Dugaan Wabah Pes di Rusia Menyebabkan Sejumlah Kematian, Latihan Gabungan Awal dengan Tiongkok Memicu Pertanyaan

EtIndonesia.com Pada 8 Desember, Institut Penelitian Pencegahan Pes Irkutsk di Rusia dilaporkan mengalami kematian peneliti kedua. Penyebab kematiannya diduga berkaitan dengan pneumonia yang disebabkan oleh pes. Peristiwa ini memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan penyebaran wabah serta apakah telah terjadi masalah keamanan hayati di dalam lembaga penelitian tersebut.

Hal lain yang menarik perhatian adalah bahwa sebelum kejadian ini, Tiongkok dan Rusia pernah menggelar latihan bersama terkait pencegahan dan penanganan pes lintas perbatasan. Terkait wabah yang terjadi saat ini, otoritas Tiongkok hanya memberikan tanggapan singkat. 

Para analis menilai kemunculan “pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya” serta respons resmi terhadapnya memiliki kemiripan dengan merebaknya virus COVID-19 di Wuhan, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan publik.

Foto tersebut menunjukkan seorang karyawan Institut Pengendalian Wabah Irkutsk yang meninggal di rumah sakit penyakit menular di Shelekhov, Oblast Irkutsk, pada 7 Oktober 2026. (AFP via Getty Images)

Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan bahwa ia telah siap secara resmi meminta Rusia memberikan informasi mengenai kasus kematian tersebut dan akan segera berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa pes paru-paru yang berasal dari kebocoran laboratorium di Rusia merupakan bentuk pes yang sangat menular dan berpotensi menyebabkan wabah serius. Menanggapi perkembangan tersebut, sejumlah negara Asia telah mulai mengambil langkah-langkah pencegahan.

Jonathan Liu, profesor pengobatan tradisional Tiongkok di sebuah perguruan tinggi negeri di Kanada: “Yang paling dikhawatirkan sebenarnya adalah penelitian apa yang sedang mereka lakukan. Apakah telah muncul jenis bakteri pes baru yang bermutasi, atau virus lain? Apakah virus lain tersebut juga menjalani apa yang disebut eksperimen peningkatan fungsi, kemudian menghasilkan jenis baru yang agak mirip dengan COVID-19? Itulah yang paling mengkhawatirkan.”

Namun, ada satu titik waktu lain yang juga mendapat perhatian. Lebih dari sebulan lalu, Tiongkok dan Rusia mengadakan latihan darurat bersama untuk menghadapi wabah penyakit menular di Kota Fuyuan, Provinsi Heilongjiang, Tiongkok. Latihan tersebut mensimulasikan penanganan berbagai wabah, termasuk kasus pes yang masuk dari luar negeri. Kepala Institut Penelitian Pencegahan Pes Irkutsk, Sergey Barakhonov, juga turut ambil bagian dalam latihan tersebut.

Karena itu, muncul pertanyaan apakah pihak Tiongkok mungkin telah mengetahui informasi tertentu sebelumnya. Para analis menunjukkan bahwa saat ini belum dapat dibuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara kedua peristiwa tersebut. Namun, waktu pelaksanaan latihan tersebut memang layak dipertanyakan lebih lanjut.


“Pertanyaan yang sebenarnya perlu diajukan adalah: sebelum latihan tersebut, apakah Tiongkok dan Rusia sudah mengetahui adanya peningkatan kasus pes tertentu atau risiko keamanan hayati di laboratorium? Mengapa pes justru dijadikan salah satu topik utama latihan? Ujar Dr. Lin Xiaoxu, ahli virologi Amerika Serikat dan mantan kepala laboratorium virologi Institut Penelitian Angkatan Darat AS. 

“Di sisi lain, di perbatasan Tiongkok-Rusia memang terdapat wilayah endemik alami serta pemantauan pes musiman. Karena itu, sangat mungkin latihan tersebut hanya disusun berdasarkan risiko yang memang sudah ada. Jadi, pada tahap ini, kedua kemungkinan tersebut masih belum dapat dikesampingkan,” katanya. 

Meskipun otoritas Rusia menyatakan bahwa situasi telah terkendali, pertanyaan dari publik belum hilang. Terutama karena Kementerian Luar Negeri PKT hanya memberikan tanggapan singkat mengenai peristiwa tersebut. 

Hal ini semakin menarik perhatian terhadap seberapa banyak informasi mengenai wabah yang sebenarnya dibagikan antara Tiongkok dan Rusia, serta apakah masalah keamanan laboratorium turut terlibat. Peristiwa ini juga mengingatkan pada pandemi COVID-19, yang menurut berbagai dugaan pernah dikaitkan dengan laboratorium di Wuhan.

Lin Xiaoxu menunjukkan bahwa hal yang benar-benar perlu diwaspadai bukan semata-mata apakah telah terjadi kebocoran laboratorium, melainkan bagaimana negara-negara otoriter seperti Tiongkok menangani krisis kesehatan masyarakat. Kurangnya transparansi informasi dapat meningkatkan risiko yang dihadapi dunia.


“Cara tradisional Partai Komunis Tiongkok dalam menangani krisis kesehatan masyarakat sering kali adalah mengendalikan informasi dan emosi masyarakat terlebih dahulu, kemudian menentukan sejauh mana informasi akan dipublikasikan,” katanya. 

“Rusia juga memiliki kemiripan dalam hal ini. Karena itu, peristiwa ini mengingatkan pada COVID-19, bukan karena telah terbukti bahwa kembali terjadi kebocoran laboratorium, melainkan karena sekali lagi memperlihatkan masalah struktural dalam sistem otoriter ketika menghadapi peristiwa biologis berisiko tinggi: kurangnya transparansi, pengendalian informasi secara terpusat, serta prioritas terhadap keamanan negara dibandingkan keterbukaan informasi kesehatan masyarakat,” ujarnya. 

NTD News — laporan reporter Chen Yue dan Chang Chun.

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berartiAnnie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiriWalker LarsonSi...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine