Pada 5 Oktober, sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa Rusia telah mulai memberlakukan pemeriksaan suhu tubuh secara wajib terhadap seluruh penumpang yang tiba di Moskow dari Irkutsk. Tiga hari sebelumnya, seorang pekerja laboratorium di Irkutsk meninggal setelah diduga terpapar virus. Pemerintah Rusia menyatakan bahwa kematiannya akibat “pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya” dan segera memberlakukan langkah-langkah isolasi untuk mencegah penyebaran penyakit.
EtIndonesia.com Sebuah video yang beredar luas di platform media sosial X menunjukkan seluruh penumpang sebuah penerbangan dari Irkutsk menuju Moskow sedang menjalani pemeriksaan suhu tubuh. Petugas mengenakan masker dan menggunakan termometer inframerah untuk memeriksa suhu setiap penumpang.
Video lainnya menunjukkan seorang petugas yang mengenakan pakaian pelindung laboratorium biologis muncul di kota Shelekhov, wilayah administratif Irkutsk, tempat dilaporkannya kasus kematian pertama yang diduga berkaitan dengan wabah pes paru.
Menurut laporan sejumlah media luar negeri, Daria Shipilova, 28 tahun, bekerja di Institut Penelitian Wabah Pes Irkutsk, Siberia. Ia diduga terpapar bakteri penyebab pes paru saat bekerja. Shipilova kemudian dibawa ke rumah sakit di Shelekhov dan meninggal dunia pada 2 Oktober dini hari, tiga hari setelah dirawat.
Pasajero ruso filma y narra como autoridades en un avión están implementando protocolos estrictos de sanidad por el brote de peste neumónica. Están utilizando cubrebocas y toman la temperatura corporal de los pasajeros con termómetros infrarrojos. Está sucediendo otra vez. 👇🏻 https://t.co/d14xHbGdLk
— MarkOnce (@MarkDeReborn11) October 5, 2026
Pemerintah Rusia menyatakan Shipilova meninggal akibat “pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya”, bukan akibat dugaan infeksi “wabah pes”. Namun, lima rumah sakit di Kota Irkutsk dan daerah sekitarnya secara bersamaan masuk dalam status pengendalian epidemi. Ratusan tenaga medis dan pasien dilarang meninggalkan fasilitas tersebut.
Bangsal tempat Shipilova menjalani perawatan juga telah diisolasi, tidak menerima pasien baru, dan untuk sementara melarang pasien yang sedang dirawat meninggalkan rumah sakit.
Pada saat yang sama, di lembaga penelitian virus tempat Shipilova bekerja, lebih dari 60 staf terjebak selama beberapa hari dan terpaksa tidur di lantai serta kursi.
Menurut laporan media pemerintah PKT, beberapa bulan sebelumnya, pada 24–27 Agustus, Latihan Darurat Gabungan Tiongkok-Rusia 2026 untuk Penanganan Wabah Penyakit Menular Lintas Batas digelar di Kota Fuyuan, Provinsi Heilongjiang, Tiongkok. Kota Fuyuan berada tepat di seberang sungai dari wilayah Rusia.
Pasajero ruso filma y narra como autoridades en un avión están implementando protocolos estrictos de sanidad por el brote de peste neumónica. Están utilizando cubrebocas y toman la temperatura corporal de los pasajeros con termómetros infrarrojos. Está sucediendo otra vez. 👇🏻 https://t.co/d14xHbGdLk
— MarkOnce (@MarkDeReborn11) October 5, 2026
Direktur Institut Penelitian Wabah Pes Irkutsk, Sergey Novikov-Foka, turut menghadiri latihan “penyakit menular lintas batas” tersebut. Latihan itu mensimulasikan penanganan penyakit menular seperti wabah pes yang masuk dari luar wilayah. Wakil Direktur Departemen Penanganan Darurat Administrasi Nasional Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Chen Lei, juga menghadiri kegiatan itu.
Namun, sekitar lima minggu kemudian, seorang staf Institut Penelitian Wabah Pes Irkutsk meninggal dunia setelah diduga terpapar virus. Saat ini, sejumlah pemerintah di berbagai negara telah secara darurat memperketat pengawasan kesehatan di perbatasan.
Secara kebetulan, buku berjudul “Biological Warfare” (Perang Biologis) yang diterbitkan di Amerika Serikat pada akhir Juli tahun ini menggambarkan sebuah insiden di laboratorium keamanan tinggi di Siberia, Rusia.
Dalam cerita tersebut, patogen pes paru hasil rekayasa genetika melarikan diri dari laboratorium dan menyebabkan keruntuhan sistem serta kekacauan sosial. Insiden keselamatan laboratorium yang tiba-tiba terjadi di Rusia ini memicu kekhawatiran dari berbagai pihak.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan pada 5 Oktober bahwa Washington sedang memantau dengan ketat laporan mengenai wabah penyakit di Rusia.
“Ada kekhawatiran bahwa infeksi tersebut mungkin setidaknya sudah menyebar di dalam Rusia,” ujarnya.
“Seperti halnya penyakit menular lainnya, jika terjadi kebocoran, penyakit tersebut dapat menyebar dengan cepat. Karena itu, kami terus mengawasi dan memantaunya secara ketat,” kata Rubio.
“Saya rasa tidak ada alasan untuk panik, tetapi ini memang sesuatu yang perlu kami perhatikan dan pantau dengan cermat,” jelasnya.
Laporan gabungan oleh wartawan Luo Tingting / Penyunting: Wenhui


