Infeksi paru-paru ini merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis ketika masuk ke paru-paru.
Seorang peneliti Rusia di sebuah laboratorium pes meninggal dunia, dan pemerintah Rusia telah merespons kejadian tersebut. Departemen Luar Negeri AS pada Selasa 6 Oktober menyerukan transparansi yang lebih besar.
Rusia belum mengonfirmasi apakah pekerja laboratorium tersebut meninggal akibat penyakit pes. Pemerintah Rusia menyebut penyebab kematiannya adalah pneumonia yang tidak diketahui asalnya. Pada 6 Oktober, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta Kremlin memberikan transparansi yang lebih besar.
Pejabat Rusia mengatakan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 6 Oktober bahwa tidak ada kasus pes di Kota Irkutsk, Siberia, tempat pekerja laboratorium tersebut meninggal dunia pekan lalu. Seorang pejabat WHO membacakan pernyataan Rusia dalam konferensi pers.
“Tidak ada kasus penyakit berbahaya ini yang tercatat di Kota Irkutsk, Federasi Rusia,” kata juru bicara WHO Christian Lindmeier dalam konferensi pers di Jenewa pada Selasa.
Apa Itu Pes Pneumonik?
Pes pneumonik merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis ketika bakteri tersebut masuk ke paru-paru, menurut lembar fakta di situs web WHO.
Pes pneumonik merupakan satu-satunya jenis penyakit pes yang dapat menular dari orang ke orang melalui droplet di udara yang mengandung bakteri.
WHO memperingatkan bahwa “setiap orang yang menderita pes pneumonik dapat menularkan penyakit tersebut kepada manusia lain melalui partikel pernapasan.”
Penyakit ini juga dapat terjadi ketika seseorang mengalami pes bubonik atau pes septikemik yang tidak diobati.
Kedua bentuk penyakit tersebut dapat disebabkan oleh gigitan kutu yang terinfeksi, kemudian menyebar ke paru-paru, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Apakah Mematikan?
Pejabat kesehatan CDC mengatakan pes pneumonik merupakan bentuk penyakit pes yang paling parah. Mereka mencatat bahwa penyakit ini dapat mulai berkembang hanya dalam waktu satu hari setelah seseorang menghirup droplet yang mengandung bakteri.
Jika tidak diobati, penyakit ini dapat berakibat fatal, menurut WHO. Sebuah laporan yang diterbitkan di U.S. National Library of Medicine pada 2020 menyebutkan bahwa tingkat kematian pada penderita pes pneumonik primer yang tidak mendapat pengobatan mendekati 100 persen.
“Namun, tingkat kesembuhan tinggi jika penyakit terdeteksi dan diobati tepat waktu (dalam waktu 24 jam setelah gejala muncul),” kata WHO di situs webnya.
Apa Perbedaannya?
Pes bubonik, pes septikemik, dan pes pneumonik semuanya disebabkan oleh Yersinia pestis. Perbedaan utamanya terletak pada bagian tubuh yang terinfeksi bakteri tersebut.
Pes bubonik terjadi ketika bakteri masuk ke kelenjar getah bening setelah seseorang digigit kutu yang terinfeksi. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening yang disebut bubo. Menurut situs Cleveland Clinic, bentuk bubonik merupakan jenis pes yang paling umum dan juga memiliki tingkat kelangsungan hidup paling tinggi.
Ketika bakteri masuk ke dalam aliran darah, kondisi tersebut dapat menyebabkan pes septikemik, yang juga dapat terjadi akibat gigitan kutu yang terinfeksi. Menurut Cleveland Clinic, pes septikemik dapat merusak jaringan tubuh dan menyebabkan kegagalan organ.
Pes pneumonik terjadi ketika bakteri menginfeksi paru-paru dan dapat menyebabkan pneumonia parah, menurut Cleveland Clinic. Bentuk ini lebih jarang dibandingkan dua bentuk lainnya.
Jenis pes lainnya, yang disebut pes faringeal, merupakan infeksi langka pada tenggorokan yang dapat terjadi ketika seseorang memakan daging yang terinfeksi bakteri pes, menurut Cleveland Clinic.
Artikel ini terbit dalam bahasa Inggris di Theepochtimes.com


