Filipina baru-baru ini melancarkan operasi pemberantasan terbesar tahun ini terhadap perjudian online ilegal dan menangkap lebih dari 240 warga negara asing. Sebagian besar dari mereka merupakan warga negara Tiongkok.
EtIndonesia.com Biro Imigrasi Filipina dalam pernyataan pada 3 Oktober malam mengatakan bahwa militer bersama lembaga penegak hukum lainnya melakukan penggerebekan pada Jumat (2 Oktober) di dua lokasi di Mindanao, wilayah selatan Filipina.
Di lokasi penggerebekan pertama, petugas menangkap 110 warga negara Tiongkok, dua warga negara Kamboja, dan satu warga Hong Kong.
Di lokasi kedua, pihak berwenang menangkap 131 warga negara asing yang “sebagian besar merupakan warga Tiongkok”. Sisanya adalah warga Malaysia, Indonesia, dan Myanmar.
Biro Imigrasi mengatakan bahwa dalam operasi penggerebekan tersebut, petugas menyita sejumlah besar peralatan komputer, ponsel, laptop, dan kartu SIM.
Pihak berwenang Filipina menyebut penggerebekan ini sebagai operasi pemberantasan perjudian online terbesar di Filipina pada 2026. Saat ini, pihak berwenang sedang menyelidiki apakah sebagian orang yang ditangkap terlibat dalam tindak pidana yang berkaitan dengan perdagangan manusia. Sementara itu, warga negara asing lainnya yang ditangkap akan dideportasi.
Pemerintah Filipina pada 2024 mengumumkan larangan total terhadap industri perjudian online dengan alasan bahwa kelompok kejahatan terorganisir menggunakan bisnis tersebut sebagai kedok untuk melakukan perdagangan manusia, pencucian uang, penipuan online, penculikan, pembunuhan, dan berbagai aktivitas kriminal lainnya.
Pada Februari tahun lalu, polisi Filipina membongkar sebuah pusat perjudian online yang dioperasikan oleh warga Tiongkok di Manila dan menangkap lebih dari 450 orang. Kelompok tersebut kemudian terbukti merupakan pusat penipuan elektronik, dan 137 orang yang ditangkap merupakan warga negara Tiongkok.
Pihak berwenang Filipina saat itu mengatakan bahwa penyelidikan awal menunjukkan pusat perjudian online tersebut sebenarnya digunakan untuk melakukan penipuan elektronik terhadap masyarakat Tiongkok dan India melalui penipuan taruhan olahraga dan investasi. Sebanyak lima pimpinan berkewarganegaraan Tiongkok ditangkap.
Pada November tahun lalu, Filipina menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada seorang wanita Tiongkok bernama Guo Huaping (Alice Guo) atas dakwaan perdagangan manusia. Ia menyamar sebagai warga Filipina untuk mencalonkan diri dan terpilih sebagai wali kota sebuah kota kecil. Di sana, ia mengoperasikan jaringan besar perjudian online dan penipuan yang memaksa ratusan orang melakukan penipuan telekomunikasi di bawah ancaman penyiksaan.
Sejumlah anggota parlemen dan media Filipina menyebut Guo Huaping sebagai “wali kota mata-mata PKT”. Pemerintah Beijing sendiri tetap bungkam mengenai kasus tersebut.


