Iran Dihantam dari Segala Arah! Menteri Minyak Mundur, Rial Ambruk, AS Klaim Ekspor Jadi Nol

EtIndonesia.com Tekanan terhadap Iran semakin meningkat di tengah perang berkepanjangan di Timur Tengah. Pada Minggu, 4 Oktober 2026, pemerintah Iran mengumumkan perubahan penting di sektor energi setelah Menteri Perminyakan Mohsen Paknejad resmi mengundurkan diri. Pada saat yang hampir bersamaan, Amerika Serikat menegaskan bahwa strategi terhadap Teheran kini tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga blokade dan tekanan ekonomi berskala besar.

Pengunduran diri Paknejad menjadi perhatian karena terjadi ketika sektor minyak Iran menghadapi tekanan berat. Konflik yang telah berlangsung selama sekitar tujuh bulan telah memukul perekonomian Iran, sementara antrean panjang kendaraan dilaporkan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.

Kantor Presiden Iran mengonfirmasi bahwa Presiden Masoud Pezeshkian telah menerima pengunduran diri Paknejad. Wakil kepala komunikasi kantor kepresidenan, Mehdi Tabatabaei, mengatakan Paknejad sebenarnya telah mengajukan pengunduran diri karena alasan pribadi sejak beberapa waktu sebelumnya. Setelah permintaannya akhirnya diterima, Hamid Bovard, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala eksekutif National Iranian Oil Company atau NIOC, ditunjuk sebagai pelaksana tugas Menteri Perminyakan.

Pergantian kepemimpinan tersebut berlangsung pada saat industri minyak—salah satu sumber pendapatan terpenting Iran—menghadapi tantangan besar akibat perang, blokade, dan sanksi Amerika Serikat. Menariknya, tidak lama sebelum kabar pengunduran dirinya diumumkan, Paknejad masih berusaha meyakinkan masyarakat bahwa pendapatan dari minyak Iran yang sebelumnya telah terjual masih masuk ke negara tersebut.

Israel Kembali Menyerang Hamas di Gaza

Di tengah perkembangan tersebut, ketegangan juga masih berlangsung di Jalur Gaza.

Pada 4 Oktober 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau IDF mengumumkan bahwa serangan udara di kawasan Khan Younis, Gaza selatan, menewaskan Muad Gamal Abu Nuseira, yang disebut Israel sebagai seorang komandan sayap militer Hamas.

Sehari sebelumnya, pada 3 Oktober, serangan Israel lainnya menewaskan Mahmoud Ibrahim Dib Alyan, yang menurut IDF merupakan anggota unit pengawasan Hamas. Sejumlah laporan Israel menyebut Alyan sebagai komandan, tetapi pernyataan IDF berbahasa Inggris menyebutnya sebagai anggota unit pengawasan. Karena itu, status dan jabatannya perlu dibedakan secara hati-hati.

Militer Israel menyatakan kedua orang tersebut menjadi sasaran untuk “menghilangkan ancaman”. IDF juga menuduh Alyan terlibat dalam upaya memajukan serangan terhadap pasukan Israel di sekitar Yellow Line serta membantu memulihkan kemampuan Hamas. Klaim tersebut berasal dari pihak militer Israel dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Seluruh Pesawat Pengebom AS Ditarik dari RAF Fairford

Perkembangan penting lainnya terjadi di Inggris. Pada 4 Oktober 2026, Pentagon mengonfirmasi bahwa seluruh pesawat pengebom Amerika Serikat yang sebelumnya dikerahkan ke RAF Fairford, Gloucestershire, telah kembali ke pangkalan masing-masing di Amerika Serikat.

RAF Fairford selama perang menjadi salah satu lokasi penting bagi operasi pesawat pengebom jarak jauh Amerika terhadap Iran. Sekitar selusin pesawat B-1B sebelumnya dilaporkan berada di pangkalan tersebut.

Pentagon menjelaskan bahwa pertimbangan keamanan operasional membuat pergerakan pesawat tidak dapat diumumkan secara langsung. Namun setelah proses pemindahan selesai, Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi bahwa seluruh pesawat pengebom yang dikerahkan ke RAF Fairford telah kembali ke Amerika Serikat.

Penarikan ini terjadi setelah penyelidikan terhadap dugaan rencana serangan teror di sekitar RAF Fairford. Sejumlah tersangka sebelumnya ditangkap oleh aparat Inggris. Salah seorang di antaranya dilaporkan memiliki kewarganegaraan ganda Inggris-Iran. Para tersangka kemudian dibebaskan dengan jaminan sambil penyelidikan berlanjut. Iran membantah keterlibatan dalam dugaan rencana tersebut.

Karena itu, penarikan pesawat pengebom tersebut belum dapat secara langsung diartikan sebagai tanda memburuknya hubungan Washington-London. Bukti yang tersedia lebih kuat menunjukkan bahwa persoalan keamanan di sekitar pangkalan menjadi salah satu faktor utama keputusan tersebut.

Washington Klaim Tekanan terhadap Iran Mulai Mencapai Puncaknya

Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menggambarkan kebijakan Washington terhadap Iran sebagai strategi berlapis yang menggabungkan kekuatan militer, blokade, dan isolasi ekonomi.

Dalam wawancara dengan The Axios Show yang dipublikasikan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, Bessent mengatakan tahap pertama adalah operasi militer. Menurut klaimnya, Amerika Serikat telah menghancurkan sebagian besar kemampuan angkatan laut dan udara Iran serta secara signifikan mengurangi kemampuan drone dan rudalnya.

Tahap berikutnya adalah apa yang disebut pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai “Iron Wall and the Blockade”, atau “Tembok Besi dan Blokade”.

Setelah tekanan militer dan blokade, Washington kemudian meningkatkan apa yang dinamakan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye untuk semakin mengisolasi Iran dari sistem ekonomi dan keuangan internasional.

Bessent bahkan mengklaim bahwa untuk pertama kalinya sejak Iran mulai memproduksi minyak, negara tersebut akan menjalani satu pekan tanpa minyak yang berada dalam pengiriman laut, sehingga tidak memperoleh pendapatan dari pengiriman tersebut. Pernyataan ini merupakan penilaian pemerintah AS dan bukan hasil audit independen terhadap seluruh ekspor minyak Iran.

Dengan demikian, strategi Washington kini terlihat semakin jelas: melemahkan kemampuan militer Iran, membatasi jalur pelayaran dan ekspor, kemudian mempersempit akses Teheran terhadap sistem keuangan global.

Rial Iran Jatuh ke Rekor Terendah

Dampak tekanan tersebut terlihat semakin nyata pada perekonomian Iran.

Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, rial Iran kembali jatuh ke rekor terendah di pasar terbuka. Nilai tukar euro untuk pertama kalinya dilaporkan menembus 3 juta rial per euro, sementara dolar AS diperdagangkan di kisaran 2,7 juta rial per dolar. Angka ini merupakan kurs pasar terbuka, bukan kurs resmi pemerintah Iran.

Sebagai perbandingan, pada awal pekan yang sama dolar masih berada di sekitar 2,45 juta rial. Artinya, hanya dalam hitungan hari, nilai dolar terhadap rial meningkat lebih dari delapan persen.

Tekanan terhadap mata uang nasional berpotensi semakin meningkatkan biaya barang impor, termasuk obat-obatan, mesin dan bahan baku industri, serta semakin menekan daya beli masyarakat Iran.

Kampanye ekonomi Washington sendiri mulai diperluas secara besar-besaran pada 24 Agustus 2026, ketika Bessent mengumumkan Operation Economic Outcast dan memperluas penggunaan sanksi sekunder terhadap pihak-pihak asing yang tetap melakukan aktivitas tertentu dengan Iran.

Tekanan kemudian terus diperluas. Pada 1 Oktober, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap sektor otomotif dan perkeretaapian Iran serta jaringan perusahaan dan pemasok asing. Washington menyatakan langkah tersebut bertujuan mengurangi sumber pendanaan yang dapat digunakan Teheran untuk mendukung aktivitas militer, program rudal, serangan siber, dan Garda Revolusi Iran.

Dengan demikian, Iran kini menghadapi tekanan dari berbagai arah sekaligus. Di dalam negeri, pemerintah harus berhadapan dengan melemahnya rial, tekanan terhadap pasokan energi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Di luar negeri, jalur perdagangan, ekspor minyak dan akses terhadap sistem keuangan internasional semakin dibatasi.

Pengunduran diri Mohsen Paknejad pada 4 Oktober menjadi perkembangan terbaru di tengah situasi tersebut.

Pertanyaan terbesar sekarang adalah apakah kombinasi operasi militer, blokade dan isolasi ekonomi yang diterapkan Washington benar-benar akan memaksa Teheran menerima kesepakatan yang diinginkan Amerika Serikat, atau justru mendorong Iran memilih bertahan dan meningkatkan tekanan balik.

Yang jelas, pertarungan Amerika Serikat dan Iran kini tidak lagi berlangsung hanya melalui rudal, drone, kapal perang dan pesawat pengebom. Medan pertempuran telah meluas ke minyak, mata uang, jalur pelayaran, perdagangan internasional dan sistem keuangan global—dan justru di medan ekonomi inilah tekanan terhadap Teheran kini semakin terasa. (***)

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine