindakan militer. Dalam pernyataannya mengenai situasi sebelum pecahnya perang pada akhir Februari 2026, Trump mengklaim bahwa Iran ketika itu hanya membutuhkan waktu sangat singkat untuk semakin mendekati kemampuan menghasilkan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut merupakan klaim pemerintah Trump dan harus dibedakan dari penilaian independen mengenai berapa lama sebenarnya Iran membutuhkan waktu untuk menghasilkan senjata nuklir.
Trump juga memperingatkan pemerintah Iran agar mengambil keputusan yang menurutnya “tepat dan bijaksana”. Washington sejauh ini masih menekan Teheran agar menerima kesepakatan yang dianggap dapat menjamin Iran tidak mengembangkan senjata nuklir sekaligus mengurangi ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz.
Kapal Kembali Diserang di Selat Hormuz
Ketegangan semakin tinggi pada 2 Oktober 2026, setelah badan pemantau pelayaran Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations atau UKMTO, melaporkan sebuah kapal di Selat Hormuz terkena proyektil yang belum diketahui jenis maupun asalnya.
Insiden tersebut memicu kebakaran dan menyebabkan gangguan listrik di kapal. Karena asal proyektil belum dipastikan UKMTO, tanggung jawab atas serangan itu belum dapat dinyatakan secara definitif.
Namun, serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz memang berlangsung dengan intensitas tinggi. Berdasarkan data seorang pejabat keamanan Barat yang dikutip media internasional, sejak awal Agustus Iran disebut melancarkan sekitar 30 serangan drone dan 10 serangan rudal antikapal setiap pekan terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut. Banyak serangan dilaporkan gagal mengenai sasaran, tetapi sedikitnya empat kapal disebut terkena serangan dalam periode sepuluh hari menjelang 2 Oktober.
Situasi itu membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling berbahaya bagi pelayaran internasional.
Houthi Serang Markas Koalisi di Aden
Pada saat perhatian dunia tertuju ke Hormuz, front Yaman juga kembali memanas.
Pada dini hari Jumat, 2 Oktober 2026, Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak terhadap markas koalisi di distrik Al-Buraiqa, sebelah barat Aden.
Sumber lokal melaporkan sedikitnya lima ledakan keras terdengar dan kobaran api terlihat dari kawasan yang menjadi sasaran. Namun, laporan awal menyebut serangan tersebut tidak berhasil menghantam gudang senjata ataupun pusat komando utama di kompleks militer tersebut. Informasi mengenai korban dan tingkat kerusakan belum sepenuhnya diketahui.
Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi yang semakin berbahaya antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Saudi Pertimbangkan Operasi Besar
Perkembangan paling penting datang dari Riyadh.
Reuters pada 2 Oktober 2026 melaporkan Arab Saudi tengah mempertimbangkan operasi militer untuk merebut kembali wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Menurut enam pejabat dan diplomat regional maupun Barat yang mengetahui persiapan tersebut, Riyadh sedang mempertimbangkan dua skenario.
Skenario pertama berupa operasi terbatas di sepanjang pesisir dengan sasaran utama merebut kembali kawasan di sekitar Bab el-Mandeb.
Skenario kedua jauh lebih besar. Selain operasi pesisir, serangan dapat dilakukan secara serentak di beberapa front, termasuk Al-Bayda, Marib, Taiz, dan Al-Jawf.
Jika skenario besar dipilih, lebih dari 100.000 personel pasukan Yaman dapat dikerahkan. Pasukan darat Yaman akan menjadi kekuatan utama, sedangkan Arab Saudi diperkirakan menyediakan dukungan udara dan pengawasan operasi.
Sampai sekarang, belum ada tanggal pasti kapan operasi akan dimulai. Sumber Reuters memberikan perkiraan yang berbeda, mulai dari dalam beberapa pekan hingga setelah pemilu sela Amerika Serikat pada awal November.
Amerika Serikat Tidak Turunkan Pasukan Darat
Amerika Serikat untuk sementara tidak diperkirakan ikut bertempur secara langsung.
Washington dilaporkan telah memberikan dukungan intelijen dan informasi sasaran bagi operasi Saudi. Sementara itu, Pakistan telah memberikan bantuan militer defensif dan penasihat, sedangkan dukungan dari negara-negara lain juga diarahkan terutama untuk memperkuat pertahanan Arab Saudi.
Dengan demikian, apabila serangan darat benar-benar dilaksanakan, beban utama pertempuran akan berada di tangan berbagai pasukan Yaman yang menentang Houthi.
Hal inilah yang sekaligus menjadi tantangan besar bagi Riyadh. Kelompok-kelompok anti-Houthi di Yaman selama bertahun-tahun terpecah secara politik dan militer. Kemampuan menyatukan mereka dalam satu operasi berskala besar akan sangat menentukan keberhasilan serangan.
Serangan ke Gardu Listrik Madinah Picu Kemarahan
Eskalasi semakin sensitif setelah Arab Saudi pada 1 Oktober 2026 mengumumkan hasil penyelidikan mengenai serangan terhadap gardu distribusi listrik Taibah di Madinah.
Menurut juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, sebuah drone menghantam fasilitas tersebut pada 29 September 2026 sekitar pukul 05.11 waktu setempat.
Serangan menyebabkan satu transformator tidak dapat beroperasi, tetapi tidak mengganggu keseluruhan jaringan listrik.
Fasilitas tersebut menjadi sangat sensitif karena ikut memasok listrik ke Masjid Nabawi, salah satu tempat tersuci dalam Islam.
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan penyelidikan terhadap puing-puing drone menunjukkan keterlibatan Houthi. Namun, Houthi membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut. Karena itu, tuduhan keterlibatan Houthi tetap merupakan posisi resmi koalisi Saudi yang dibantah oleh pihak Houthi.
Pakistan Berdiri di Belakang Arab Saudi
Insiden tersebut juga memperkuat dukungan Pakistan terhadap Riyadh.
Pada 29–30 September 2026, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menegaskan bahwa negaranya siap menggunakan kemampuan yang tersedia untuk membantu mempertahankan Arab Saudi apabila keamanan kerajaan tersebut terancam.
Asif bahkan mengatakan bahwa “musuh Arab Saudi adalah musuh Pakistan”. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya serangan Houthi dan setelah Saudi, Pakistan, serta Turki membangun kerangka kerja sama pertahanan bersama.
Pakistan kemudian kembali mengecam serangan terhadap fasilitas listrik di Madinah dan menyebutnya sebagai provokasi serius.
Namun situasi diplomatik menjadi lebih kompleks karena pada 2 Oktober 2026, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan negara-negara dalam pakta pertahanan tersebut akan menggelar pertemuan darurat di Riyadh untuk membahas usulan Iran mengenai kemungkinan pendekatan politik terhadap Houthi. Ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Dua Selat Strategis, Satu Krisis Besar
Perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa konflik Timur Tengah kini berpusat pada dua jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan dunia.
Di sebelah timur terdapat Selat Hormuz, tempat ketegangan Iran dan Amerika Serikat terus mengancam pelayaran serta ekspor energi Teluk.
Di sebelah barat terdapat Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah yang menjadi penghubung perdagangan antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Jika Arab Saudi benar-benar meluncurkan operasi besar untuk merebut kembali kawasan Bab el-Mandeb, perang Yaman dapat memasuki babak baru yang jauh lebih intens.
Di saat yang sama, Iran menghadapi tekanan di berbagai arah: sanksi ekonomi, ancaman serangan militer Amerika Serikat, gangguan terhadap kemampuan ekspornya, serta meningkatnya tekanan terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini memiliki hubungan dengan Teheran.
Namun satu hal tetap perlu diperhatikan: situasi ini masih bergerak sangat cepat. Rencana operasi Saudi belum menjadi keputusan final, tanggung jawab atas sejumlah serangan masih diperdebatkan, dan jalur diplomasi antara berbagai kekuatan regional masih berjalan.
Dengan Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb sama-sama berada dalam kondisi rawan, eskalasi berikutnya bukan hanya berpotensi mengubah peta konflik Timur Tengah, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap jalur pelayaran, pasokan energi, dan perdagangan global. (***)


