EtIndonesia.com Perang Yaman kembali memasuki fase yang sangat menentukan. Setelah ketegangan meningkat selama beberapa pekan dan kelompok Houthi memperluas tekanan militernya di sejumlah front strategis, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional akhirnya mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang berada di bawah kendali Houthi.
Pada Minggu, 4 Oktober 2026, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Rashad al-Alimi, mengumumkan dimulainya operasi tersebut melalui pidato yang disiarkan televisi. Al-Alimi mengatakan pemerintah telah memasuki fase baru untuk mengembalikan kendali negara atas wilayah Yaman.
Menurut Al-Alimi, seluruh peluang untuk meredakan ketegangan dan menyelesaikan konflik melalui jalur damai telah semakin menyempit. Karena itu, angkatan bersenjata, aparat keamanan, serta berbagai formasi militer yang berada di bawah pemerintahan Yaman diperintahkan menjalankan operasi berdasarkan rencana yang telah disiapkan.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Arab Saudi, yang selama ini menjadi pendukung utama pemerintah Yaman, sekaligus menyerukan kepada mitra regional dan internasional agar mendukung upaya memulihkan lembaga-lembaga negara.
Dengan pengumuman tersebut, eskalasi di Yaman kini tidak lagi sekadar berupa ancaman ataupun bentrokan lokal. Konflik telah berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas, dengan salah satu pusat pertempuran terpenting berada di kawasan Bab el-Mandeb.
Selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu mempunyai arti strategis jauh melampaui Yaman. Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting dunia. Karena itu, perubahan kendali militer di sepanjang pesisirnya berpotensi memengaruhi keamanan perdagangan internasional, pengiriman energi, serta stabilitas kawasan Laut Merah.
Reuters sebelumnya melaporkan pada 2 Oktober 2026 bahwa Arab Saudi dan pasukan pemerintah Yaman telah mempersiapkan operasi besar tersebut selama beberapa pekan. Salah satu opsi adalah operasi terfokus untuk merebut kembali kawasan pesisir yang mengendalikan Bab el-Mandeb. Namun, terdapat pula skenario yang lebih luas berupa serangan melalui beberapa front. Kekuatan darat Yaman yang dapat dikerahkan dalam operasi itu diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 personel.
Perkembangan di lapangan kemudian bergerak sangat cepat.
Pada 5 Oktober 2026, militer Yaman mengumumkan telah melaksanakan 1.122 operasi penargetan terhadap posisi Houthi di Saada, al-Jawf, Taiz, serta kawasan pesisir barat. Sasaran yang disebutkan mencakup posisi artileri dan peluncur roket, benteng pertahanan, jalur pasokan, konsentrasi pasukan hingga pusat komando dan kendali.
Juru bicara militer Yaman, Majed Abdullah al-Nuzaili, mengatakan operasi tersebut melibatkan pesawat tempur, drone, artileri, rudal, peluncur roket serta penembak jitu. Menurut klaim pemerintah, operasi itu telah “menetralisasi” 1.747 anggota Houthi serta menghancurkan atau melumpuhkan 364 kendaraan, perlengkapan militer dan sarana logistik. Angka tersebut merupakan klaim militer Yaman dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Pertempuran darat juga berlangsung sengit.
Dalam bentrokan di Taiz dan Lahij selama periode 24 jam hingga 4 Oktober, sumber dari kedua pihak yang dikutip media melaporkan sedikitnya 73 kombatan tewas. Sebanyak 34 korban berasal dari pasukan pemerintah, sementara 39 lainnya berasal dari pihak Houthi.
Situasi menjadi semakin berbahaya karena Houthi tidak hanya bertahan di wilayah Yaman.
Kelompok tersebut juga melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi. Houthi mengklaim telah menargetkan fasilitas minyak Saudi Aramco, termasuk sasaran di Riyadh dan Khurais. Klaim mengenai serangan terhadap infrastruktur minyak tersebut muncul ketika Arab Saudi meningkatkan serangan udaranya untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman.
Dengan demikian, konflik kini berkembang dalam dua arah sekaligus: pasukan pemerintah berusaha menekan posisi Houthi di Yaman, sementara Houthi berupaya meningkatkan biaya perang bagi Riyadh dengan menyerang sasaran di wilayah Arab Saudi.
Dukungan udara Arab Saudi juga meningkat secara signifikan. Dalam perkembangan pada 5 Oktober, koalisi pimpinan Saudi dilaporkan mengerahkan sekitar 100 pesawat tempur dalam kampanye udara untuk mendukung operasi darat Yaman.
Namun satu pertanyaan penting kemudian muncul: sejauh mana Amerika Serikat akan terlibat?
Menurut laporan Axios pada 2 Oktober 2026, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman menghubungi Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 1 Oktober. Dalam pembicaraan tersebut, Riyadh kembali meminta Washington melakukan serangan udara langsung terhadap sasaran Houthi.
Untuk sementara, Amerika Serikat menolak terlibat dalam serangan langsung.
Seorang pejabat AS mengatakan Washington belum akan mengambil tindakan militer kinetik. Namun, Amerika tetap memberikan dukungan penting berupa intelijen dan data penentuan sasaran. Bahkan menurut pejabat AS yang dikutip Axios, dalam dua pekan sebelumnya militer Amerika telah memberikan informasi mengenai lebih dari 200 sasaran Houthi kepada pihak Saudi.
Sikap tersebut memperlihatkan dilema Washington. Amerika Serikat berkepentingan mencegah Houthi menguasai kawasan strategis Bab el-Mandeb, tetapi pada saat bersamaan tidak ingin terseret lebih dalam ke medan perang baru ketika ketegangan dengan Iran juga belum sepenuhnya mereda.
Sementara itu, keterlibatan negara lain perlu dilihat secara hati-hati. Reuters melaporkan bahwa Pakistan dan Turki memberikan dukungan dalam bentuk perlengkapan militer dan penasihat dalam persiapan operasi, tetapi pada tahap tersebut mereka tidak diperkirakan ikut dalam pertempuran langsung di Yaman.
Di tengah operasi militer besar ini, korban kemanusiaan terus bertambah.
Data terbaru yang dikutip Associated Press menyebut eskalasi pertempuran sejak pertengahan 2026 telah menyebabkan sedikitnya 959 orang tewas, lebih dari 4.200 orang terluka, dan lebih dari 174.000 orang mengungsi. Angka korban tersebut tidak selalu dapat memisahkan secara jelas antara kombatan dan warga sipil, sementara fasilitas kesehatan di sejumlah kawasan terdampak juga menghadapi tekanan berat.
Kini, pusat perhatian tertuju pada Bab el-Mandeb dan pesisir barat Yaman.
Bagi pemerintah Yaman dan Arab Saudi, keberhasilan merebut kembali kawasan tersebut bukan hanya persoalan memenangkan wilayah. Bab el-Mandeb adalah pintu keluar Laut Merah menuju Teluk Aden dan Samudra Hindia. Siapa pun yang mempunyai kemampuan militer di kawasan ini memiliki posisi strategis terhadap salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia.
Karena itulah pertempuran yang dimulai pada awal Oktober 2026 dapat menjadi salah satu titik balik terbesar dalam perang Yaman selama beberapa tahun terakhir.
Jika pasukan pemerintah berhasil mempertahankan momentum dan mendorong Houthi menjauh dari Bab el-Mandeb, keseimbangan kekuatan di Yaman dapat berubah secara signifikan.
Namun apabila operasi tersebut terhambat, perang justru berisiko berkembang menjadi konflik yang lebih luas—terutama apabila Houthi meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan Washington akhirnya memutuskan untuk terlibat secara langsung.
Dengan lebih dari 100.000 personel yang berpotensi dikerahkan, dukungan udara berskala besar dari Arab Saudi, bantuan intelijen Amerika Serikat, serta kemampuan rudal dan drone Houthi yang masih menjadi ancaman serius, pertempuran ini kini bukan hanya menentukan masa depan Yaman.
Pertarungan di Bab el-Mandeb juga dapat menentukan siapa yang memegang kendali atas salah satu jalur laut paling strategis di dunia. (***)


