Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus mengobarkan sentimen anti-Jepang, sementara hubungan kedua negara semakin memburuk akibat persoalan Taiwan. Data survei terbaru menunjukkan bahwa selama hampir dua tahun terakhir, perusahaan-perusahaan Jepang meninggalkan Tiongkok dengan kecepatan yang mencapai rekor tertinggi.
EtIndonesia.com Menurut laporan CNBC, perusahaan riset kredit Jepang Teikoku Databank merilis hasil survei pada Rabu (30 September). Jumlah perusahaan Jepang yang beroperasi di Tiongkok pada Juni tahun ini turun 22% dibandingkan setahun sebelumnya, menjadi 10.118 perusahaan. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 2010.
Selain itu, dalam dua tahun terakhir, sebanyak 4.137 perusahaan Jepang telah sepenuhnya meninggalkan Tiongkok, juga mencatat rekor tertinggi. Pada periode yang sama, hanya 1.221 perusahaan Jepang yang masuk ke pasar Tiongkok, angka terendah—di luar periode pandemi COVID-19.
Laporan survei tersebut menunjukkan bahwa perusahaan Jepang di Tiongkok sebelumnya sudah harus menghadapi masalah penyusutan keuntungan. Penyebabnya antara lain risiko tarif, meningkatnya biaya tenaga kerja dan manufaktur, serta lingkungan persaingan yang semakin tidak sehat.

Kini, ditambah dengan memburuknya hubungan diplomatik Jepang dan PKT, perusahaan-perusahaan Jepang terpaksa mengurangi bahkan menutup kegiatan bisnis mereka di Tiongkok. Sebagian perusahaan Jepang yang belum sepenuhnya memutus hubungan dengan Tiongkok juga telah mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap negara tersebut.
Pada November tahun lalu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan kemungkinan intervensi militer Jepang dalam konflik di Selat Taiwan. Setelah itu, PKT meningkatkan tekanan terhadap Jepang, termasuk dengan membatasi ekspor mineral penting ke Jepang dan membatasi perjalanan warga Tiongkok ke Jepang.
Sejak awal tahun ini, juga terjadi beberapa kasus warga negara Jepang yang ditahan oleh pihak Tiongkok. Hal tersebut membuat perusahaan-perusahaan Jepang semakin khawatir untuk mengirimkan staf mereka ke Tiongkok.
Saat ini, perusahaan-perusahaan Jepang secara bertahap meninggalkan Tiongkok, yang sebelumnya merupakan pasar penting bagi mereka, dan mulai mengalihkan perhatian ke pasar Amerika Serikat.
Direktur ahli di Monex Group Jepang, Jesper Koll, memperkirakan bahwa sejak awal tahun ini, keuntungan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di indeks TOPIX Jepang dari pasar Tiongkok menyumbang kurang dari 15% dari total keuntungan mereka. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 23% pada 2020.
Sementara itu, kontribusi keuntungan dari pasar Amerika Serikat meningkat dari 25% menjadi 35%.


